Penghasilan driver ojek online (ojol) mengalami penurunan signifikan sejak beberapa tahun lalu, akibat potongan besar yang dilakukan oleh aplikator.
Hal ini terjadi karena hubungan kerja yang dilandaskan kepada sistem kapitalisme, sehingga Ojol menjadi sepi bahkan tidak menutup kemungkinan akan terpinggirkan.
Inilah yang terjadi dalam sistem Kapitalisme yang memandang mode transportasi sebagai sebuah industri. Cara pandang ini mengakibatkan kepemilikan fasilitas umum transportasi dikuasai perusahaan atau swasta yang secara otomatis berfungsi untuk bisnis bukan pelayanan.
Selain itu, perusahaan aplikasi ojol, lebih fokus pada eksistensi bisnisnya daripada nasib pengemudi. Bahkan dari awal, aplikator tidak serius dalam mengembangkan SDM para pengemudinya.
Adanya ledakan pengemudi baru yang cukup besar dianggap sekadar turn over driver, tidak masalah banyak yang keluar masuk, yang penting bisnis tetap berjalan. Bisnis aplikasi ini pun tetap bisa berjalan efisien dan menghasilkan keuntungan besar.
Watak kapitalistik jelas sangat terlihat, yaitu prinsip mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya semurah-murahnya yang dipraktikkan di depan mata kita.
Walhasil, pengemudi ojol yang merasa terzalimi, kecewa, akhirnya meninggalkan aplikasi itu, yang membuat ojol tersebut semakin terpinggirkan, sehingga memilih pekerjaan lainnya.
Inilah nasib bisnis yang dibangun tanpa fondasi kuat dan hanya memikirkan keuntungan sesaat tanpa memperhatikan nasib mitra atau pekerjanya.
Ironisnya, penguasa di negeri yang menganut sistem demokrasi/kapitalis ini terlihat tertatih-tatih dalam meregulasi bisnis-bisnis ini.












