OPINI – Virus covid-19 pertama kali muncul dan memulai karir mengerikannya di kota Wuhan China pada akhir tahun 2019. Dalam waktu yang singkat dia berubah menjadi pusat perhatian seluruh dunia dan mengambil posisi pertama disetiap pemberitaan media massa.
Virus ini, telah berhasil membuat kecemasan dan ketakutan berlebihan pada manusia, sifat kecemasan menunjukan ketidak stabilan jiwa dan ketidak percayaan diri terhadap Tuhan.
Sedangkan ketakutan yang berlebihan menunjukan ketidak percayaan diri terhadap kasih sayang dan pertolongannya. Dan akhirnya manusia dibuat menjadi tidak berdaya.
Covid-19 tidak mengenal usia, agama ataupun strata sosial. Wabah ini membuat seperdua mahluk yang bernama manusia di dunia panik, dan berusahan untuk mencari perlindungan.
Isolasi dan karantina diri adalah jalan pintas untuk memutus mata rantai penyebaran. walaupun hal ini akan banyak menimbulkan masalah baru.
Setiap individu dengan cepat mengambil tindakan preventif, meluncurkan inisiatif strategis untuk mengatasi penyebarannya.
Virus covid-19 menimbulkan kepanikan berlebihan yang membuat sebagian manusia tidak tenang yang berefek terhadap menurunya imun tubuh sehingga berbagai virus mudah masuk.
Dalam perspektif ilmu kesehatan ketika imun tubuh menurun maka virus apapun akan mudah masuk. Tidak ada larangan untuk panik selama tidak berlebihan, tenang dan berpikir positif adalah tips mengatasi panik berlebihan.
Dalam perspektif sufistik virus covid-19 adalah mahluk Tuhan, dan setiap mahluk akan tunduk kepada penciptanya (QS. Al.Hajj:18).
Sedangkan manusia adalah mahluk yang ditunjuk menjadi Khalifah di muka bumi (Al-Baqarah:30).
Ini bertanda bahwa mahluk yang bernama virus covid-19 masih berada pada posisi derajat lebih rendah dari manusia.
Sehingga panik berlebihan perlu diobati dengan keyakinan tentang manusia adalah khalifah dari seluruh mahluk yang ada bumi, dan berdoa mendekatkan diri kepada Tuhan, serta mengikuti anjuran pemerintah.
Siapa Yang Bertanggung Jawab?
Masuknya wabah ini ke Indonesia, berawal dari kunjungan WN Jepang yang tinggal di Malaysia ke RI. Serta tidak adanya batasan kunjungan atau larangan WNA masuk ke Indonesia.
Kesemuanya itu pemerintah yang memiliki peran penting, sehingga dialah yang harus bertanggung jawab. Tentunya pernyataan tersebut adalah sesuatu yang keliru jika kesemuanya dibebankan kepada pemerintah.
Wabah epidemi seperti Covid-19, akan sulit di taklukan jika masyarakat tidak saling bersinergi dengan pemerintah.
Kesadaran setiap masyarakat untuk meninggalkan ego individualismenya sangat dibutuhkan untuk saling bekerja sama.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua manusia bisa ikut berperan aktif secara kemanusiaan untuk mengatasi virus covid-19.
Dalam pandangan sosiolog Emile Durkheim ia membagi dua tipe solidaritas yaitu: “Solidaritas mekanik dan solidaritas organik”.
Sehingga dengan munculnya kesadaran untuk bersinergi akan memberikan power solidaritas mekanik yang terikat dengan “kesamaan” dalam bentuk kesadaran kolektif.
Namun karena Indonesia adalah negara kepulauan dengan beragam suku, etnis dan agama di dalamnya. Maka ini merupakan kekuatan alamiah yang dapat membangun solidaritas organik yang justru terikat dengan “perbedaan” dalam bentuk pembagian kerja.
Dalam solidaritas organik setiap orang memiliki tugas dan tanggung jawab yang spesifik dan saling bergantung antara satu dengan lainnya untuk mengatasi virus Covid-19.
Solidaritas antar sesama individu di lingkungan masyarakat sangat dibutuhkan untuk berperan aktif, membantu pemerintah mengatasi wabah pandemi virus. Dengan mengikuti beberapa anjuran dan surat edaran yang telah ditetapkan untuk memutus mata rantai penyebaran. (*)
Penulis: M. Rusdi, SPd, MPd (Dosen Ilmu Pendidikan Sosiologi Universitas Iqra Buru)
Simak Juga: Waspadalah Dengan Uang Kembalian…!













