OPINI—Pada era digital saat ini, media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari generasi muda muslim. Mereka biasa menggunakan media sosial untuk mencari informasi, membangun relasi, hingga mengekspresikan diri. Rata-rata waktu yang dihabiskan generasi muda di media sosial adalah antara 2-4 jam per hari dan sebagian mereka menghabiskan waktu lebih dari itu.
Sebuah survei di Lampung, misalnya, menemukan sekitar 21,36% responden menghabiskan waktu 5–8 jam per hari, dan 15,91% bahkan lebih dari 8 jam. Saat menghabiskan waktu di media sosial ada berbagai konten berbahaya yang mengancam generasi muda seperti pornografi, judol, pinjol, cyberbullying, dan sebagainya.
Candu Digital Media Sosial
Paparan screen time tidak ubahnya candu digital, sebab berpotensi membuat pengguna enggan lepas dari gawai bagai orang kecanduan narkoba. Indonesia sendiri sudah mencetak rekor dunia dalam hal penggunaan ponsel untuk mengakses internet.
Laporan Digital 2025 Global Overview mencatat sebanyak 98,7% penduduk Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk online, melampaui Filipina dan Afrika Selatan yang mencatat 98,5%. Rata-rata waktu online harian masyarakat Indonesia juga tinggi, mencapai 7 jam 22 menit. Angka ini bahkan lebih tinggi dari durasi rata-rata global, yakni 6 jam 38 menit.
Algoritma adiktif adalah sistem (biasanya di media sosial seperti Tiktok) yang dirancang dengan cerdas untuk terus menyajikan konten yang sangat relevan dan personal bagi pengguna, memanfaatkan psikologi manusia (seperti pelepasan dopamin melalui notifikasi atau konten tak terduga) sehingga membuat pengguna betah berlama-lama, sulit berhenti, dan kembali lagi yang menciptakan kebiasaan atau kecanduan digital.
Algoritma memperkuat nilai sekuler dengan memasukkan pengguna dalam lingkaran konten: individualistik, materialistik, relativistik,liberal,konsumtif. Karena konten yang bertentangan dengan ini jarang muncul, pengguna menganggap nilai-nilai tersebut sebagai “normal” dan “universal”.
Yang membuat platform berbeda dari media konvensional adalah sifatnya yang personal dan dinamis. Ia mempelajari kebiasaan kita, mengenali minat kita, dan menyesuaikan isi layar sesuai karakter kita. Hal inilah yang membuat platform terasa “intim”, seolah-olah kita dihargai dan dilayani. Tapi kedekatan ini punya sisi gelap: preferensi nilai kita bisa ikut dibentuk oleh mesin, menjadi lebih sekuler.
Di belakang semua kenyamanan itu ada algoritma—sebuah sistem yang ditanam di dalam platform, bertugas memilih konten paling menarik bagi kita. Tujuannya bukan untuk membuat kita menjadi pribadi lebih baik, tetapi membuat kita tinggal lebih lama di platform.
Logikanya sederhana: semakin lama kita online, semakin banyak iklan yang bisa kita lihat, dan semakin besar pemasukan platform dan paparan sekulerisme semakin kuat.
Dampaknya, konten yang ekstrem lebih sering muncul, konten edukatif sering tenggelam, dan pandangan islam kita terpapar pada hal-hal yang “viral”, bukan yang benar. Cara kerja ini membentuk moral manusia, algoritma telah menjadi “guru nilai” baru yang punya pengaruh besar. Tanpa terasa, generasi kita telah dididik dengan nilai, cara pandang bahkan gagasan politik yang lahir dari sekulerisme lewat mekanisme platform.
Sekularisme Liberalisme Merusak Identitas Pemuda Muslim
Paparan masif media sosial di kalangan generasi muda bukan hanya membentuk cara berpikir, bersikap, dan gaya hidup mereka, tetapi juga memengaruhi cara mereka memahami agama. Pola belajar agama yang dulu bertumpu pada guru dan majelis ilmu, kini bergeser pada algoritma media sosial yang tentunya tidak bebas nilai.
Hari ini kita hidup dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, sistem yang mencabut potensi generasi muda dari fitrahnya. Nilai sekuler mengajarkan agama itu urusan pribadi.
Di medsos berseliweran konten yang menyatakan bahwa kebenaran itu relatif. Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan pemikir Barat, Charles Kimball, melalui bukunya, When Religion Becomes Evil, absolute truth claim, sebagai ciri pertama dari agama jahat (evil).
Padahal dalam Islam, kebenaran itu bersifat tetap, tidak relatif, sebagaimana yang diyakini oleh orang Barat, sebagai akibat dari penggunaan metode ilmiah.
Oleh karena itu, apa saja yang datang dari Allah bersifat baku, tetap, dan tidak berubah. Allah Swt. berfirman:
“Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Karena itu janganlah sekali-kali kalian menjadi orang yang ragu (terhadap kebenaran yang datang dari Tuhanmu)” (QS Al-Baqarah [2]: 147).
Medsos juga memberikan standar rusak: yang penting viral, bukan benar. Generasi muda dijejali beragam konten tiap hari mulai dari gaya hidup hedonistik, membandingkan dengan orang lain. Akibatnya generasi muda mudah overthinking; haus validasi, tapi minim refleksi diri; banyak berpikir, tapi salah arah; dan sebagainya.
Data menunjukkan bahwa generasi muda rentan terhadap stres dari perbandingan sosial di platform seperti Instagram dan TikTok, serta mengalami FOMO (fear of missing out) atau takut tertinggal dari lingkungannya.
Banyak remaja dan orang tua tidak lagi nyambung dalam pembahasan nilai-nilai moral dan agama, bahkan anak lebih percaya konten influencer ketimbang nasihat ulama. Belum lagi muncul tren self–love, no-label relationships, ataupun freedom of expression. Pada saat yang sama, nilai-nilai Islam dianggap mengekang dan ketinggalan zaman.
Maraknya fenomena mental health (atau illness) dan “pengembara identitas” juga membuat kaum muda mencari makna hidup dalam dunia maya, bukan dalam hubungan spiritual dengan Allah Taala. Ditambah dominasi algoritma yang mana konten hiburan dan liberal terus diangkat karena dianggap lebih aman bagi iklim kapitalisme, sedangkan konten Islam sering kali disembunyikan (shadow banned).
Yang memprihatinkan, berdasarkan Data Statistik Fintech Lending Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2023, mayoritas nasabah pinjol adalah generasi muda, terutama dari kelompok usia 19–34 tahun.
Mereka tercatat sebagai kelompok usia penerima terbesar kredit pinjol, yakni 54,06% atau mencapai Rp27,1 triliun. Menurut survei, 58% generasi muda lebih sering menggunakan pinjol untuk gaya hidup dan hiburan.
Sistem sekuler kapitalisme mempromosikan budaya konsumerisme melalui medsos, menjadikan generasi muda muslim membuang standar syariat. Mereka terjerat riba pinjol demi mengejar kesenangan dan merusak karakter kepribadiannya sebagai muslim.
Generasi Muslim Pilar Perubahan
Lalu , bagaimana menjadikan generasi muslim sebagai pilar penting dalam perubahan? Rasulullah telah memberi contoh dalam perjalanan dakwah beliau membangun kehidupan islam dengan mendirikan daulah islam di Madinah. Rasulullah berhasil membina mereka generasi muda kala itu di Mekkah .
Beliau menanamkan akidah sebagai visi hidup (qiyadah Fikriyah) dan syariat Islam sebagai solusi atas persoalan kehidupan. Setiap dari mereka memiliki iman kuat dan peran yang penting dalam mengemban risalah perjuangan dakwah dan membangun peradaban Islam.
Kunci keberhasilan Rasulullah Saw adalah dengan meleburkan generasi muda tersebut dalam jemaah (hizbullah). Di tengah tantangan sistem jahiliyah yang merusak akidah dan nilai-nilai kehidupan. Generasi muda melebur dalam pembinaan intensif dan perjuangan. Rasulullah saw menjadi teman dan memberi teladan dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam dakwah.
Hari ini, untuk menguatkan identitas generasi muslim dan mengaktifkan aktivisme mereka agar berkontribusi pada revolusi islam, maka dibutuhkan penanaman ideologi islam dalam pembinaan dan terlibat dalam dakwah politik bersama partai politik islam ideologis.
Pembinaan seperti ini harus dilakukan di dunia nyata, karena yang dibina adalah pola pikir dan pola sikapnya (syakhshiyah) agar siap mengorbankan potensi terbesarnya untuk kembalinya sistem Islam.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran ayat 104)
Sifat “muflihun” dalam ayat ini merupakan pujian bagi yang muda dan yang tua, yang bersungguh-sungguh menjalankan peran politik perubahan. Ayat ini juga mengandung tuntutan untuk membentuk partai politik Islam serta tuntutan bergabungnya setiap muslim dalam partai ini untuk menjalankan amar makruf nahi munkar. Besarnya jumlah generasi muda muslim menaikkan harapan perubahan islam dan kemenangan semakin dekat. Wa Allahu A’lam. (*)
Penulis:
Riskiani, S.Pd
(Pengajar)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.













