BRISBANE, AUSTRALIA – Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin, Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH., PhD., menghadiri International Symposium on One Health 2026 yang berlangsung di Griffith University South Bank Campus, Brisbane, Australia, pada 28 Juni hingga 1 Juli 2026.
Forum internasional yang diselenggarakan Centre for Environment and Population Health, Griffith University tersebut mengusung tema “Futureproofing One Health Action for Regional and Global Health Security: Challenges and Response Strategies for the Indo-Pacific in the Context of Climate Change”. Kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi kesehatan dari berbagai negara di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam kesempatan itu, Prof. Sukri tampil sebagai salah satu pembicara dengan membawakan materi berjudul “One Health in Indonesia: Challenges and Future Research Collaboration”. Ia memaparkan berbagai tantangan penerapan pendekatan One Health di Indonesia, mulai dari ancaman penyakit zoonosis, perubahan iklim, resistensi antimikroba, hingga degradasi lingkungan.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi membutuhkan penguatan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan kesehatan yang semakin kompleks. Koordinasi antara sektor kesehatan, peternakan, lingkungan, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan implementasi One Health.
Dalam paparannya, Prof. Sukri juga menekankan pentingnya penguatan sistem surveilans terpadu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta tata kelola berbasis bukti sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
Tak hanya memaparkan kondisi Indonesia, Prof. Sukri turut menawarkan peluang kolaborasi riset antara Universitas Hasanuddin dan sejumlah mitra internasional. Beberapa topik yang diusulkan meliputi healthy aging dalam perspektif One Health, dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, hingga pengembangan instrumen implementasi One Health.
Selain itu, ia juga mengusulkan penelitian terkait model kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan penyakit zoonosis, serta penguatan kapasitas melalui program pelatihan dan publikasi ilmiah bersama. Gagasan tersebut mendapat perhatian peserta karena dinilai relevan dengan berbagai tantangan kesehatan masyarakat yang dihadapi negara-negara Indo-Pasifik.
Rangkaian simposium juga diisi dengan kunjungan lapangan ke Queensland Health, Biosecurity Queensland, Gold Coast Hospital, dan Emergency Response Centre Griffith University. Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari praktik implementasi One Health dalam sistem kesehatan serta kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit dan kedaruratan kesehatan.

Sekitar 50 peserta dari Australia, Indonesia, Tiongkok, Malaysia, Vietnam, dan sejumlah institusi penelitian turut ambil bagian dalam forum tersebut. Simposium ini diharapkan menghasilkan proposal riset kolaboratif, memperkuat Community of Practice, serta memperluas jejaring kerja sama internasional dalam mendukung ketahanan kesehatan regional yang berkelanjutan.
Keikutsertaan FKM Universitas Hasanuddin dalam forum internasional tersebut sekaligus menegaskan komitmen institusi dalam memperkuat diplomasi akademik dan meningkatkan kontribusi Indonesia dalam pengembangan pendekatan One Health di tingkat global. (Ag4ys)













