Warga Bersemangat Tanam Mangrove, Wujud Nyata Perbaikan Hilir Sungai Saddang
KAPABEL dan Kelompok Warga sukses tanam 25.000 Bibit Mangrove di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. (Mediasulsel.com/Andre Mardian)

PINRANG—Empat hari Kelompok Warga Binaan Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan (KAPABEL), bersemangat menanam bibit 25.000 bibit mangrove, di hilir Sungai Saddang. Tepatnya, di 3 desa yakni Desa Paria, Desa Bababinanga (Kec. Duampanua) dan Desa Salipolo (Kec. Cempa), Kab. Pinrang.

Kegiatan yang berlangsung sejak Kamis pekan lalu itu, dinilai sukses menambah motivasi warga, yang terdampak langsung dengan keberadaan bibit mangrove, karena diyakini dapat memberi harapan bagi warga yang sebagian besar memiliki tambak.

“Kami bersemangat untuk menanam mangrove karena lokasi penanaman ini di kampung kami, agar tidak terjadi abrasi laut lagi. Kami juga sering berpartisipasi dalam kegiatan seperti ini karena kami tahu bukan hanya dikampung kami yang sering terjadi abrasi, baik di Pinrang maupun Luar Pinrang. Mari kita bersama-sama berjuang untuk kelestarian laut” ucap Rahmat salah satu anggota KPPI Binanga Saddang Desa Bababinanga.

KAPABEL dan Kelompok Peduli Perubahan Iklim (KPPI) Pinrang, Warga Desa, puluhan komunitas pemuda dan pegiat lingkungan, serta instansi-instansi pemerintahan bersama-sama menginisiasi penanaman 25.000 pohon mangrove sepanjang 1,2 km di Kawasan Pesisir Daerah Aliran Sungai (DAS) Saddang Kabupaten Pinrang.

Kegiatan penanaman ini diikuti Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kab. Pinrang Drs. H. Abdul Rahman Mahmud, M.Si, Perwakilan BPBD Pinrang, DKP Pinrang dan instansi-instansi terkait lainnya.

“Mari kita sama-sama memaknai kegiatan ini sebagai suatu gerakan kemanusiaan, gerakan sosial, gerakan ekonomi dan seluruh gerakan yang ada, karena ini adalah awal yang sangat baik untuk kita semua untuk melihat sesuatu yang Insya Allah akan memberikan dampak yang besar terhadap perubahan yang ada di tengah masyarakat kita,” kata Abd. Rahman Mahmud.

Direktur KAPABEL Muh. Ichwan K menerangkan bahwa program yang bertemakan Adaptasi Masyakarat Ekosistem DAS Saddang Berbasis Pangan Hutan, telah dicanangkan sejak tahun 2016 melalui Call of Proposal kepada Adaptation Fund (AF).

Lanjutnya, usulan program KAPABEL telah lolos dan memenuhi kriteria di tahun 2019 dan dapat dijalankan pada Tahun 2020 melalui kerjasama dengan Kemitraan (The Partnership for Governance Reform) selaku mitra resmi AF yang telah terakreditasi di Indonesia.

Program ini juga dijalankan di tiga Kabupaten lainnya untuk sektor Hulu DAS Saddang yakni, Kab. Enrekang, Tana Toraja dan Toraja Utara.

“Apabila program ini telah selesai bulan April tahun 2022, KPPI sebagai kolompok yang dibentuk dan didampingi KAPABEL yang akan melanjutkan asset-aset program, termasuk pengetahuan yang telah ditinggalkan oleh program agar dapat dilanjutkan secara mandiri,” ujar Ichwan.

Pendampingan yang dilakukan KAPABEL Wilayah Hilir DAS, Kabupaten Pinrang tak hanya berfokus pada persoalan mangrove saja, melainkan nantinya akan membentuk industri rumah tangga sebagai upaya peningkatan perekonomian masyarakat khususnya perempuan dan kelompok rentan.

M. Gusti Zainal selaku Koordinator Program KAPABEL menerangkan bahwa dari empat komponen program yang ada, bertujuan dengan adanya Rehabilitasi Hutan dan Lahan baik Hulu maupun Hilir DAS Saddang.

Selain itu, penanaman mangrove ini juga sekaligus memperingati hari besar maritim nasional yang bertepatan pada tanggal Kamis (23/9/2021).

Presiden Jokowi pun menanam mangrove di Desa Tritih, Kab. Cilacap, Jawah Tengah, dipantau dari Kanal YouTube Sekretariat Presiden dari Jakarta (23/9/2021).

Mangrove yang mampu menahan gelombang dan mencegah abrasi laut pun menjadi solusi dalam perbaikan lingkungan. Tak hanya itu, mangrove juga dapat dimanfaatkan menjadi Kawasan pariwisata, sehingga warga pesisir DAS Saddang yang aktifitasnya bergantung dari hasil laut atau tambak pun meningkat.

Menurut Manager Program Wilayah Hilir KAPABEL Muh. Faisal M menjelaskan, persiapan kegiatan ini terdiri dari beberapa tahapan, dimulai dari pelatihan budidaya mangrove, pembibitan yang dilakukan oleh KPPI dengan dampingan KAPABEL.

Bibit tersebut telah dipersiapkan sejak bulan Mei hingga September tahun 2021 dan ditanam di lokasi penanaman mangrove.

Kemudian, lokasi penanaman mangrove berfokus pada sempadan pantai dan sempadan sungai saddang yang telah mendapat dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan terkait pemanfaatan Kawasan untuk tujuan perlindungan pantai dan mitigasi bencana.

Selain itu, KAPABEL juga membuat rancangan teknis kegiatan berupa Standar Operasional Prosedur (SOP) penanaman sehingga penanaman dapat dipastikan terlaksana dengan baik.

“Kegiatan ini bukan hanya sampai disini, melainkan tiap bulannya akan ada monitoring dan penyulaman yang dilakukan KAPABEL bersama KPPI untuk menghindari adanya angka kematian bibit yang telah ditanam, karena cuaca disini tidak dapat diprediksi apalagi kondisi pasang-surut juga berubah-ubah ditambah pergeseran sedimentasi oleh sungai saddang sehingga kami telah memikirkan antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutup Faisal.(4dre)