GOWA – Tantangan pendidikan di era digital tidak lagi sebatas bagaimana siswa mampu menguasai teknologi. Lebih jauh, sekolah dituntut memastikan anak mampu menggunakan ruang digital secara aman, kritis, dan bertanggung jawab.
Semangat tersebut diwujudkan SMP Negeri 2 Sungguminasa melalui keterlibatan salah satu gurunya, Muji Budi Lestari, S.Pd., M.Pd., dalam program Safe & Smart 2026. Muji terpilih sebagai salah satu peserta dari 1.200 guru yang berasal dari 120 sekolah di berbagai daerah di Indonesia.
Program ini merupakan kolaborasi BerdayaBareng dan British Embassy Jakarta melalui Digital Access Programme, dengan dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Bagi SMPN 2 Sungguminasa, keterlibatan tersebut menjadi peluang untuk memperkuat kapasitas pendidik dalam menghadapi perubahan pola belajar anak yang semakin erat dengan teknologi dan internet.
Rangkaian program Safe & Smart 2026 dimulai melalui Kick Off secara daring pada Rabu (12/8/2026). Peserta kemudian mengikuti pembelajaran dan pelatihan secara berjenjang melalui skema daring dan luring hingga kegiatan tatap muka.
Materi yang diberikan tidak hanya berbicara soal kemampuan menggunakan teknologi. Peserta dibekali pengetahuan Child Online Protection (COP), mulai dari literasi dan keamanan digital, pengenalan risiko internet, berpikir kritis dalam bermedia sosial, hingga menciptakan ruang digital yang inklusif dan ramah anak.
Peserta juga mendapat pemahaman mengenai penerapan perlindungan anak di lingkungan sekolah serta pengasuhan dan ketahanan anak di tengah perkembangan teknologi.
Hal ini menjadi penting mengingat internet telah menjadi bagian dari keseharian peserta didik. Di satu sisi, ruang digital membuka akses luas terhadap informasi dan pembelajaran. Namun di sisi lain, anak juga berhadapan dengan berbagai risiko, seperti cyberbullying, misinformasi, online grooming, hingga eksploitasi di dunia maya.
Perwakilan Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utama, menekankan bahwa menciptakan ruang yang aman bagi anak membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Perlindungan tidak cukup diberikan ketika anak berada di lingkungan sekolah, tetapi juga harus diperhatikan saat mereka beraktivitas di ruang digital.
Pandangan serupa disampaikan Nadhira N dari British Embassy Jakarta. Menurutnya, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, menghadirkan manfaat sekaligus tantangan bagi anak. Karena itu, kemampuan mengakses teknologi perlu dibarengi pengetahuan untuk menggunakannya secara aman dan bertanggung jawab.
Safe & Smart 2026 melibatkan 28 fasilitator pendidikan, 1.200 guru, 120 sekolah, serta sekitar 12.000 siswa, orang tua, dan keluarga yang tersebar di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar.
Keikutsertaan Muji diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas pribadi. Setelah mengikuti seluruh rangkaian program, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh akan diimbaskan kepada guru, siswa, dan orang tua di lingkungan SMPN 2 Sungguminasa.
Dengan demikian, program ini menjadi bagian dari upaya sekolah mempersiapkan warga belajar menghadapi era digital. Sebab, pendidikan yang relevan dengan zaman bukan hanya mengajarkan anak bagaimana memanfaatkan teknologi, tetapi juga membekali mereka agar mampu tumbuh aman, cerdas, kritis, dan bertanggung jawab di ruang digital.(red/Ag4ys)













