OPINI—Virus Covid-19 tidak hanya merenggut nyawa manusia, namun ternyata dengan perlahan-lahan mematikan mental manusia. Tidak terkecuali, mereka para anak bangsa yang harus terpaksa berinteraksi dalam dunia pendidikan melalui media visual. Memang satu kemudahan yang didapatkan, tapi nyatanya interaksi terhadap dunia maya tidak sampai pada maksud pendidikan saja, lebih dari itu para anak bangsa (pelajar) tanpa sadar terbiasa mengeksplorasi dunia maya tanpa batas, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi (PT).

Kebiasaan interaksi dengan dunia maya, menjadikan mereka bebas mengakses segala jenis informasi yang disajikan, ditambah sangat sedikit orang tua yang mengawasi pergerakan anak-anaknya. Hal ini yang memberikan peluang kepada anak bangsa sibuk dengan aktivitas dunia maya, misalnya sibuk bermain game, menonton video YouTube, dan lainnya. Bahkan mengakses situs-situs yang mengandung tindakan asusila. Fenomena inilah yang kemudian perlahan-lahan mematikan sikap dan moral generasi bangsa Indonesia.

Keadaan memang memaksa untuk menggunakan alat teknologi (misalnya, smartphone, laptop, dan semacamnya) untuk banyak berinteraksi dengan dunia maya, namun realitanya mendatangkan banyak resiko. Berbagai kasus pun bermunculan, seperti banyaknya anak remaja yang memposting foto-foto atau video-video yang tidak senonoh di media sosial, atau yang lebih memprihatinkan seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar rela mengakhiri hidupnya dengan gantung diri hanya karena diputuskan pacarnya. Dan masih banyak lagi kasus memprihatinkan yang merenggut nasib anak bangsa.

Banyak pandangan memberikan penilaian mengapa mental generasi bangsa semakin hari semakin terpuruk terkhusus di masa pandemi ini, diantaranya yang paling berpengaruh adalah kebebasan menggunakan alat teknologi serta tidak adanya pengawasan dalam mengakses segala jenis informasi di duni maya.

Siapa yang akan disalahkan?, Sedangkan bangsa Indonesia ditimpa berbagai macam krisis, dimana ekonomi mengalami resesi, utang semakin bertambah, maraknya isu-isu SARA pemecah belah umat, ditambah perang dingin melawan krisis mental anak bangsa yang semakin kritis.

Pendidikan yang saat ini diandalkan mampu meretas segala bentuk problematika anak bangsa, juga tidak lepas dari kelemahan dan masalah yang butuh solusi. Pengawasan dalam pembelajaran virtual menjadi kekurangan tersendiri bagi para pendidik. Kemudian, pendidikan formal yang diharapkan meningkatkan kualitas para anak bangsa, malah tergerus di masa pandemi ini.

Peran orang tua menjadi akses harapan dan tumpuan utama dalam mendisiplinkan anak-anaknya. Namun, harapan tidak seindah dengan realita. Banyak orang tua belum siap mengambil alih pembinaan dan pengawasan pendidikan anak-anaknya, sehingga mereka lepas tanggungjawab terhadap kebutuhan pendidikannya yang pada akhirnya mereka membiarkan anak-anaknya bebas menggunakan media penunjang pembelajaran yang terhubung dengan internet.

Nahasnya, kebebasan melahirkan tindakan kontradiktif terhadap orientasi pendidikan yaitu mengembangkan potensi dan mencerdaskan individu yang lebih baik. Tujuan ini diharapkan para anak bangsa memiliki kreativitas, pengetahuan, berakhlak mulia, mandiri, dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Olehnya itu, orang tua menjadi tulang punggung para generasi bangsa dan madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Bentuk pembinaan orang tua akan mempengaruhi perilaku dan sikap yang dimiliki anak-anaknya.

Pandemi covid-19 menjadi pelajaran tersendiri untuk kita semua, utamanya pada nasib generasi bangsa. Jika tidak ingin masalah krisis akhlak berlarut-larut dan menenggelamkan mereka, maka mari bersama-sama berbenah.

Para orang tua khususnya, anda tidak ingin melihat anak anda terlilit dengan dimensi hitam yang akan menodai mental dan karakter mereka. Olehnya itu, keseriusan, ketegasan, dan kesabaran anda dalam membina adalah kebutuhan dasar sebagai bentuk kecintaan dan kepedulian kepada para generasi bangsa yang diharapkan di masa yang akan datang memberikan pencerahan terhadap nasib negeri ini.

Mari mewaspadai rusaknya mental anak bangsa, dengan maksimalkan peran sinergitas antara orang tua sebagai madrasatul ula (sekolah pertama) dengan para pendidik di masing-masing instansi pendidikan. (*)

Penulis: Zulkarnain Hasbi