PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • 24 PC Muslimat NU Dikerahkan Kawal 177.500 Susu untuk Anak Sulsel • 27 Tusukan Akhiri Hidup Istri di Samata, Suami Ditemukan Tewas Bakar Diri • 177.500 Pcs Susu Disalurkan ke Anak di 24 Kabupaten/Kota Sulsel • Makassar Jadi Pilot Project Nasional, 6.032 RT/RW Dikerahkan Kawal Warga Dapat Perlindungan Sosial • Family Gathering di Tanjung Bayang, Jajaran Kelurahan Bitowa Perkuat Kekompakan • Tetra Pak Dorong Hilirisasi Kelapa Indonesia dari Manado • PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya. • 🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692. • 24 PC Muslimat NU Dikerahkan Kawal 177.500 Susu untuk Anak Sulsel • 27 Tusukan Akhiri Hidup Istri di Samata, Suami Ditemukan Tewas Bakar Diri • 177.500 Pcs Susu Disalurkan ke Anak di 24 Kabupaten/Kota Sulsel • Makassar Jadi Pilot Project Nasional, 6.032 RT/RW Dikerahkan Kawal Warga Dapat Perlindungan Sosial • Family Gathering di Tanjung Bayang, Jajaran Kelurahan Bitowa Perkuat Kekompakan • Tetra Pak Dorong Hilirisasi Kelapa Indonesia dari Manado •
Opini

Menilik Polemik Kompor Listrik

2098
×

Menilik Polemik Kompor Listrik

Sebarkan artikel ini
Menilik Polemik Kompor Listrik
Andi Annisa Nur Dzakiyyah, S.Pd (Aktivis dakwah, praktisi pendidikan).

Transisi energi dari energi fosil menuju energi hijau menjadikan pemerintah menetapkan kebijakan peralihan penggunaan kompor gas ke kompor listrik.

Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah kelebihan suplai energi listrik dan mengurangi subsidi elpiji yang kerap dinikmati juga oleh orang dengan perekonomian mampu.

Hanya saja, polemik demi polemik muncul di sini. Pertama. Rakyat kecil yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima atau pedagang makanan yang menggunakan gerobak akan kesulitan. Mereka mungkin akan mengalami kesulitan jika harus membeli alat penyimpan listrik untuk jualan.

Kedua. PLN terkadang secara bergilir melakukan pemadaman listrik. Terkadang juga, dalam cuaca buruk, listrik tiba-tiba padam. Bahkan, listrik kadang-kadang mati secara tiba-tiba. Apa jadinya dapur jika listrik mati? Tak mungkin para Ibu harus menunggu listrik menyala kembali untuk memasak.

Ketiga. Ketersediaan listrik belum merata. Masih banyak wilayah-wilayah pelosok yang belum dialiri listrik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, masih banyak desa di Indonesia yang belum dialiri listrik. Tercatat, hingga saat ini sebanyak 2.500 desa belum tersambung listrik. Tentulah kebijakan ini akan mempersulit mereka.

Keempat. Tagihan rekening listrik akan semakin membengkak. Hal ini disebabkan karena kompor listrik butuh waktu yang lebih lama untuk panas ketimbang kompor gas LPG. Tentu saja dengan begini, tagihan listrik akan lebih bertambah.

Kelima. Tidak semua jenis panci cocok dan kompatibel untuk kompor listrik. Tentu ini akan membuat kaum ibu harus mengganti panci mereka agar kompatibel dengan kompor listrik. Alhasil, mereka harus mengeluarkan biaya untuk mengganti perabot mereka.

Dari semua masalah ini, jelaslah bahwa rakyat belum sepenuhnya siap dengan program ini. Hal yang mengkhawatirkan adalah adanya wacana kenaikan gas LPG. Mereka yang merasa kesulitan menggunakan kompor listrik akan terjebak sebab gas LPG pun naik.

Pengalihan penggunaan kompor gas ke kompor listrik dengan alasan mengurangi pengeluaran subsidi gas LPG menjadi bukti bahwa  pemerintah berlepas tangan terhadap urusan rakyatnya dan tidak serius menyejahterakan rakyatnya.

Seharusnya LPG itu mampu dijual murah dan tidak mengalami kelangkaan jika saja kekayaan gas alam di Indonesia ini tidak dieksploitasi oleh korporasi dan negara menyetop impor gas.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com