PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Magnifique Group Angkat Masa Depan Media dan AI di IdeaFestSulsel di Tengah Perebutan Investasi Indonesia Timur4 Tahun Makan Debu, Warga Bone Menangis Lihat Jalan Ujung Lamuru–Palattae Mulai MulusTim PPK Ormawa BKMF SINAPSIS FIKK UNM Paparkan Inovasi Baruga SIPAKATAU di PKP InternalModerasi di Rumah Sakit, Benarkah Menjamin Pelayanan yang Toleran?Abu Gunung Anak Krakatau Meluas, Kapolri Perintahkan Polisi Siaga Evakuasi dan Tangani Warga TerdampakPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Magnifique Group Angkat Masa Depan Media dan AI di IdeaFestSulsel di Tengah Perebutan Investasi Indonesia Timur4 Tahun Makan Debu, Warga Bone Menangis Lihat Jalan Ujung Lamuru–Palattae Mulai MulusTim PPK Ormawa BKMF SINAPSIS FIKK UNM Paparkan Inovasi Baruga SIPAKATAU di PKP InternalModerasi di Rumah Sakit, Benarkah Menjamin Pelayanan yang Toleran?Abu Gunung Anak Krakatau Meluas, Kapolri Perintahkan Polisi Siaga Evakuasi dan Tangani Warga Terdampak
Opini

Benteng Rotterdam dan Warisan Budaya Sulawesi Selatan

106
×

Benteng Rotterdam dan Warisan Budaya Sulawesi Selatan

Sebarkan artikel ini
Benteng Rotterdam
Benteng Rotterdam Makassar. (Foto: Istimewa)

OPINI—Di hampir setiap kota besar dunia, benteng tua tidak pernah hanya diperlakukan sebagai bangunan bersejarah. Ia menjadi penanda identitas kota, laboratorium sejarah, sekaligus ruang publik yang mempertemukan masa lalu dengan kehidupan kontemporer.

Benteng Rotterdam di Makassar memiliki posisi yang sama. Ia berdiri bukan hanya sebagai saksi kolonialisme Belanda, melainkan sebagai representasi perjalanan panjang masyarakat Sulawesi Selatan dalam menghadapi perubahan politik, ekonomi, dan kebudayaan selama lebih dari empat abad.

Ironisnya, di tengah geliat pembangunan kota modern, benteng ini sering dipahami sekadar destinasi wisata. Padahal, nilai yang dikandungnya jauh melampaui fungsi rekreasi.

Benteng Rotterdam merupakan arsip batu yang menyimpan kisah mengenai kebesaran Kerajaan Gowa, ekspansi perdagangan maritim Nusantara, politik kolonial, hingga dinamika pembentukan masyarakat multikultural Makassar.

Tantangan Sejarah

Sejarah memperlihatkan bahwa benteng ini mula-mula dikenal sebagai Benteng Ujung Pandang, dibangun oleh Kerajaan Gowa sekitar pertengahan abad ke-16 pada masa pemerintahan Raja Gowa IX, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumaparisi Kallonna.

Benteng tersebut menjadi bagian penting dari sistem pertahanan kerajaan yang ketika itu berkembang sebagai kekuatan maritim terbesar di kawasan timur Nusantara (Andaya, 1981).

Makassar pada abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-17 bukanlah kota pinggiran. Anthony Reid (1993) menjelaskan bahwa pelabuhan Makassar menjadi simpul perdagangan internasional yang mempertemukan pedagang Melayu, Jawa, Bugis, Arab, Gujarat, Portugis, Tiongkok, hingga Jepang.

Kebijakan perdagangan terbuka Kesultanan Gowa menjadikan Makassar sebagai free port terbesar di Asia Tenggara ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) justru berusaha membangun monopoli perdagangan rempah-rempah.

Benteng Ujung Pandang menjadi simbol kedaulatan ekonomi tersebut. Namun sejarah berubah setelah Perang Makassar (1666–1669).

Kekalahan Sultan Hasanuddin melalui Perjanjian Bongaya mengakhiri dominasi Gowa dan membuka jalan bagi VOC mengambil alih benteng itu. Belanda kemudian mengubah namanya menjadi Benteng Rotterdam, mengikuti nama kota kelahiran Laksamana Cornelis Speelman di Belanda (Andaya, 1981).

Perubahan nama bukan sekadar pergantian identitas geografis. Dalam perspektif Michel Foucault (1980), kolonialisme bekerja melalui penguasaan ruang, simbol, dan pengetahuan.

Mengubah benteng kerajaan menjadi benteng VOC merupakan strategi politik untuk menegaskan dominasi kekuasaan kolonial terhadap memori kolektif masyarakat lokal.

Meski demikian, sejarah tidak pernah berhenti pada narasi penaklukan. Benteng Rotterdam justru menjadi ruang yang memperlihatkan kemampuan masyarakat Sulawesi Selatan merawat ingatan sejarah secara kritis.

Hari ini, masyarakat tidak lagi memandang benteng tersebut sebagai lambang kekalahan semata, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang identitas mereka.

Perspektif antropologi budaya membantu menjelaskan fenomena tersebut. Clifford Geertz (1973) menyebut kebudayaan sebagai jaringan makna yang ditenun manusia sendiri.

Bangunan bersejarah memperoleh arti bukan karena usia materialnya, melainkan karena makna sosial yang terus diproduksi oleh masyarakat.

Makna itu terlihat dalam berbagai aktivitas budaya yang kini berlangsung di kawasan Benteng Rotterdam. Festival budaya, pameran sejarah, pertunjukan seni tradisional, diskusi akademik, hingga kegiatan komunitas kreatif menunjukkan bahwa benteng tidak lagi menjadi ruang eksklusif masa lalu, melainkan ruang hidup yang terus mengalami reinterpretasi.

Dalam kajian Pierre Nora (1989), tempat-tempat seperti Benteng Rotterdam dapat dipahami sebagai lieux de mémoire atau situs memori. Ketika pengalaman sejarah mulai menjauh dari kehidupan sehari-hari, masyarakat membutuhkan simbol fisik untuk mempertahankan ingatan kolektifnya.

Benteng Rotterdam menjalankan fungsi tersebut bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Di sisi lain, benteng ini juga memperlihatkan bagaimana sejarah lokal sesungguhnya memiliki dimensi global. Sulawesi Selatan sejak dahulu merupakan bagian dari jaringan perdagangan dunia.

Kapal-kapal dari berbagai bangsa pernah berlabuh di pesisir Makassar. Jalur rempah-rempah, perdagangan tekstil, besi, hingga migrasi manusia berlangsung melalui pelabuhan yang terlindungi oleh benteng ini.

Pandangan Fernand Braudel (1982) mengenai sejarah kawasan maritim menjadi relevan. Braudel menekankan bahwa laut bukan sekadar ruang geografis, melainkan arena pertukaran ekonomi, budaya, dan politik yang berlangsung dalam jangka panjang (longue durée).

Dalam konteks tersebut, Benteng Rotterdam merupakan simpul sejarah maritim Nusantara yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.

Dimensi sosial benteng juga tidak kalah penting. Emile Durkheim (1912) menjelaskan bahwa simbol-simbol bersama mampu memperkuat solidaritas sosial. Bangunan bersejarah berfungsi sebagai pengingat identitas kolektif yang melampaui perbedaan etnis maupun agama.

Makassar merupakan kota yang dihuni masyarakat Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, Buton, Jawa, Tionghoa, Arab, dan berbagai kelompok lainnya.

Benteng Rotterdam menjadi salah satu ruang bersama yang diterima oleh seluruh kelompok tersebut sebagai bagian dari sejarah kota.

Dalam konteks masyarakat multikultural, fungsi simbolik seperti ini sangat penting untuk memperkuat kohesi sosial.

Merawat Memori Kolektif

Berbagai penelitian Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX bersama pemerintah daerah menunjukkan bahwa kawasan Benteng Rotterdam menjadi salah satu destinasi budaya dengan tingkat kunjungan tertinggi di Sulawesi Selatan.

Selain wisatawan domestik dan mancanegara, kawasan ini rutin dimanfaatkan sebagai lokasi edukasi sejarah bagi pelajar, mahasiswa, serta kegiatan penelitian arkeologi dan antropologi.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa fungsi benteng telah berkembang dari situs pertahanan menjadi ruang pembelajaran publik.

Namun tantangan pelestarian tetap besar. Urbanisasi, tekanan pembangunan kota, perubahan tata ruang pesisir, serta komersialisasi pariwisata dapat menggeser makna warisan budaya apabila tidak dikelola secara hati-hati.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) melalui Recommendation on the Historic Urban Landscape (2011) menegaskan bahwa pelestarian warisan budaya tidak cukup berfokus pada bangunan fisik.

Yang harus dijaga adalah hubungan antara bangunan, masyarakat, lanskap, serta nilai budaya yang hidup di dalamnya.

Pendekatan tersebut relevan bagi Benteng Rotterdam. Pelestarian tidak berhenti pada restorasi tembok atau perawatan bangunan, tetapi juga mencakup dokumentasi tradisi lokal, penguatan pendidikan sejarah, pengembangan museum yang interaktif, digitalisasi arsip, serta pemberdayaan komunitas budaya sebagai aktor utama.

Dalam perspektif sosiologi pembangunan, Anthony Giddens (1990) menjelaskan bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi. Sebaliknya, masyarakat modern mampu melakukan refleksi terhadap masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih adaptif.

Warisan budaya menjadi sumber inovasi apabila mampu dipadukan dengan teknologi, ekonomi kreatif, dan pendidikan.

Makassar sebenarnya memiliki peluang besar menjadikan Benteng Rotterdam sebagai pusat ekosistem kebudayaan. Museum dapat diintegrasikan dengan teknologi digital, tur sejarah berbasis realitas virtual, pusat riset maritim, perpustakaan budaya Sulawesi Selatan, hingga ruang kolaborasi seniman lokal.

Dengan demikian, benteng tidak sekadar menjadi objek wisata, tetapi menjadi pusat produksi pengetahuan.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa investasi pada warisan budaya memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Kota-kota seperti Kyoto, Dubrovnik, Cartagena, hingga Valletta berhasil mengembangkan ekonomi lokal melalui pengelolaan situs sejarah tanpa kehilangan nilai autentiknya.

Sulawesi Selatan memiliki modal historis yang tidak kalah kuat.

Pada akhirnya, Benteng Rotterdam mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lampau. Ia adalah sumber identitas, pembelajaran, sekaligus modal pembangunan.

Di balik tembok-tembok batu yang kokoh tersimpan narasi tentang keberanian Sultan Hasanuddin, keterbukaan perdagangan Makassar, perjumpaan berbagai kebudayaan dunia, serta kemampuan masyarakat Sulawesi Selatan menjaga ingatan kolektifnya.

Di era ketika kota-kota berlomba membangun gedung pencakar langit, Benteng Rotterdam mengingatkan bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari tinggi bangunan baru, tetapi juga dari kemampuan sebuah masyarakat merawat akar sejarahnya.

Sebab, bangsa yang mampu menghargai warisan budayanya sesungguhnya sedang membangun masa depan dengan fondasi yang paling kokoh. (*)

Haris Zaky Mubarak, MA (Analis dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia & Anggota Pengurus Cabang Muhammadiyah Yogyakarta)
Haris Zaky Mubarak, MA (Analis dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia & Anggota Pengurus Cabang Muhammadiyah Yogyakarta)

Penulis:
Haris Zaky Mubarak, MA
(Analis, Peneliti dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Kirim Komentar

📢 Mohon utamakan adab, etika, dan sopan santun dalam berkomentar. Semua komentar akan melewati proses moderasi sebelum diterbitkan.

Konten dilindungi © Mediasulsel.com