OPINI – Pemerintah tampaknya akan segera melonggarkan aktivitas sosial serta ekonomi dan bersiap kembali beraktivitas dengan skenario new normal.

Pemerintah sudah gencar mewacanakan ini dan mulai menerapkannya pada lingkungan kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Dwi Wahyu Atmaji mengatakan skenario ini merupakan pedoman yang disiapkan agar PNS dapat bekerja optimal selama vaksin Corona belum ditemukan.

Dia mengatakan waktu penerapan skenario kerja ‘new normal’ ini akan bergantung pada arahan dari Gugus Tugas Covid-19.

“Ya kita harus realistis saja bahwa Corona ini belum ada obat/vaksin, jadi harus tetap waspada,” ujarnya.

Adapun skenario kerja ‘New Normal’ ini ada tiga yaitu Pertama, skenario ini akan menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel (flexible working arrangement) yang membuat ASN bisa bekerja dari kantor, rumah, atau tempat lain.

Kedua, skenario ini juga mewajibkan penerapan protokol kesehatan, seperti jaga jarak, pemakaian masker dan cuci tangan untuk mencegah penularan virus selama bekerja.

Skema ini, jelas Wahyu, tentunya akan diiringi dengan penyesuaian sarana dan ruang kerja.

Ketiga, percepatan dan perluasan penerapan teknologi informasi dan komunikasi juga harus dilakukan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, misalnya melalui e-office, digital signature, dan rapat lewat video conference, (detik.com, 24/05/2020).

Dilain pihak Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari.

“Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ketiga/empat Juni nanti maupun awal Juli. Nah, sekarang ini terlalu gegabah kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal itu,” ujarnya.

Terlalu dini, maksud Hermawan adalah wacana new normal ini membuat persepsi masyarakat seolah-olah telah melewati puncak pandemi Covid-19, namun kenyataan belum dan perlu persiapan-persiapan dalam new normal tersebut.

Pandemik covid 19 memang membuat kehidupan dunia menjadi tak stabil bahkan ekonomi melambat sejumlah pelaku usaha terpaksa menghentikan operasi mereka angka pemutusan hubungan kerja pun meningkat.

Disisi lain pemerintah masih melakukan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB bahkan moda transportasi publik juga belum berjalan normal oleh karena itu pemerintah dalam hal ini berencana untuk mengembalikan kehidupan normal meski ditengah bayang-bayang pandemik.

Bahkan pemerintah sudah merilis beberapa skenario new normal life untuk pekerja PNS, BUMN dan perusahaan.

Semua upaya menormalkan kondisi ekonomi namun tidak diiringi dengan peningkatan penanganan wabah dari aspek kesehatan.

Pemerintah juga belum memiliki peta jalan new normal life hanya mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat memadai agar tak menjadi masalah baru, yakni membangkitkan ekonomi namun membahayakan nyawa manusia, (merdeka.com, 25/05/2020).

Alih-alih membangkitkan ekonomi justru wabah gelombang kedua mengintai didepan mata. Ya, begitulah prinsip kapitalisme karena fokusnya adalah ekonomi maka dunia kapitalis mengabaikan urusan nyawa manusia.

Sementara menurut islam kebijakan darurat wabah seharusnya tidak mengikuti tren global. Sebab setiap negara beda ketahanan ekonomi, pasalnya negara adidaya sekalipun tak kuasa membendung wabah covid 19.

Bahkan negara tersebut adalah negara terbanyak yang terinfeksi virus covid 19 ini, apatah lagi sekelas Indonesia yang ekonominya sangat bergantung pada negara-negara adidaya atau Asing.

Islam punya kebijakan sendiri baik secara ekonomi maupun kebijakan darurat wabah, karena ideologinya yang khas dan paripurna maka islam tidak menjadikan materi sebagai dasar melonggarnya kebijakan, untuk mengantisipasi penularan wabah seperti membuka lockdown jika wabah belum benar-benar berakhir.

Zaman Rasulullah untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain maka ditetapkan karantina, Rasul membangun tembok di sekitar daerah wabah.

Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar.

Beliau bersabda: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Al-Bukhari).

Dari hadits tersebut maka negara Islam akan menerapkan kebijakan karantina dan isolasi khusus yang jauh dari pemukiman penduduk apabila terjadi wabah penyakit menular.

Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat.

Selama isolasi, diberikan petugas medis yang mumpuni dan mampu memberikan pengobatan yang tepat kepada penderita. Petugas isolasi diberikan pengamanan khusus agar tidak ikut tertular.

Pemerintah pusat tetap memberikan pasokan bahan makanan kepada masyarakat yang terisolasi, juga menginspirasi negara agar segera menciptakan vaksin.

Islam memasukan konsep Qadar sebagai salah satu yang harus diyakini. Allah telah tetapkan terkait gen, mekanisme mutasi, dampak fisiologi sebuah virus tertentu. Dari situ, kita tahu bagaimana mekanisme penyakit.

Contohnya, identifikasi terhadap kuman Mycobacterium sebagai penyebab TBC yang menyerang paru, dan kita bisa pelajari antibiotik untuk mengobatinya dan juga mengenali mutasi kuman kuman Mycobacterium TB sehingga bisa menjadi resisten.

Ukuran-ukuran ini yang bisa dipelajari dan digunakan untuk memprediksi resiko penyakit. Dan dari situ dapat diteliti obat/ vaksinasinya.

Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi Pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis di jaman Abbasiyah.

Sebab islam sangat mengutamakan keselamatan nyawa manusia, namun tetap memperhatikan ketahanan ekonomi agar tak seperti yang terjadi di sistem kapitalisme yang hanya menjadikan materi sebagai sesuatu yang utama.

Maka dari itu apakah kita tidak berfikir untuk mengambil islam sebagai sistem hidup? Allahua’lam bishawab. (*)

Penulis: Sri Maulia Ningsih, S.Pd (Konawe, Sulawesi Tenggara)