PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Dandenpom Makassar Warning Prajurit, Jaga Sikap di Lapangan dan Tidak Sembarangan di Medsos • TACO dan MD Entertainment Kolaborasi di Film Filosofi Teras • 153 POKMAS Rumah Pangan B2SA di Makassar Didorong Terapkan Pola Konsumsi Sehat • Gubernur Sulsel Tegaskan, Sitti Husniah Talenrang Tetap Jalankan Tugas Selama Belum Ditahan • 4 Pintu Uang Bupati Gowa Dibongkar Polda Sulsel, Jejaknya Mengarah ke Rumah dan Mobil Miliaran • Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama IAMI, Imam Masjid Dunia Satukan Langkah di Jakarta • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • Dandenpom Makassar Warning Prajurit, Jaga Sikap di Lapangan dan Tidak Sembarangan di Medsos • TACO dan MD Entertainment Kolaborasi di Film Filosofi Teras • 153 POKMAS Rumah Pangan B2SA di Makassar Didorong Terapkan Pola Konsumsi Sehat • Gubernur Sulsel Tegaskan, Sitti Husniah Talenrang Tetap Jalankan Tugas Selama Belum Ditahan • 4 Pintu Uang Bupati Gowa Dibongkar Polda Sulsel, Jejaknya Mengarah ke Rumah dan Mobil Miliaran • Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama IAMI, Imam Masjid Dunia Satukan Langkah di Jakarta •
Opini

Ketika Bissu Dijadikan Alat Untuk Menormalisasi Gender Non-Binary

2536
×

Ketika Bissu Dijadikan Alat Untuk Menormalisasi Gender Non-Binary

Sebarkan artikel ini
Ketika Bissu Dijadikan Alat Untuk Menormalisasi Gender Non-Binary
Muhammad Ivan Cahyadi. (Foto: Pribadi)

OPINI—Beberapa waktu lalu viral di jagat maya seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin diusir dari ruangan ketika mengikuti kegiatan pengenalan kampus.

Hal itu terjadi karena mahasiswa tersebut mengaku bahwa dirinya adalah seorang non–binary, lantas hal itu dijawab oleh wakil dekan dengan salah satu dosen bahwa di Indonesia hanya mengakui dua jenis gender yaitu laki-laki dan perempuan dan sempat mempertanyakan gendernya yang tercantum di dalam kartu tanda penduduknya, lantas hal itu membuatnya diusir dari ruangan.

Dari kasus tersebut kita dapat mempertanyakan apakah gender Non–Binary ini masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia?

Berdasar pada definisinya Non–Binary adalah istilah gender yang tidak merujuk pada satu gender apapun baik itu perempuan atau laki-laki bahkan dapat dikatakan diluar dari kedua gender tersebut.

Sebenarnya gender Non–Binary di Indonesia bukanlah hal yang baru terutama bagi masyarakat Bugis yang mengakui lima jenis gender diantaranya; Laki-laki, Perempuan, Calalai, Calabai, dan Bissu.

Dari kelima jenis gender yang diakui masyarakat bugis dapat dikatakan Bissu merupakan gender Non–Binary karena mereka tidak dianggap sebagai laki-laki atau perempuan tetapi mewakili kedua spektrum gender tersebut.

Hal itu ditandai oleh gaya mereka seperti menambahkan unsur bunga dalam berpakaian sebagai lambang feminim dan juga memakai badik yang diidentikan dengan maskulinitas laki-laki.

Bahkan menurut WHO “Gender is the socially constructed characteristics of women and men such as norm, roles, and relationships of and between groups of women and men” jadi gender lebih mengacu pada konstruksi masyarakat tentang ciri-ciri perempuan dan laki-laki misalnya seperti norma, peran, dan hubungan antara perempuan dan laki-laki.

Singkatnya, gender lebih berhubungan dengan bagaimana cara kita dibesarkan berdasar standar cowok dan cewek ideal dimata masyarakat, misalnya dimana cewek harus dipandang manis, gema-gemulai sedangkan cowok harus dipandang gagah perkasa.

Sudah puluhan tahun berbagai filsuf dunia mencoba mengkaji isu gender salah satunya filsuf perempuan asal negeri paman sam, Judith Butler dalam bukunya “Gender Trouble” dalam buku tersebut beliau menyampaikan pandanganya bahwa gender tidak bersifat biner, sehingga fenomena Bissu pada masyarakat bugis seharusnya kita lihat sebagai bentuk ekspresi gender ketimbang gender sekalipun terjadi kontradiksi karena kebanyakan masyarakat terutama masyarakat Bugis menganggap itu sebagai gender.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com