PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Magnifique Group Angkat Masa Depan Media dan AI di IdeaFestSulsel di Tengah Perebutan Investasi Indonesia Timur4 Tahun Makan Debu, Warga Bone Menangis Lihat Jalan Ujung Lamuru–Palattae Mulai MulusTim PPK Ormawa BKMF SINAPSIS FIKK UNM Paparkan Inovasi Baruga SIPAKATAU di PKP InternalModerasi di Rumah Sakit, Benarkah Menjamin Pelayanan yang Toleran?Abu Gunung Anak Krakatau Meluas, Kapolri Perintahkan Polisi Siaga Evakuasi dan Tangani Warga TerdampakPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Magnifique Group Angkat Masa Depan Media dan AI di IdeaFestSulsel di Tengah Perebutan Investasi Indonesia Timur4 Tahun Makan Debu, Warga Bone Menangis Lihat Jalan Ujung Lamuru–Palattae Mulai MulusTim PPK Ormawa BKMF SINAPSIS FIKK UNM Paparkan Inovasi Baruga SIPAKATAU di PKP InternalModerasi di Rumah Sakit, Benarkah Menjamin Pelayanan yang Toleran?Abu Gunung Anak Krakatau Meluas, Kapolri Perintahkan Polisi Siaga Evakuasi dan Tangani Warga Terdampak
Opini

Ketika Dolar Menentukan Isi Dapur Rakyat

142
×

Ketika Dolar Menentukan Isi Dapur Rakyat

Sebarkan artikel ini
Megawati (Aktifis Dakwah dan Pemerhati Sosial)
Megawati (Aktivis Dakwah dan Pemerhati Sosial)

OPINI—Hari ini bukan hanya harga kedelai yang naik. Yang ikut naik adalah kecemasan rakyat kecil mempertahankan hidup. Pengusaha tempe takut pelanggan pergi jika harga dinaikkan, sementara masyarakat sendiri makin kesulitan membeli kebutuhan pokok. Akhirnya, rakyat kecil saling menahan beban di tengah sistem ekonomi yang gagal memberi perlindungan.

Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali berdampak pada kenaikan harga kedelai impor. Kondisi ini mulai dirasakan para pelaku usaha tahu dan tempe di Kabupaten Maros karena biaya produksi ikut meningkat.

Harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp10 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp11.400 per kilogram hanya dalam sebulan terakhir. Kenaikan harga plastik kemasan bahkan disebut mencapai sekitar 50 persen. (Sindomakassar.com/19/05/2026)

Meski biaya produksi terus naik, para pengusaha tahu dan tempe mengaku belum berani menaikkan harga jual. Mereka takut pelanggan lari karena persaingan usaha yang ketat dan daya beli masyarakat yang semakin lemah. Akibatnya, keuntungan usaha turun hingga hampir 10 persen hanya demi mempertahankan pelanggan dan menjaga produksi tetap berjalan.

Beginilah wajah ekonomi rakyat dalam sistem kapitalisme. Ketika dolar menguat, dapur rakyat ikut terguncang. Harga pangan naik, biaya produksi melonjak, usaha kecil tertekan, dan masyarakat dipaksa menerima keadaan seolah semua ini sesuatu yang wajar.

Kapitalisme Menjadikan Rakyat Tunduk pada Dolar

Naiknya harga kedelai bukan sekadar persoalan perdagangan biasa. Ini adalah bukti bagaimana sistem kapitalisme membuat kehidupan rakyat bergantung pada kekuatan ekonomi global.

Indonesia adalah negeri agraris dengan tanah subur dan sumber daya melimpah. Namun ironisnya, kebutuhan dasar seperti kedelai justru masih bergantung pada impor. Akibatnya, ketika dolar menguat dan rupiah melemah, rakyat langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.

Artinya, hari ini isi dapur rakyat Indonesia tidak lagi ditentukan oleh kemampuan negeri sendiri, tetapi oleh pergerakan dolar Amerika dan pasar global. Inilah bentuk nyata ketergantungan yang lahir dari sistem ekonomi kapitalisme.

Kapitalisme menjadikan negara lebih sibuk menjaga stabilitas pasar dan kepentingan impor dibanding membangun kemandirian pangan. Negara seolah hanya menjadi pengatur lalu lintas ekonomi, sementara rakyat kecil dipaksa bertahan sendiri menghadapi tekanan hidup.

Yang paling terpukul tentu para pelaku usaha kecil. Mereka harus memilih antara menaikkan harga dan kehilangan pelanggan atau mempertahankan harga tetapi keuntungan terus menurun. Dalam kondisi seperti ini, rakyat kecil dipaksa saling menanggung penderitaan tanpa perlindungan nyata dari negara.

Lebih parah lagi, kondisi ini terus dianggap normal. Setiap rupiah melemah, harga pangan naik. Setiap dolar menguat, rakyat kembali diminta “memahami keadaan”. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kegagalan sistem dalam menjaga kedaulatan ekonomi dan pangan.

Islam Menolak Ketergantungan Ekonomi kepada Asing

Islam memandang pangan sebagai kebutuhan dasar rakyat yang wajib dijamin negara. Karena itu, negara tidak boleh membiarkan kebutuhan strategis bergantung kepada impor dan permainan pasar global.

Dalam sistem Islam, negara wajib membangun kemandirian pangan dengan menghidupkan pertanian, membantu produksi lokal, dan memastikan distribusi berjalan adil. Negara juga tidak boleh menyerahkan urusan kebutuhan pokok kepada mekanisme pasar bebas yang hanya menguntungkan pemilik modal besar.

Islam pun memiliki sistem mata uang berbasis emas dan perak yang lebih stabil sehingga nilai uang tidak mudah dihancurkan oleh krisis dan permainan spekulan. Dengan sistem ini, ekonomi rakyat tidak mudah terguncang hanya karena menguatnya dolar asing.

Negara dalam Islam juga wajib hadir melindungi rakyat kecil, termasuk para pengusaha tahu dan tempe. Mereka tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi yang terus membesar.

Dakwah dan Urgensi Perubahan Sistem

Masalah kedelai hari ini hanyalah satu dari banyak bukti rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme. Selama negeri ini terus bergantung pada impor dan tunduk pada kekuatan dolar, maka rakyat kecil akan terus menjadi korban setiap krisis ekonomi.

Hari ini kedelai naik, besok bisa beras, minyak, listrik, bahkan kebutuhan pokok lainnya. Selama akar masalahnya tidak diselesaikan, penderitaan rakyat hanya akan terus berulang dengan bentuk yang berbeda.

Karena itu, solusi hakiki tidak cukup hanya dengan operasi pasar, subsidi sementara, atau janji stabilitas harga. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistem secara menyeluruh.

Dakwah Islam harus terus menyadarkan umat bahwa Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga memiliki solusi nyata dalam mengatur ekonomi, menjaga pangan, dan melindungi rakyat dari ketergantungan kepada asing.

Rakyat tidak membutuhkan sistem yang membuat hidup mereka ikut naik turun bersama dolar. Rakyat membutuhkan sistem yang menjadikan negara benar-benar pelindung dan pengurus kebutuhan mereka. Dan Islam menawarkan solusi itu. (*)

Wallahu a’lam bishshowab.


Penulis:
Megawati
(Aktivis Dakwah Pemerhati Sosial)

Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com