PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sulsel Dipanggang Suhu 35 Derajat, Pegunungan Diselimuti KabutGPM Makassar Diserbu Warga, Beras SPHP 5 Kg Dijual Rp58 RibuPI Migas Blok Sengkang Naik Jadi 10 Persen, Wajo Dapat 50 Persen untuk Daerah PenghasilKortastipidkor Polri Geledah Kantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa, Dugaan Pungli PBG Makin MelebarBone Rebut Piala Gubernur Sulsel 2026, Juara Bertahan Sidrap Tumbang di Adu PenaltiPergantian Ketua DPRD Jeneponto Mandek, Pimpinan Minta Berkas NasDem Dikonsultasikan ke PemprovPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Sulsel Dipanggang Suhu 35 Derajat, Pegunungan Diselimuti KabutGPM Makassar Diserbu Warga, Beras SPHP 5 Kg Dijual Rp58 RibuPI Migas Blok Sengkang Naik Jadi 10 Persen, Wajo Dapat 50 Persen untuk Daerah PenghasilKortastipidkor Polri Geledah Kantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa, Dugaan Pungli PBG Makin MelebarBone Rebut Piala Gubernur Sulsel 2026, Juara Bertahan Sidrap Tumbang di Adu PenaltiPergantian Ketua DPRD Jeneponto Mandek, Pimpinan Minta Berkas NasDem Dikonsultasikan ke Pemprov
Opini

Urgensi Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat: Mengakhiri Hegemoni Kapitalisme

379
×

Urgensi Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat: Mengakhiri Hegemoni Kapitalisme

Sebarkan artikel ini
Maisuri, S.Mat (Praktisi Pendidikan)
Maisuri, S.Mat (Praktisi Pendidikan)

OPINI—Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Di balik gemerlap digitalisasi, kemajuan teknologi, dan slogan kemakmuran global, tersimpan kenyataan pahit: ketimpangan yang kian menganga, krisis iklim yang memburuk, serta penindasan sistemik terhadap bangsa-bangsa lemah.

Tatanan dunia yang dikendalikan kapitalisme sekuler di bawah hegemoni Amerika Serikat justru menjauhkan umat manusia dari cita-cita keadilan dan perdamaian sejati.

Janji kesejahteraan yang digadang-gadang kapitalisme global kian terdengar hampa. Dunia dipimpin bukan oleh nilai kemanusiaan, melainkan oleh logika keuntungan dan keserakahan.

Fakta Kerusakan Sistemik

Krisis global hari ini bukan sekadar akibat kesalahan kebijakan, tetapi buah dari sistem yang cacat sejak lahir. Setidaknya ada tiga bukti utama.

Pertama, eksploitasi ekonomi yang brutal.
Kapitalisme global telah menjadikan negara-negara berkembang dan dunia Islam sebagai ladang penjarahan sumber daya.

Laporan Oxfam International (2024) mencatat bahwa kekayaan lima orang terkaya dunia meningkat dua kali lipat sejak 2020, sementara hampir lima miliar penduduk dunia justru makin miskin.

Ini bukan kebetulan, melainkan konsekuensi sistem ekonomi yang hanya berpihak pada pemilik modal.

Kedua, kehancuran ekologis.
Krisis iklim adalah warisan langsung dari industri rakus yang mengejar pertumbuhan tanpa batas.

Data Global Carbon Project menunjukkan negara-negara industri maju (dengan Amerika Serikat sebagai aktor historis terbesar) menjadi penyumbang utama emisi karbon global.

Bumi diperas seperti mesin, tanpa peduli pada daya dukungnya dan masa depan generasi berikutnya.

Ketiga, arogansi geopolitik.
Amerika Serikat secara konsisten menggunakan sanksi, tekanan politik, dan kekuatan militer untuk mengamankan kepentingan strategisnya.

Dari Venezuela hingga berbagai kawasan konflik, kebijakan luar negeri AS sering kali lebih mencerminkan hasrat menguasai sumber daya ketimbang menegakkan hukum internasional.

Media seperti The Intercept berulang kali mengungkap bagaimana narasi demokrasi kerap menjadi selubung bagi dominasi.

Kapitalisme Merusak Sendi Kehidupan

Kapitalisme sekuler bukan hanya menghancurkan ekonomi, tetapi juga merusak cara manusia memandang hidup. Umat manusia direduksi menjadi konsumen, sementara nilai moral, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial dipinggirkan.

Bagi umat Islam, dampaknya lebih dalam. Sekularisme merasuki pendidikan, budaya, dan tata sosial, menjauhkan umat dari akidah dan akhlak. Dunia dipaksa tunduk pada aturan pasar, sementara kebenaran dan keadilan ditawar seperti komoditas.

Lembaga keuangan internasional, sanksi ekonomi, hingga intervensi politik menjadi instrumen aneksasi modern. Kedaulatan bangsa-bangsa lemah dirampas tanpa perlu penjajahan fisik. Hukum internasional pun kerap tak berdaya ketika berhadapan dengan kepentingan hegemon.

Mencari Kepemimpinan yang Membawa Rahmat

Di tengah kebuntuan global ini, umat Islam perlu kembali menyadari bahwa Islam bukan hanya agama ibadah, melainkan sebuah mabda, sebuah sistem nilai dan tatanan hidup yang menyeluruh.

Dunia tidak membutuhkan pemimpin yang pandai memanipulasi pasar, tetapi kepemimpinan yang berlandaskan ketakwaan, keadilan, dan tanggung jawab moral.

Konsep kepemimpinan Islam yang membawa rahmatan lil ‘alamin hadir sebagai antitesis dari kapitalisme yang eksploitatif. Dalam perspektif historis dan teologis, kepemimpinan Islam dimaksudkan untuk melindungi manusia dari kezaliman, menghapus sistem ekonomi yang menindas, menegakkan keadilan hukum, menjaga alam, serta mengelola sumber daya sebagai amanah untuk kesejahteraan bersama, bukan untuk segelintir korporasi global.

Penutup

Sudah terlalu banyak luka yang ditinggalkan oleh hegemoni kapitalisme global: kemiskinan struktural, perang, dan kehancuran lingkungan. Terus berharap pada sistem yang telah terbukti gagal hanya akan memperpanjang penderitaan umat manusia.

Dunia membutuhkan arah baru, kepemimpinan yang tidak tunduk pada keserakahan, melainkan berpijak pada nilai kebenaran dan keadilan. Dalam pandangan penulis, kepemimpinan yang berlandaskan wahyu Allah Swt. itulah yang menawarkan jalan keluar dari krisis peradaban ini. (*)

Wallahu a‘lam.


Penulis:
Maisuri, S.Mat
(Aktivis Pendidikan)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com