PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Desa Beroanging Ikut Verifikasi Abdidaya Ormawa 2026, Program BKMF Sinapsis FIKK UNM Diuji • Pemkot Makassar Kejar Sertifikat Aset Ducting Sharing • Penyuluh Kehutanan Jadi Garda Depan Cegah Karhutla, Kejar Target FoLU Net Sink 2030 • Sumbangan Gau Maraja Diduga Masuk Rekening Pribadi Kasi Umum Kecamatan Bontocani • 102 Siswa Baru SMK Kehutanan Negeri Makassar Dikukuhkan, Siap Jadi Rimbawan Muda • Rotasi Besar Kapolres Sulsel: 5 Kursi Berganti, Ini Daftar Komandan Baru • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Desa Beroanging Ikut Verifikasi Abdidaya Ormawa 2026, Program BKMF Sinapsis FIKK UNM Diuji • Pemkot Makassar Kejar Sertifikat Aset Ducting Sharing • Penyuluh Kehutanan Jadi Garda Depan Cegah Karhutla, Kejar Target FoLU Net Sink 2030 • Sumbangan Gau Maraja Diduga Masuk Rekening Pribadi Kasi Umum Kecamatan Bontocani • 102 Siswa Baru SMK Kehutanan Negeri Makassar Dikukuhkan, Siap Jadi Rimbawan Muda • Rotasi Besar Kapolres Sulsel: 5 Kursi Berganti, Ini Daftar Komandan Baru •
Opini

Angin Segar Pembangunan PLTB di Bumi Turatea

974
×

Angin Segar Pembangunan PLTB di Bumi Turatea

Sebarkan artikel ini
PLTB di Bumi Turatea
Angin Segar Pembangunan PLTB di Bumi Turatea

OPINI – Dari waktu ke waktu, kebutuhan energi listrik di Indonesia semakin meningkat. Konsumsi listrik yang tinggi akan menjadi masalah bila dalam penyediaannya tidak sejalan dengan kebutuhan pasokan energi listrik.

Untuk mengatasi pemenuhan kebutuhan listrik ini, diperlukan sebuah energi baru yang mampu memenuhi kebutuhan listrik nasional yang semakin besar.

Angin Segar Pembangunan PLTB di Bumi Turatea
Isna Muflichatul Fadhilah, SST

Salah satu upaya pemanfaatan energi terbarukan yang dilakukan pemerintah yaitu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

Berdiri kokoh menjulang di antara hamparan sawah yang terbentang luas, PLTB Tolo I Jeneponto menjadi ikon baru bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya di Bumi Turatea, Jeneponto.

PLTB berkapasitas 72 megawatt (MW) ini dibangun sejak 2016 dan sudah beroperasi secara resmi pada September 2019.

PLTB Tolo merupakan pembangkit listrik tenaga bayu terbesar kedua di Indonesia setelah PLTB Sidrap yang juga terletak di Provinsi Sulawesi Selatan.

Sejauh ini, PLTB Tolo belum menemui kendala yang berarti. Jeneponto merupakan wilayah yang memiliki kondisi kecepatan angin yang stabil, sehingga cocok untuk area pembangunan kincir angin raksasa ini.

Dikutip dari situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PLTB Tolo merupakan bagian dari proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW.

Proyek ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk dapat mencapai target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada tahun 2025.

Nilai investasi PLTB Tolo sebesar US$ 160,7 juta, di mana pembangunan PLTB Tolo ini menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 390 orang.

PLTB Tolo yang dikelola oleh pengembang listrik swasta ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mencapai sekitar 40 persen.

Dengan tinggi 133 meter dan panjang baling-baling 63 meter, 20 turbin yang terpasang masing-masing mampu mengalirkan listrik sebesar 3,6 MW, sehingga kapasitas totalnya mencapai 72 MW.

Kehadiran PLTB ini mampu menghasilkan listrik setara 300.000 rumah tangga pelanggan 900 VA.

Adanya pembangunan PLTB ini juga membawa dampak signifikan bagi perekonomian di Kabupaten Jeneponto.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi tertinggi sektor konstruksi Kabupaten Jeneponto pada tahun 2017 mencapai 23,35 persen, kemudian pada tahun 2018 mencapai 16,45 persen di akhir proyek pembangunan PLTB.

Sektor konstruksi ini termasuk dalam tiga besar kategori lapangan usaha dominan dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Jeneponto.

Dengan hadirnya PLTB Tolo ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan listrik di Sulawesi Selatan, sehingga berdampak pada peningkatan kegiatan ekonomi di sektor-sektor lainnya.

PLTB dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan yang tidak akan punah, termasuk green energy, dan tentunya dapat dikembangkan menjadi tempat wisata di sekitar lokasi PLTB.

Penulis: Isna Muflichatul Fadhilah, SST (ASN di BPS Kabupaten Jeneponto)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com