Warga yang diserang dianggap merupakan biang kerok gagalnya fashion show waria yang rencananya akan digelar pada tanggal 25 Juni 2022 lalu. Fashion show tersebut rencananya digelar bersamaan dengan khataman Al-Qur’an.
Pun viralnya kasus Maba Unhas di atas dan beragam kejadian seputar kaum pelangi, makin menegaskan kuatnya cengkeraman liberalisme dalam sistem yang menegasikan aturan Ilahi dalam kehidupan. Rusaknya akal manusia dalam memaknai gender akibat asas yang mendasari sistem saat ini. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan (sekuler).
Sistem yang menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan berekspresi. Melahirkan generasi yang sangat jauh dari tujuan pendidikan nasional, yakni salah satunya berakhlak mulia.
Islam Menjaga Akal
Kisah kaum pelangi banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Perilaku menyimpang yang sangat dimurkai oleh Allah Swt. Memutus dan mengacaukan keturunan (nasab) dan menjadi biang penyakit-penyakit kelamin yang menjijikkan. Dengan demikian merusak struktur peradaban manusia.
LGBT dikenal dengan dua istilah, yakni Liwath (gay) untuk penyuka sesama laki-laki dan Sihaaq (lesbian) untuk penyuka sesama perempuan. Untuk pelaku liwath, Allah Swt. memberi peringatan keras dalam QS. Al-Araf ayat 80, yang artinya: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”
Aturan Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Artinya, apa-apa yang disyariatkan oleh Sang Khaliq pasti menuai kebaikan. Sebaliknya, jika melanggar aturan-Nya, akan terjadi bencana dan kerusakan dimana-mana. Lihatlah kondisi hari ini, ketika kebebasan berekspresi begitu digaungkan.
Apa yang terjadi? Beraneka kerusakan merajalela. Aborsi dimana-mana, kriminalitas tak pandang usia, korupsi menggunung, dan masih banyak lagi kerusakan lainnya. Plus beraneka penyakit kelamin yang ditengarai akibat hubungan seks pelaku kaum pelangi ini.
Syariat Islam kafah yang diterapkan oleh negara, meniscayakan terjaganya akal manusia dari nalar liar dan rusak. Sistem pendidikan yang diadopsi negara dan diimplementasikan dalam berbagai kurikulum serta ditunjang oleh infrastruktur yang lengkap dan qualified, meniscayakan terlahir generasi-generasi cemerlang.
Sebut saja ilmuan muslim sekaliber Az-Zahrawi (penemu teori pembedahan), Abu Raihan Al-Biruni (pakar Fisika), Imam Syafi’i, Al-Haitsami, dan banyak lagi yang lain. Warisan ilmu yang hingga saat ini masih digunakan. Sejarah telah menorehkan dengan tinta emas peradaban Islam yang begitu agung dan gemilang.
Demikianlah penerapan sistem Islam secara paripurna, menjaga akal sehingga tidak ada celah untuk mengekspresikan diri dan bernalar liar seperti hari ini. Mari jaga pemuda dari virus eljibitiqi dan virus-virus lainnya yang merusak, dengan kembali kepada aturan Sang Pencipta. Wallahualam bis Showab. (*)
Penulis: Dr. Suryani Syahrir, ST, MT (Dosen dan Pemerhati Generasi)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












