MAKASSAR—Kesehatan mental mahasiswa di Makassar, khususnya di Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Universitas Muslim Indonesia (UMI), dan Universitas Islam Makassar (UIM), semakin menjadi perhatian serius. Tekanan akademik dan tuntutan sosial yang dihadapi mahasiswa kerap mengarah pada masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, stres, dan gangguan tidur yang tidak teratur.
Muhammad Nur Latief, seorang dosen psikologi, menjelaskan bahwa mahasiswa sering kali menghadapi tekanan dari berbagai sisi.
“Mahasiswa sering terjebak antara apa yang mereka inginkan dan aturan yang ada, yang semakin memperberat beban mereka. Hal ini membuat mereka semakin tertekan, baik oleh tugas akademik yang menumpuk maupun oleh dinamika sosial yang kompleks,” ungkapnya.
Tekanan tersebut bisa menyebabkan masalah psikologis seperti kegelisahan, kurangnya rasa percaya diri, dan pola pikir negatif.
Menurut Nur Latief, kesehatan mental mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan tidak adanya gangguan mental, tetapi juga mencakup kesejahteraan emosional dan psikologis yang seimbang.
Ia menekankan pentingnya berpikir positif dan tidak terburu-buru dalam membuat keputusan atau pendapat.
“Mahasiswa perlu diarahkan untuk lebih memantapkan keyakinannya agar mereka bisa menghadapi tekanan dengan kepala dingin,” tambahnya, Rabu (8/1/2025).
Dosen juga memegang peran penting dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa. Nur Latief berharap agar dosen tidak memberikan tugas yang berlebihan sehingga mahasiswa memiliki cukup waktu untuk beristirahat.
“Kurangnya istirahat dapat berdampak serius pada kesehatan mental mereka,” jelasnya. Selain itu, ia mendorong adanya wadah konseling di kampus untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya kesehatan mental.
Murniyati Aleng, seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), berbagi pengalamannya mengenai tantangan kesehatan mental yang dihadapi oleh banyak mahasiswa. Ia mengungkapkan bahwa kecemasan dan stres akibat banyaknya tugas akademik sering mengganggu pola tidurnya.
“Tidur yang tidak teratur dapat memengaruhi kesehatan mental secara keseluruhan,” ujarnya. Murniyati juga menekankan pentingnya dukungan sosial dalam mengatasi stres.
“Lingkungan sosial yang positif sangat membantu dalam mengurangi kecemasan dan menjaga keseimbangan mental,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan Mahadir, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, yang mengungkapkan bahwa tekanan akademik, seperti tuntutan tugas yang semakin berat, berkontribusi besar terhadap masalah kesehatan mental mahasiswa.
Sementara mahasiswi dari Universitas Islam Makassar (UIM), Srinida, juga menyoroti masalah serupa, dengan menambahkan bahwa perasaan tertekan, kecemasan, dan kurangnya waktu tidur semakin memperburuk kondisi psikologis mahasiswa.
Untuk mengatasi masalah ini, sejumlah seminar mengenai kesehatan mental telah dilaksanakan di kampus-kampus di Makassar. Seminar-seminar tersebut bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan strategi self-care yang efektif, serta mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kegiatan akademik dan kesehatan mental.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya kesehatan mental sebagai bagian dari kesejahteraan mereka.
Dengan adanya kegiatan semacam ini, diharapkan kesadaran tentang kesehatan mental di kalangan mahasiswa akan semakin meningkat. Dukungan dari dosen dan lingkungan sosial yang positif sangat penting untuk menciptakan atmosfer yang mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Secara keseluruhan, perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa di Makassar semakin mendesak, seiring dengan meningkatnya tekanan akademik dan sosial yang mereka hadapi. Upaya kolaboratif antara institusi pendidikan, dosen, dan komunitas sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan mental mahasiswa demi masa depan yang lebih baik. (Cj/Ag4ys)
Citizen Journalism: Zainab L. Abduka (Mahasiswi Dakwah & Komunikasi UINAM)













