Kampus Peradaban, Antara yang banyak pacadarnya dan ketakutan orang tua (Rosmawati Mahasiswa UIN Alauddin)

OPINI – Saya jatuh ingat ketika ditanya sama teman beberapa tahun yang lalu “Kamu kuliah dimana?” ketika saya jawab “Di Kampus Peradaban UIN Alauddin Makassar”. Eh malah dijawab balik “Oh yang banyak pacadarnya toh?”.

Entahlah, mungkin karena memang iya, atau bagaimana? Saya tidak sempat balas percakapan waktu itu dengan membantah atau menerima.

Saya hanya tersenyum dan beranggapan kalau seperti memang itu, mungkin karena selama kamu ke kampus UIN Alauddin Makassar kamu dipertemukan oleh wanita wanita yang bercadar, iyyakan? Bisa jadi!

Kalau dalam kacamata saya sendiri, memang iya kampus peradaban memiliki mahasiswi bercadar yang mungkin bisa katakan sering kita temui entah berapa jumlahnya?

Tapi bukan berarti kampus peradaban di dominasi dengan mahasiswi yang bercadar.

Toh, saya sendiri sebagai penulis dengan jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, malah tidak menemukan satupun teman kelas yang bercadar.

Kami hanya menggunakan jilbab seperti mahasiswi lainnya dan perbedaan umumnya ialah banyak dari teman teman yang ukuran jilbabnya mungkin sedikit lebih panjang.

Dalam perihal ini, kami sama sekali tidak menilai busana cadar sebagai pemandangan yang buruk terlebih harus menjauh dari mereka, toh kami sama sama mahasiswi yang tujuannya ialah menuntut ilmu, tidak lebih.

Namun sayangnya, ada banyak pandangan pandangan orang tua diluaran sana yang malah menjadikan Cadar sebagai penilaian ketika hendak melanjutkan kuliah di Kampus Peradaban. Terlebih di musim-musim penerimaan mahasiswa baru seperti sekarang ini.

Jelas mereka akan beranggapan, “Di sana banyak Pacadarnya, bagaimana kalau terdoktrin anak anak, bagaimana kalau mereka juga ikut bercadar, bagaimana kalau yang bercadar itu menganut paham ini, paham itu, paham ini itu?”

Sungguh, dugaan yang sangat berdampak! Lama kelamaan kalau komentar yang seperti ini dipelihara dan berkembangbiak, malah membuat para orang tua diluaran sana pada phobia dengan Kampus Peradaban.

Mungkin sedikit memprihatinkan mengenai pandangan-pandangan yang bisa dianggap sedikit keliru. Pakaian tertutup yang dinilai sebagai pakaian Ekstrem.

Pakaian yang dengan sengaja mempertontonkan aurat atau pakaian ketat yang memaksa lekukan tubuh, nampak malah dibiarkan begitu saja dan menjalar kemana mana.

Apa karena pakaian yang cukup tertutup terlihat amat berbahaya ketimbang pakaian yang menampakkan aurat?

Apa karena sekarang Indonesia sedang gembor-gembornya dengan aliran atau paham yang dianggap anti pancasila?. Mungkin saja.

Sehingga wajar jika ada begitu banyak diantara kita yang sangat sensitif dengan pakaian yang dianggap sebagai pakaian teroris, yang tujuannya untuk menghancurkan Indonesia, positive Thinking aja!

Mungkin kita masih ingat tentang tanggapan Dr Ferihana perihal hinaan yang sempat melabrak dirinya ketika usai tampil di acara Talkshow Kick Andy dengan perkataan “Sebagai Dokter dan Manusia anda sungguh Munafik dan Memalukan”.

Tanpa harus marah dan kecewa, Dr Ferihana dengan bahasa yang santun pun bertutur

“Saya mengerti bapak berbeda keyakinan dan ras dengan saya. Namun saya menasehati untuk bapak, hendaknya belajar berkomentar yang baik dan tidak memojokkan dan merendahkan Agama lain.

Pakaian saya bukanlah pakaian Provokasi, namun demikianlah ajaran agama saya, yang ini merupakan Sunnah Nabi yang mulia”

Jikalau kalau kita nonton acara Talkshow tersebut yang tayang dua tahun terakhir dimana ketika sang Dokter diwawancarai oleh Presenter Kondang Kick Andy dan menghubungkannya dengan hinaan Akun Wei Young.

Jelas akan muncul pertanyaan tentang dari mana si akun Wei Young ini berkesimpulan bahwa Dr. Ferihana Munafik dan memalukan?

Toh sepanjang wawancara, beliau hanya menjelaskan profesinya sebagai seorang Dokter? Kemuliannya yang rela membangun klinik untuk warga sekitar tanpa harus adanya bayaran?

Bahkan lebih mengagumkannya lagi, beliau membangun Rumah Singgah Untuk para janda tanpa harus menerima donasi dari pihak manapun.

Dan sebenarnya, bukan hanya akun Wei Young yang sempat menghina Dr. Ferihana, melainkan ada beberapa pihak yang memang sengaja menjatuhkan beliau dan itu lagi lagi karena cadarnya yang selalu saja dianggap tidak beres.

Entah karena menjurus pada teroris, dianggap sebagai bentuk kefanatikan ataupun bentuk bentuk lainnya yang kononnya patut dijauhi dan dijatuhkan.

Memang iya, cadar akhir-akhir ini, selalu saja diarahkan pada sesuatu yang buruk. Persis ketika ingatan kita kembali pada salah satu kampus yakni Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang ketika meminta para mahasiswi-nya membuka cadar dengan alasan tertentu.

Sebenarnya, mendengar perintah pelarangan cadar pada Kampus ini, seakan menjadi cambukan pedih bagi mereka yang bercadar, mengapa tidak?.

Secara tidak langsung pelarangan dalam pemakaian cadar telah memaksakan kehendak dan pola pikir serta amat membatasi hak Mahasiswa dalam praktik keagamaan.

Beruntungnya? Pelarangan cadar ini pun berakhir dengan pencabutan surat Rektor dengan No B-1301/Un02/R/AK.00.3/02/2018 tentang pembinaan mahasiswi bercadar yang dimana pada surat tersebut ditandangani langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Bapak Prof. Yudian Wahyudi (republika.co.id)

Karena keasyikan menilai yang ‘tidak-tidak’ tentang cadar, entah karena sesatlah, fanatik, teroris, berbahaya. Kita malah lupa tentang perjuangan mereka (wanita wanita yang bercadar) untuk tetap Istiqomah di balik kain penutup wajah mereka.

Bahkan saya kadang bertanya. “Apakah saya mampu bertahan seperti mereka ketika mengenakan cadar kemudian dianggap buruk oleh orang orang sekitar? Sepertinya tidak!”

Sungguh betapa kuat dan betapa mulianya mereka yang tanpa harus pusing dengan make up tebal yang hanya menampilkan kecantikan yang palsu. Lantas apa yang membuat mereka masih saja dicaci dan dimaki?

Salah satu komentar miring yang saya anggap sebagai komentar legend para penonton diluaran sana, ialah ketika dikatakan pada mereka. “Kenapa pakai cadar? Cuman Orang Arab yang pakai cadar. Tidak perlu berlebihan dalam berpakaian, yang biasa-biasa saja”.

Memang iya, kita sebagai umat islam sangat dilarang berlebih-lebihan dalam berpakaian. Bahkan dalam firmannya, Allah mengatakan “Janganlah berlebih lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berlebih lebihan”

Perihal ini sangat jelas pada QS. Al-A’raf ayat 31. Namun yang menjadi catatan penting ialah Cadar tidak masuk dalam ruang lingkup ayat ini sebagai pakaian yang berlebih-lebihan.

Lebih parahnya lagi, kalau beberapa penonton malah menyalahkan cadar yang berasal dari warna atau style cadarnya.

“Orang Arab itu pakai cadar cuman satu warna, hitam! Lah ini, pakai cadar warna warni, pakai cadar kok nampak cari perhatian, mementingkan fashion? Dimana gaya cadarnya lagi yang terlilit-lilit?”

Pliss deh, mungkin karena merasa pakaian kita sudah sempurna, sudah merasa oke dan merasa sudah seperti apa yang diharapkan Nabi, akhirnya malah nyosor pada pakaian orang lain dan berkomentar seenaknya.

Mengapa mereka memakai cadar berwarna? Bisa jadi mereka phobia dengan warna hitam, bisa jadi karena mereka sukanya warna cokelat, so wajar mereka menggunakan cadar berwarna cokelat.

Tak heran jika sebagai manusia memang kadang membingunkan, mengapa tidak?

Ketika menyaksikan perempuan bercadar dengan warna Hitam mulai dari ujung kaki sampai kepala malah dianggap ekstrem dan menduga bahwa jangan jangan mereka teroris.

Namun ketika mengenakan Jilbab panjang dengan cadar yang berwarna malah dianggap mementingkan nilai fashion dari pada tujuan dari cadarnya sendiri. Kan serba salah jadinya?

Terlebih kalau menganggap bahwa orang orang yang bercadar itu hanya ingin berbaur dengan komunitasnya sendiri. Sebagai penulis akan beranggapan bahwa pandangan itu salah besar!

Mereka tak secuek yang kita kira, mereka ramah dan sama dengan perempuan perempuan lainnya.

Kita bisa ambil contoh mungkin dengan melirik sang Dr. Ferihana yang memeriksa pasien yang tidak hanya berasal dari kalangan cadar saja, bahkan beliau memeriksa dari berbagai kalangan pasien sekalipun berasal dari agama lain.

Yang pastinya, kita tak perlu salah nilai akan keberadaan cadar. Toh Faktanya Rasulullah mensunnahkan cadar bagi seorang wanita bukan?

Lantas di titik mana hingga dikatakan cadar adalah sesuatu yang tak semestinya dikenakan terlebih di area kampus yang katanya dianggap sebagai pemandangan yang tidak enak?

Jangan jangan kitalah yang terlalu jauh dari ajaran Agama hingga memandang bahwa mereka yang terlalu dekat dengan ajaran dianggap salah dan berlebihan.

Anehnya yang sering berpandangan keliru adalah mereka yang berasal dari kalangan Islam itu sendiri. Jika dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “Orang Mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain”. Lantas mengapa kita sesama muslim malah saling merobohkan?

Sama halnya ketika Dr. Ferihana ditanya dalam acara Talkshow akan tantangan apa yang terberat bagi anda?

Beliau malah menjawab bahwa ketika dirinya dijatuhkan oleh sesama Muslim sendiri, dikatakan sebagai dokter abal-abal lah, dokter abu-abu dan lain sebagainya.

Berbeda halnya dengan teman-temannya yang berasal dari kalangan Nasrani, mereka malah mendukung, dan itulah yang kadang membuatnya bersedih hati.

Sejatinya, Hidup memang kadang tak sebaik apa yang kita perkirakan. Bisa saja kita mendapatkan hinaan dari orang yang kita anggap sebagai saudara kita sendiri. Sebaliknya kita malah mendapatkan dukungan dari mereka yang sebenarnya bukan siapa-siapa.

Biodata Singkat Penulis

Rosmawati atau yang sering dipanggil Nonna, penulis lahir di Moncongbori 3 september 1997. Bertempat tinggal di desa Moncongbori, Kec. Labakkang, Kab. Pangkep, Sulsel

Saat ini Nonna, bergabung di Organisasi FLP (Forum Lingkar Pena). Juga tercatat sebagai Mahassiwa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Alauddin Makassar. (*)