WAJO — Tidak semua kesuksesan bermula dari modal besar. Sebagian justru lahir dari kenangan sederhana, diwariskan dari generasi ke generasi, lalu dihidupkan kembali oleh seseorang yang berani mencoba.
Kisah itu dijalani Tenri Sau, SE, perempuan asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, yang mengembangkan Bedak Bolong Indo’ Emmeng, lulur tradisional Bugis berbahan rempah alami. Dari racikan sang nenek di masa kecil, Tenri Sau membangun usaha yang kini dikenal luas hingga menembus pasar internasional.
Perempuan yang akrab disapa Adhe itu lahir di Wajo sekitar 50 tahun lalu. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara dan kini tinggal sekaligus menjalankan rumah produksi di Jalan Korban 40.000 Nomor 28, Paria, Kecamatan Majauleng, Wajo.
Di balik kesibukannya sebagai pelaku UMKM, ada satu kenangan masa kecil yang terus melekat. Tenri kerap melihat neneknya meracik berbagai rempah alami menjadi lulur berwarna hitam.
Lulur tersebut merupakan bagian dari tradisi perawatan tubuh perempuan Bugis. Pada masa lalu, ramuan itu digunakan oleh para gadis, termasuk calon pengantin dan putri-putri bangsawan.
Saat itu, Tenri belum pernah membayangkan bahwa apa yang dilihatnya dari balik aktivitas sang nenek kelak menjadi jalan hidupnya.
Berawal dari Masa Sulit
Tahun 2014 menjadi titik balik. Kondisi ekonomi yang sulit membuat Tenri harus mencari jalan untuk bertahan. Di tengah keterbatasan itu, ingatannya kembali kepada racikan sang nenek.
Ia kemudian berusaha menggali kembali resep tersebut dengan bertanya kepada tantenya mengenai bahan-bahan yang dahulu digunakan.
Dari sana, eksperimen kecil dimulai.
Tenri meracik sendiri bahan-bahan alami dan terus melakukan penyempurnaan. Ia tidak sekadar mempertahankan resep lama, tetapi juga melakukan inovasi dengan mengombinasikan berbagai rempah pilihan.
Hasilnya, lahirlah formulasi yang menggunakan sekitar 30 jenis rempah alami tanpa tambahan bahan kimia, yang kemudian dipasarkan dengan nama Bedak Bolong Indo’ Emmeng.
Nama tersebut memiliki makna khusus bagi Tenri. Indo’ Emmeng dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada sang nenek yang menjadi sumber inspirasi sekaligus pewaris pengetahuan tradisional yang mengawali perjalanan usahanya.
Bagi Tenri, nama itu bukan sekadar merek. Di dalamnya ada kenangan keluarga, penghormatan terhadap leluhur, sekaligus upaya menjaga warisan budaya Bugis.
Dari Mulut ke Mulut hingga ke Mancanegara
Pada awalnya, Bedak Bolong Indo’ Emmeng hanya diproduksi dalam jumlah terbatas. Pesanan datang dari orang-orang di sekitar Tenri.
Para konsumen yang mencoba kemudian merekomendasikannya kepada keluarga, sahabat, dan kerabat. Promosi dari mulut ke mulut itu perlahan membuat permintaan meningkat.
Tenri pun mulai meningkatkan kapasitas produksi. Usaha yang semula dirintis dari rumah berkembang menjadi produk UMKM yang memiliki pasar lebih luas.
Kepercayaan konsumen bahkan membawa produk tersebut keluar Indonesia. Salah satu pasar yang disebut telah menerima pesanan dalam jumlah ratusan botol adalah Hong Kong.
Perjalanan itu turut mengantarkan Bedak Bolong Indo’ Emmeng meraih sekitar 12 penghargaan di tingkat lokal dan nasional.
Bagi Tenri, pencapaian tersebut bukan sekadar angka. Setiap penghargaan menjadi pengingat bahwa produk berbasis kearifan lokal juga memiliki peluang untuk bersaing dan dikenal lebih luas.

Mengubah Warisan Menjadi Peluang
Perjalanan Tenri Sau menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
Kadang, inovasi justru berarti menghidupkan kembali sesuatu yang hampir terlupakan, kemudian mengemasnya agar mampu menjawab kebutuhan zaman.
Warisan racikan nenek yang dahulu hanya dikenal dalam lingkungan keluarga kini berkembang menjadi produk bernilai ekonomi. Usaha tersebut tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi Tenri, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan tradisi perawatan tubuh perempuan Bugis kepada masyarakat yang lebih luas.
Di sinilah kekuatan UMKM berbasis budaya terlihat. Sebuah produk sederhana dapat membawa cerita tentang identitas, tradisi, keluarga, dan daerah asalnya.
Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Seperti banyak pelaku UMKM lainnya, Tenri juga harus melewati keterbatasan modal, proses merintis dari skala kecil, hingga perjuangan membangun kepercayaan konsumen.
Namun, ia memilih terus berjalan.
Dari rumah sederhana di Paria, Wajo, Tenri membuktikan bahwa perempuan daerah juga mampu menciptakan produk yang memiliki daya saing hingga pasar internasional.
Kisahnya menjadi pesan bagi siapa saja yang sedang memulai usaha: tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulai.
Sebab, usaha besar bisa saja berawal dari dapur rumah, dari resep keluarga, atau bahkan dari kenangan masa kecil yang selama ini tersimpan.
Tenri Sau telah menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu. Dengan keberanian, inovasi, dan ketekunan, warisan budaya dapat diubah menjadi karya yang bernilai dan dikenal dunia.
Dan dari tangan seorang perempuan Wajo, racikan sang nenek akhirnya menemukan jalan panjangnya—dari tradisi Bugis, menjadi produk UMKM, hingga menembus pasar mancanegara. (Rid1/Ag4ys)













