OPINI—Istilah Silicon Valley ini mungkin asing di telinga masyarakat umum. Namun ketika mereka digambarkan apa tujuannya. Serta merta akan membayangkan kemahsyuran negaranya. Silicon Valley pertama kali digunakan oleh jurnalis Don Loefler dalam artikel berjudul ‘Silicon Valley USA’ yang diterbitkan di koran Electronic News pada 11 Januari 1971.

Tapi sejarahnya sudah dimulai sejak satu abad sebelumnya. Silicon Valley merupakan sebutan untuk wilayah di Santa Clara Valley yang berada di bagian selatan Bay Area, San Fransisco. Pada akhir abad ke-19, San Fransisco menjadi pusat dari industri telegraf dan radio. San José, salah satu kota besar di Silicon Valley, kemudian menjadi tempat didirikannya salah satu stasiun radio pertama di Amerika Serikat.

Dan kini Indonesia akan berkiblat mengikuti proyek yang ada di Amerika Serikat. Wujud pertama kali akan diprediksikan berupa megaproyek Bukit Algoritma di Sukabumi. Pengamat properti Ali Tranghanda dari Indonesia Property Watch menilai kehadiran kawasan ekonomi khusus (KEK) Bukit Algoritma, akan mendorong pertumbuhan pasar properti di kawasan Sukabumi dan sekitarnya secara jangka panjang.

“Kalau untuk jangka panjang pastinya berprospek tapi membutuhkan persiapan yang harus matang,” ujar Ali seperti dilansir dari Antara, Minggu (11/4/2021) www.kabar24.bisnis.com.

Budiman yang merupakan Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO mengatakan, impiannya untuk bisa melihat Indonesia yang punya banyak kawasan pusat pengembangan inovasi dan teknologi bakal segera jadi kenyataan. Lebih lanjut Budiman menjelaskan, Bukit Algoritma yang segera diwujudkan itu ke depannya diharapkan menjadi pusat research and development serta pengembangan sumber daya manusia Indonesia, utamanya generasi muda.

Pada tiga tahun pertama sebagai tahapan awal, nilai total proyek diperkirakan akan mencapai angka 1 miliar euro atau setara Rp18 triliun. Penggunaannya meliputi upaya peningkatan kualitas ekonomi 4.0, peningkatan pendidikan dan penciptaan pusat riset dan development untuk menampung ide anak bangsa terbaik demi Indonesia bangkit, serta peningkatan sektor pariwisata.

Dalam hal membangun suatu proyek tentunya lebih awal dilihat dari visi apa yang ingin dicapai. Namun lain halnya apa yang menjadi prediis megaproyek Bukit Algoritma ini. Dibangun hanya dalam visi proyek prestisius yang mana hanya mengedepankan kemegahan untuk membawa nama baik negara yang katanya terdepan dalam teknologi digital. Tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kemampuan negara dalam hal tersebut. Kemampuan dalam hal ilmuan, riset, dana , dan lebih banyak lagi pertimbangan lainnya.

Jika membahas dalam hal ilmuan kecil saja, sudah banyak penemuan-penemuan anak dalam negri yang dihasilkan namun itu hanya diabaikan. Malahan justru hal tersebut mampu membangun kemandirian Negara. Percaya sdm dalam negri saja tidak mampu dilihat secara gamblang. Lain halnya jika transparan dalam hal dana. Bukankah sampai detik ini Indonesia memikul beban utang hingga 8.500 Triliun itu sudah ditambah utang BUMN. Namun selama ini hanya berpusat pada pembayaran bunga. Belom pada pokok utangnya.

Ketika berbicara masa kejayaan negara sebelumnya dapat dijadikan pelajaran besar kata lain pelajaran emas. Di awal era pertumbuhan Islam saja, dunia pengetahuan diwarnai oleh munculnya ilmuan-ilmuan yang sampai sekarang penemuannya masih digunakan dan menjadi rujukan sebagai dasar dari perkembangan pengetahuan modern, salah satunya adalah bidang teknologi.

Sebut saja salah satunya adalah Abu al-‘Iz Ibn Isma’il ibn al-Razaz al-Jazari adalah seorang ilmuwan dari Al-Jazira, Mesopotamia, yang hidup pada abad pertengahan. Ia menulis buku Pengetahuan Ilmu Mekanik tahun 1206, dimana ia menjelaskan lima puluh peralatan mekanik berikut instruksi tentang bagaimana cara merakitnya.

Al-Jazari merupakan seorang tokoh besar di bidang mekanik dan industri, mendapat julukan sebagai bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan sebagainya.

Abad kegemilangan Islam justru memang muncul cendikiawan-cendekiawan muslim karena berimbas dari aturannya. Penjagaan bagi penuntut ilmu dari segi kebebasan dan kemudahan mereka dalam berilmu hingga berimplikasi menjadi SDM yang dibanggakan negara karena mampu membuat Negara mandiri dalam berbagai hal. (*)

Wallahua’lam bi sawab

Penulis: Sri Rahmayani, S.Kom (Pemerhati Sosial)