Adaptasi Zaman
Istilah mudik begitu popular di Indonesia pada dasawarsa 1970-an, istilah ini muncul ditengah rencana pembangunan nasional yang begitu besar saat itu. Istilah mudik ini sendiri diambil dari istilah yang popular pada masyarakat Jawa yakni Mulih Disik yang bisa diartikan pulang dulu atau pulang sebentar.
Umar Kayam (2002) menyebut aktivitas mudik akan selalu menjadi esensial dalam kebutuhan aktualisasi masyarakat Indonesia karena besarnya pemahaman asal usul genetis seseorang yang sangat kuat dalam ikatan emosional para pemudik.
Hal ini disadari sangat mengakar kuat dalam nilai-nilai lama dan menjadi identitas asal usul hidup seseorang.
Lebih jauh lagi, kepulangan pemudik dari kota ke desa dianggap sebagai simbol romantisme kenangan bagi jejak sejarah kehidupan seseorang. Inilah beberapa alasan mengapa mudik selalu menjadi istimewa untuk dilakukan seluruh masyarakat Indonesia.
Besarnya angka pemudik Indonesia yang dilakukan saat Idul Fitri sangatlah signifikan. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan di tahun 2017 ada 20 juta pemudik lalu 2018 ada 21,6 juta atau naik 6% dan 2019 ada 23 juta pemudik.
Sementara pada 2020 jumlah kendaraan keluar atau mudik lewat tol 552.759 buah atau turun 66% dan arus balik 438.688 buah atau turun 70%. Ritual mudik ini pun terbukti bisa menggerakkan ekonomi pada semua sektor.
Bank Indonesia (BI) mencatat jika langkah penarikan uang saat momen mudik selalu mengalami kenaikan. Penarikan uang tunai dalam pekan terakhir Ramadan tercatat Rp15 triliun per hari.
Kenyataan ini jelas menunjukan besarnya perputaran uang selama masa mudik di Indonesia. Besarnya uang yang digerakkan dalam aktivitas mudik memunculkan analisa jika mudik merupakan waktu terbaik dalam mendorong produktivitas aktivitas ekonomi.


















