Makassar, Komitmen Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, untuk menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang akan dilaunching di GOR Unhas saat Penerimaan Mahasiswa Baru 2018, tanggal 13 Agustus 2018 yang akan datang dan akan dihadiri sekitar 7000 mahasiswa, semakin menunjukkan keseriusannya.
Hal itu terlihat dari topik yang diberikan penyelenggara Hasanuddin Centre for Tobacco Control And Non – Communicable Disease Prevention (Hasanuddin CONTACT) pada 1st Symposium on Tobacco Control and Non Communicable Disease Prevention kepada Ketua Tim Task Force Penyusunan Peraturan Rektor Unhas tentang KTR, Prof. Sukri Palutturi, PhD. Sabtu (14/7) di Audotorium RS. Pendidikan Unhas Tamalanrea.
Dalam simposium yang dihadiri lebih dari 500 peserta baik dari dalam maupun luar negeri itu, setidaknya dikemukakan, bahwa perokok pada umumnya mendapakan dua tempat dan waktu sebagai sarana berhenti morokok, yaitu saat naik pesawat dan pada saat menjalankan ibadah puasa.
Hampir dipastikan 100 persen penumpang pesawat, tidak ada yang merokok saat dalam penerbangan, meskipun mereka adalah perokok berat. Seseorang dipaksa berhenti merokok, bahkan orang bisa berhenti merokok sesuai lamanya penerbangan.
“Kalau Indonesia Australia mungkin bisa 6-8 jam, Indonesia Jepang bisa 7-10 jam atau bahkan kalau ke Amerika bisa berhenti merokok 30 jam. Seseorang bisa menahan untuk tidak merokok meskipun mereka adalah perokok berat. Maka terbang dengan naik pesawat adalah latihan untuk berhenti merokok,” jelas Prof Sukri kepada media sulsel.
Dalam simposium yang menghadirkan Prof. Tomoyuki Shibata dari Northern Illionis University sebagay keynote speaker tersebut, juga terungkap, bahwa puasa juga dapat digunakan sebagai media berlatih berhenti merokok. Lama puasa tiap negara beragam, Indonesia rata-rata memakan waktu untuk menahan tidak makan dan minum dalam sehari mencapai 13-14 jam, Aljazair 16-17 jam, Skandinavia 20 jam dan Finlandia 23 jam.
“Semakin lama rentang waktu menahan untuk tidak makan, semakin lama pula seseorang menahan untuk tidak merokok, belum termasuk puasa Senin Kamis. Maka puasa adalah sarana latihan berhenti merokok,” lanjutnya.
Hadir juga sebagai pembicara dalam simposium tersebut, Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes, MSc.PH, yang memaparkan materi tentang Penyakit Tidak Menular di Makassar, serta sejumlah pembicara lain dari kalangan pengusaha yang peduli tentang KTR, serta sesi student dalam dan luar negeri.
Project Director Hasanuddin CONTACT, Prof. Dr. dr. HM. Alimin Maidin, MPH, saat dihubungi secara terpisah, mengaku memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pembicara dan peserta yang begitu aktif dalam simposium tersebut. (*/464YS)













