Beranda » News » Warga Boyolali Laporkan Prabowo ke Polda Metro Jaya
Warga Boyolali Laporkan Prabowo ke Polda Metro Jaya
News

Warga Boyolali Laporkan Prabowo ke Polda Metro Jaya

JAKARTA — Dakun merasa sangat tersinggung dengan pidato ketua umum Gerindra itu di Boyolali, Jawa Tengah Selasa lalu (30/10). Dalam pidato tersebut, Prabowo secara bercanda menyebut warga Boyolali miskin sehingga tidak bisa masuk hotel berbintang.

“Kami merasa tersinggung dengan ucapan Pak Prabowo, bahwa masyarakat Boyolali, kalau masuk mal atau hotel itu diusir. Karena tampangnya, tampang Boyolali. Sekalipun kesannya itu menyinggung orang miskin, ya jangan begitu. Karena masyarakat Boyolali atau Jawa kan sensitif,” jelas Dakun, warga Boyolali yang kini menetap di Jakarta, usai melapor di PKT Polda Metro Jaya, Jumat (2/11) malam.

Dakun mengatakan tidak hadir secara langsung saat Prabowo pidato. Ia baru mengetahui pidato tersebut dari sebuah akun di YouTube dengan durasi video sekitar dua menit pada Jumat (2/11) siang. Ia juga mengingatkan Prabowo tentang keberadaan tokoh-tokoh dan pahlawan nasional kelahiran Boyolali, antara lain Profesor Soeharso.

Aktivis Cyber Indonesia, Muannas Alaidid, yang ikut mendampingi Dakun, mengatakan ada sejumlah barang bukti yang dilampirkan dalam pelaporan Prabowo Subianto. Antara lain video dari Youtube dan beberapa artikel media online yang mengutip pidato Prabowo. Pelapor juga menghadirkan dua orang saksi dalam laporan ini.

Prabowo dilaporkan dengan Pasal 4 junto Pasal 16 UU No 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi Ras dan Etnis, dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000.

“Jadi kata-kata itu yang akan diuji apakah itu berkonotasi misalnya menyinggung perasaan orang lain. Sebagaimana pasal yang kita laporkan soal penghapusan diskriminasi Ras dan Etnis,” jelas Muannas yang juga calon legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia.

Muannas menambahkan Prabowo juga tidak perlu meniru politikus dunia lainnya yang rasis seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam kontestasi pemilihan presiden 2019.

“Kalau sampai hal negatifnya diadopsi kan tidak benar juga. Karena semangat kita kan semangat persatuan. Kita ini jangan sampai hajatan lima tahunan, kemudian membenturkan antara agama, etnis tertentu,” imbuhnya.

Selain Trump, tokoh dunia yang juga dikenal kerap mengeluarkan pernyataan rasis lainnya adalah Jair Bolsonaro yang baru memenangkan pemilihan umum presiden Brasil pada Minggu (28/10). Pengagum Trump ini banyak ditentang sejumlah pihak karena ucapan-ucapan kontroversialnya di masa lalu yang merendahkan kulit hitam, perempuan, kelompok gay, dan mendukung penyiksaan dan kediktatoran militer di Brazil dari pada 1964-1985.

Tanggapan Kubu Prabowo

Belum ada tanggapan dari kubu Prabowo terkait pelaporan ini. Namun, akun resmi Gerindra menulis tidak adil jika isi pidato Prabowo dinilai dari video berdurasi dua menit tersebut.

“Dirangkum dan dicermati isi 80 menit pidato itu. Tidak adil menilai isi 80 menit pidato hanya dari rangkuman satu atau dua menit video saja,” tulis akun Partai Gerindra.

Sementara wakil ketua tim kampanye Jokowi, Abdul Kadir Karding, menilai pernyataan itu sepatutnya tidak disampaikan Prabowo. “Idiom soal kaya-miskin, penghinaan, dipakai dalam berkampanye dan itu bisa dianggap sebagai kampanye yang mengarah kepada unsur-unsur yang sifatnya rasial atau rasis. Pola-pola kampanye ini sudah jelas meniru kampanye-kampanye seperti yang dilakukan Trump dan tidak perlu dilakukan. Saya kira sebagai pemimpin ada banyak kata dan kalimat yang baik, yang memberi optimisme, kegairahan.. tidak selalu mengkotak-kotakkan orang berdasarkan suku, agama, daerah dan sebagainya,” jelasnya.

Petikan Pidato Prabowo di Boyolali

Berikut petikan pidato Prabowo, yang disampaikan ketika meresmikan Posko Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno di Boyolali, yang ketika itu juga dihadiri oleh Ketua Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan dan mantan Pangkostrad yang juga mantan gubernur Jawa Tengah Letjen. Purn. Bibit Waluyo.

“Ekonomi kita tidak di tangan bangsa kita sendiri. Saya memberi usia saya untuk bangsa ini. Saya memberi jiwa saya dan raga saya untuk bangsa ini. Tapi begitu saya lihat keliling Jakarta, saya melihat gedung-gedung mewah. Gedung-gedung menjulang tinggi. Hotel-hotel mewah. Sebut saja hotel mana, di dunia yang paling mahal, ada di Jakarta. Ada Ritz Carlton, ada apa itu, Waldorf Astoria, namanya saja kalian nggak bisa sebut. Ada Saint Regis, dan macam-macam itu semua. Tapi saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul?Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Karena tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang Boyolali ini. Betul?”