PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Desa Beroanging Ikut Verifikasi Abdidaya Ormawa 2026, Program BKMF Sinapsis FIKK UNM Diuji • Pemkot Makassar Kejar Sertifikat Aset Ducting Sharing • Penyuluh Kehutanan Jadi Garda Depan Cegah Karhutla, Kejar Target FoLU Net Sink 2030 • Sumbangan Gau Maraja Diduga Masuk Rekening Pribadi Kasi Umum Kecamatan Bontocani • 102 Siswa Baru SMK Kehutanan Negeri Makassar Dikukuhkan, Siap Jadi Rimbawan Muda • Rotasi Besar Kapolres Sulsel: 5 Kursi Berganti, Ini Daftar Komandan Baru • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Desa Beroanging Ikut Verifikasi Abdidaya Ormawa 2026, Program BKMF Sinapsis FIKK UNM Diuji • Pemkot Makassar Kejar Sertifikat Aset Ducting Sharing • Penyuluh Kehutanan Jadi Garda Depan Cegah Karhutla, Kejar Target FoLU Net Sink 2030 • Sumbangan Gau Maraja Diduga Masuk Rekening Pribadi Kasi Umum Kecamatan Bontocani • 102 Siswa Baru SMK Kehutanan Negeri Makassar Dikukuhkan, Siap Jadi Rimbawan Muda • Rotasi Besar Kapolres Sulsel: 5 Kursi Berganti, Ini Daftar Komandan Baru •
Islam

Dari Umat Terdahulu Hingga Kini, Puasa Ramadan: Sejarah Panjang Penuh Makna

1257
×

Dari Umat Terdahulu Hingga Kini, Puasa Ramadan: Sejarah Panjang Penuh Makna

Sebarkan artikel ini
Dari Umat Terdahulu Hingga Kini, Puasa Ramadan: Sejarah Panjang Penuh Makna
Puasa Ramadan, salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan umat Muslim, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ibadah ini memiliki sejarah panjang yang melintasi berbagai zaman, serta makna spiritual dan sosial yang mendalam. Mari kita telusuri perjalanan puasa Ramadan, dari awal mula hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari syariat Islam.

MEDIASULSEL.COM—Puasa Ramadan, salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan umat Muslim, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ibadah ini memiliki sejarah panjang yang melintasi berbagai zaman, serta makna spiritual dan sosial yang mendalam. Mari kita telusuri perjalanan puasa Ramadan, dari awal mula hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari syariat Islam.

Sejarah mencatat, puasa bukan praktik eksklusif umat Islam. Jauh sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus, umat-umat terdahulu telah mengenal puasa dalam berbagai bentuk. Al-Qur’an pun mengisyaratkan hal ini, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Umat Yahudi, misalnya, berpuasa sebagai bentuk pertobatan dan peringatan peristiwa bersejarah, seperti keluarnya Nabi Musa AS dari Mesir.

Umat Nasrani pun memiliki tradisi puasa 40 hari (Puasa Prapaskah). Bahkan, masyarakat Quraisy di Jazirah Arab telah mengenal puasa Asyura (10 Muharram) sebelum Islam datang, sebagai bentuk penghormatan atas penyelamatan Nabi Musa AS dari Firaun.

Namun, puasa Ramadan dalam bentuknya yang kita kenal sekarang baru diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriyah di Madinah. Melalui wahyu yang tertuang dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berpuasa selama bulan Ramadan.

Awalnya, umat Islam diberi pilihan antara berpuasa atau membayar fidyah. Namun, kemudian puasa diwajibkan bagi setiap Muslim yang baligh dan tidak memiliki uzur syar’i.

Lebih dari sekadar kewajiban, puasa Ramadan mengandung makna filosofis yang mendalam.

Pertama, puasa adalah wujud ketaatan mutlak kepada Allah SWT. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat pribadi, hanya Allah dan diri sendiri yang tahu kadar keikhlasannya.

Kedua, puasa menumbuhkan empati dan rasa syukur. Dengan merasakan lapar dan haus, kita diajak untuk memahami penderitaan sesama yang kurang beruntung, sehingga tergerak untuk berbagi melalui sedekah dan zakat.

Ketiga, Ramadan adalah momen penyucian diri dan pengendalian hawa nafsu. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, kita melatih diri untuk menghindari perkataan dan perbuatan buruk.

Seperti sabda Rasulullah ﷺ, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Keempat, Ramadan adalah momentum mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pahala ibadah dilipatgandakan, dan malam Lailatul Qadar menjadi puncak keistimewaan. Kelima, puasa membangun disiplin dan kebiasaan baik, mulai dari bangun sahur hingga salat tarawih.

Puasa Ramadan adalah perjalanan spiritual yang kaya makna, melintasi sejarah panjang umat manusia. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, Ramadan adalah madrasah kehidupan yang mengajarkan ketakwaan, empati, kesabaran, dan kedisiplinan.

Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai titik balik untuk meningkatkan kualitas diri dan memperbanyak amal kebaikan. (*)

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com