OPINI – Virus corona yang ukurannya hanya sekitar 500 mikrometer, ternyata mampu meluluhlantakkan dunia, bahkan menyebabkan resesi di berbagai negara. Makhluk Tuhan yang sangat kecil tapi memberikan pengaruh yang amat besar. Tak terkecuali di negeri kita tercinta, Indonesia.

Pandemi di Indonesia kian menjadi-jadi. Presiden Joko Widodo meminta masyarakat untuk berdzikir dan bertaubat. Beliau juga mengingatkan untuk memperbanyak sedekah, sebab banyak orang yang keadaannya sulit di tengah pandemi.

Hal ini disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada Muktamar IV PP Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) di Istana Bogor pada 26 September 2020 (merdeka.com, 26/9/2020).

Beliau juga berharap semoga corona segera hilang dari bumi Indonesia. Jokowi berdoa agar bangsa dan negara diberikan keselamatan.

“Semoga Allah Subhana Wa Ta’ala segera mengangkat wabah Covid dari bumi Indonesia, semoga Allah selalu melindungi dan memberikan keselamatan kepada rakyat bangsa dan negara kita,” tuturnya (merdeka.com, 26/9/2020).

Seruan Presiden untuk beristighfar dan bertaubat kepada Allah tentunya kita apresiasi. Tapi apakah bertobat tanpa diiringi dengan ketaatan pada syariat bisa atasi wabah?

Jumlah kasus positif covid di Indonesia terus mengalami peningkatan. Penambahan kasus perhari mencapai 4000 kasus. Total korban meninggal sudah mencapai lebih dari 11.000 kasus. Belum ada tanda-tanda penurunan.

Di sisi lain, setelah kebijakan new normal diterapkan, ekonomi tak kunjung membaik. Bahkan memasuki Oktober Indonesia fiks resesi (www.cnbcindonesia.com, 3/10/20). Peningkatan pengangguran semakin tak dapat dihindari.

Melihat kasus covid yang terus melonjak, Presiden akhirnya menunjuk Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menangani virus.

Penunjukan tersebut menuai kontroversi karena sudah ada kepala daerah dan Komite Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi Nasional (Komite PC-PEN). Tidak sedikit yang mempertanyakan peran Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi tersebut dalam mengatasi wabah pandemik.

Menurut nasional.kompas.com (02/10/20), evaluasi dua pekan dipegang Luhut, kasus aktif covid-19 bertambah, kematian naik di lima provinsi.

Setelah berbagai upaya dilakukan, namun tak kunjung memberikan hasil memuaskan terhadap pengurangan kasus covid, maka hendaknya pemerintah memeriksa kembali, sudah tepatkah ikhtiar yang dilakukan? Karena sekadar taubat tanpa diiringi ikhtiar yang sesuai syariat, bagaimana akan mendatangkan pertolongan Allah?

Taubat yang Hakiki

Islam memang mengajarkan bertaubat untuk mengatasi wabah. Taubat yang dilakukan ini adalah bagian dari ketaatan total. Maka hendaknya bukan taubat saja yang dijalankan, namun seluruh perintah syariat.

Allah SWT berfirman, “Dan musibah apa saja yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (Asy Syura: 30)

Ajakan untuk bertobat dan beristighfar yang disampaikan petinggi negeri terkesan basi-basi belaka jika ia sendiri selaku pemimpin tertinggi tak bersegera untuk menjalankan syariat-Nya secara totalitas.

Silih berganti musibah yang datang, wabah corona makin meradang, seharusnya menjadi peringatan bagi seluruh pejabat negara untuk kembali pada hukum-hukum-Nya. Mengabaikan syariat-Nya hanya akan menuai azab.

Teladan Khalifah Atasi Krisis dan Wabah

Sebagaimana disadur dari muslimahnews.com (02/10/20), Khalifah Umar ketika krisis, memberi contoh terbaik yakni dengan berhemat dan bergaya hidup sederhana, bahkan lebih kekurangan dari masyarakatnya. Dengan itu beliau bisa merasakan bagaimana penderitaan yang dialami rakyatnya.

Beliau juga langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan. Diriwayatkan oleh Aslam terkait bagaimana beliau betul-betul mengurus, mengelola, dan mencukupi rakyatnya yang terkena dampak krisis.

Kerja berat dilakukan dan dilalui Khalifah untuk mengurus rakyatnya sebagai bentuk tanggungjawabnya melayani urusan rakyatnya. Beliau membagi tugas kepada perangkat negara di bawah beliau hingga level pekerja dan bersama-sama sigap membantu, tidak sekadar perintah sana – perintah sini. Beliau langsung turun tangan dan mengomando.

Khalifah Umar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT meminta pertolongan-Nya. Khalifah juga langsung memimpin tobat nasuha karena bencana atau krisis yang terjadi bisa jadi akibat kesalahan-kesalahan dan dosa yang dilakukan Khalifah serta masyarakatnya. Khalifah segera memenuhi kebutuhan makanan rakyatnya.

Jika tidak bisa mendatangi Khalifah untuk meminta makanan, makanan akan diantarkan ke rumahnya. Hal itu terjadi selama beberapa bulan sepanjang masa bencana. Khalifah Umar juga menunda pungutan zakat pada masa krisis dan bencana hingga bencana berakhir.

Terakhir, perkataan Khalifah Umar yang begitu menohok sekali. Saat ada suatu daerah yang nyaris hancur, padahal daerah itu sudah dibangun dan berkembang. Umar lalu ditanya, “Bagaimana bisa ada kampung yang hancur, padahal sudah dibangun kokoh dan berkembang?” Umar menjawab, “Jika para pembuat dosa lebih hebat dari pada orang-orang yang baik di daerah itu, kemudian pemimpin dan tokoh masyarakatnya adalah orang-orang munafik.”

Sungguh jika pemimpin negara ini mengajak untuk bertaubat pada Allah maka hendaklah disertakan dengan ketaatan total terhadap syariatNya, yakni dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah yang hanya bisa terwujud dalam bingkai khilafah. (*)