Menilik Polemik Kompor Listrik

Menilik Polemik Kompor Listrik
Andi Annisa Nur Dzakiyyah, S.Pd (Aktivis dakwah, praktisi pendidikan).

OPINI—Setiap rumah tangga pasti selalu menginginkan asap dapurnya terus mengepul. Kaum papa rela mengorbankan waktu, tenaga bahkan darah demi misi suci ini tetap terlaksana.

Teringat dulu ketika rakyat menggunakan minyak tanah untuk menyalakan kompor-kompor mereka, malah dipaksa beralih ke gas elpiji. Padahal, Indonesia dikenal kaya akan minyak bumi.

Kini rakyat kembali harus merasakan ketamakan rezim yang menginvasi dapur mereka lewat upaya elektrifikasi, yakni peralihan dari gas elpiji ke kompor listrik.

Pemerintah akan membagikan paket kompor listrik secara gratis kepada 300 ribu rumah tangga yang terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Pembagian ini adalah upaya pemerintah dalam program konversi kompor LPG ke kompor listrik.

Lantas, apa saja isi paket kompor listrik itu?

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, isi paket tersebut terdiri dari satu kompor listrik, satu alat masak dan satu Miniature Circuit Breaker (MCB) atau penambah daya khusus untuk kompor listrik.

Berita Lainnya

“Rencananya tahun ini 300 ribu (penerima). Jadi satu rumah itu dikasih satu paket, kompornya sendiri, alat masaknya sendiri, dayanya dinaikkan,” ujarnya saat ditemui usai rapat dengan Banggar DPR, Selasa (20/9/2022).

Rida menjelaskan harga paket kompor listrik ini sekitar Rp1,8 juta, sehingga jika sasarannya 300 ribu rumah tangga, maka anggaran yang dibutuhkan tahun ini sekitar Rp540 miliar.

Namun, ia juga menyebut besaran ini masih bisa berubah. Pasalnya, ada masukan agar data kompor listrik yang dibagikan dinaikkan.

Lihat Juga:  Strategi Indonesia Ditengah Krisis Ukraina

Rida menuturkan saat ini daya yang bakal dibagikan sebesar 800 watt untuk dua tungku. Namun, ada masukan dari DPR agar dayanya dinaikkan menjadi 1.000 watt (cnnindonesia.com, 22/09/2022).

Berita terkait