Beranda » Opini » Diskursif Atlet Khabib dan Miftahul Jannah
Diskursif Atlet Khabib dan Miftahul Jannah
Diskursif Atlet Khabib dan Miftahul Jannah (Ilustrasi)
Opini

Diskursif Atlet Khabib dan Miftahul Jannah

OPINI – Akhir pekan ini kita di hebohkan berita olahraga yang membaut netizen latah menanggapi berita dengan anggapan rasisme dan diskriminasi. Berita mengenai kemenangan Khabib Nurmagomedov dan atlet disabiltas Miftahul Jannah. Kedua atlet ini berbeda negara dan olahraga, kesamaanya hanya pada keyakinannya, yaitu Agama Islam.

Dinegara Indonesia memiliki pemeluk Agama Islam terbesar di dunia. Jadi wajar bila netizen di Indonesia gampang tereaksi oleh isu buruk tentang Agama Islam, termasuk berita Khabib penggulat MMA yang mengikuti ajan UFC dan Miftahul Jannah yang mengikuti kejuraan Asian Para Games 2018 untuk atlit penyandang disabilitas. Kedua atlit saat mengikuti pertandingan di ajan masing-masing, anggapan Netizen memiliki kejanggalan pada persoalan Agama.

Dimana Khbib Nurmagomedov mengalami perlakuan rasisme dari Conor McGregor sehingga presiden UFC memberikan tanggapan akan ditandingkan kembali dan Miftahul Jannah terdiskualifikasi karna mempertahankan jilbabnya pada pertandingan Judo.

Dari berita ini reaksi Netizen memunculkan geram mereka kepada McGregor dan Juri pada pertandingan judo di Asian Para Games 2018.

Kemenangan Khabib atas McGregor memberikan kebanggaan ummat muslim di dunia. Sebab Khabib membuktikan kepada dunia bahwa keyakinan terhadap Agama Islam mampu membawanya sebagai pemain UFC yang tak pernah terkalahkan sampai saat ini.

Namun ada hal yang memicu kegeraman ummat Muslim, atas perkataan dan perilaku rasisme McGregor kepada diri pribadi Khabib yang mengaitkan persoalan Agama, Negara dan Ayahnya.

McGregor memang beberapa kali menghina Khabib dan orang-orang dekatnya. Mulai dengan menyebut manajernya sebagai teroris, mengejek Khabib yang tak mau minum alkohol, hingga yang terakhir sebelum bertarung, Conor mengunggah foto dirinya di Twitter dengan diberi cuitan: “Bersantai di [neraka] Jahannam. Sampai jumpa.”

Tak heran bila Khabib terkesan didalam ring pertandingan jiwanya tak terkontrol karna dibaluti rasa emosional. Terlihat saat McGregor memberikan tanda menyerah saat dikunci oleh Khabib dan wasit ingin melerai namun Khabib terlalu lama melepaskan tangannya.

Namun diluar nalar melihat kesabaran Khabib dan keimanan Agamanya, Khabib memanjat oktagon dan menyerang Dillon Danis rekan tim latihan Mcgregor. Menimbulkan kericuhan di Arena UFC.

Memang McGregor bukanlah orang yang terbilang rasis dan suka membully lawan, namun punya presetasi amat luar biasa. Menjadi atlet UFC satu-satunya yang mampu menjuarai 2 kelas divisi secara langsung.

Pertama, dia berhasil mengalahkan juara bertahan kelas bulu Jose Aldo pada gelaran UFC 194 hanya dalam waktu 13 detik yang menjadikan pertarungan tersebut sebagai pertarungan perebutan gelar UFC tercepat sepanjang sejarah dan kedua dia berhasil mengalahkan juara kelas ringan Eddie Alvarez pada gelaran UFC 205.

Maka wajar saja bila Khabib dibanggakan oleh pemeluk Agama Islam didunia karena mampu mengalahkan orang yang suka membully dan punya berbagai prestasi yang dicapai di olahraga MMA.

Ujaran rasisme ini bukan hanya dialami oleh Khabib Nurmagomedov saja, seperti yang di alami oleh Zidane Zidan yang sekarang menjadi pelatih Real Madrid, pernah dilontari ucapan rasis oleh Marco Materazzi, sampai akhirnya Zidane menyundul Materazzi dan diberikan kartu merah oleh wasit.

Hal inilah yang menyebabkan Timnas Sepakbola Perancis mengalami kekalahan di Final Piala dunia 2014.  Bukan hanya Zidane mengalami hal yang sama meraih kegemilangan juara, Eric Liddle, atlet lari asal Skotlandia, juga pernah menolak untuk turun di lomba sprint nomor 100 meter dalam Olimpiade 1924 di Paris karena lomba itu dilangsungkan pada hari Minggu dan ia mesti ke gereja.

Bila Khabib Nurmagmedov mampu membuktikan kepada dunia di pertandingan olaharaga MMA meski diberlakukan rasis Agama oleh lawan beratnya, namun nasib lain yang menimpa Miftahul Jannah Atlet Judo disabilitas Indonesia.

Miftahul di diskualifikasi oleh wasit Judo pada ajan ASIAN Para Games 2018. Dikarenakan Miftahul mengenakan jilbab dan enggan melepaskannya. Reaksi pun terjadi dan menganggap wasit pada atlit judo Asian Para Games 2018 mendiskriminasi atlet Indonesia.

Pro kontra terjadi, orang yang tak pahamjudo pun ikut memberikan tanggapan dengan ujaran kebencian kepada panitia Judo terlebih kepada wasit.

Kurangnya Netizen memahami olahraga judo, terkesan ‘ngawur’ dalam menanggapi berita dan menkaitkan masalah agama di dalam olahraga judo.

Kurangnya membaca aturan olahraga judo, sampai di dunia sosmed pun dibanjiri dengan pernyataan tak mendidik dan mendungukan.

Padahal harus kita tau bahwa diskualifikasinya dari wasit karena ada aturan tingkat internasional di Federasi Olahraga Buta Internasional (IBSA) bahwa pemain tak boleh
menggunakan hijab dan wajib melepas saat bertanding.

Menurut IJF (Federasi Internasional Judo) karena alasan keamanan. Keamanan yang dimaksud adalah, saat bertanding kedua atlet akan saling mencengkeram dan memiting leher dan karena ini pula hijab bisa berbahaya.

Agama adalah suatu keyakinan utuh manusia di jadikan sebagai pedoman hidup namun pada persoalan olahraga yang memang diciptakan oleh manusia maka tak layak bila Agama tertentu masuk mengatur segala peraturan dalam permainan karna sifatnya keyakinan pribadi manusia yang di atur dalam kitabnya masing – masing pemeluk Agama.

Hal yang mesti dilakukan oleh Asosiasi ditiap cabang olahraga memikirkan hal-hal yang terkait keyakinan beragama pada setiap atlet, seperti hal yang terjadi kepada Miftahul Jannah, seharusnya memikirkan bagaimana membuat terobosan baru agar hal yang bersifat wajib di dalam agamanya tidaklah gugur.

Insiden pelarangan hijab bukan hanya terjadi pada Miftahul semata. Timnas Sepakbola wanita Iran mengalami dilarang bertanding dikarenakan menggunakan hijab karena melanggar peraturan FIFA, namun ditahun 2014 FIFA mencabut peraturan tersebut.

Dalam kejuaraan tinju amatir Sugar Bert Tournament di Florida pada November 2016, Federasi Tinju Amerika Serikat (USA Boxing) melarang salah satu atlet putri AS, Amaiya Zafar, bertarung karena menggunakan hijab saat pertadingan, namun diberikan keluesan mennggunakan hijab di negara Amerika Serikat saja.

Timnas basket putri Qatar juga pernah didiskualifikasi dari pertandingan Asian Games 2014 karena para pemainnya memakai hijab, namun pada Oktober 2017, FIBA secara resmi membolehkan para pebasket putri mengenakan hijab saat bertanding.

Berharap Federasi Internasional Judo memikirkan hal tersebut, agar olahraga judo mampu dimainkan oleh semua kalangan. Teruntuk kepada seluruh cabang olahraga didunia untuk memperhatikah hal-hal yang bersifat Agama, seperti rasisme dan kewajiban yang tak boleh ditinggalkan bagi pemeluk Agama lainnya. [*/shar]

Penulis: Ikhlasul Amal Muslim
Aktivis Mahasiswa