PEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Bansos Masuk Era Digital, Gus Ipul Kerahkan Tetangga Jadi Mata Data PemerintahKecamatan Manggala Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di BatuaAppi Minta Dunia Pendidikan Makassar Tak Gagap Hadapi Era AI, Karakter Tetap Jadi PeganganManna Coffee House, Jejak Riyan Mengembangkan Kopi Toraja dari Hulu hingga KedaiAndi Sudirman Masih Rahasiakan Calon Pj Sekda Sulsel, Tunggu Jufri Rahman Purnabakti312 ASN Pangkep Terima Satyalancana Karya Satya, Pengabdian hingga 30 TahunPEMBERITAHUAN: Email redaksi redaksi@mediasulsel.com sementara mengalami gangguan. Untuk sementara, seluruh keperluan korespondensi redaksi, termasuk rilis berita dan artikel opini, dapat dikirim ke Sulselmedia@gmail.com. Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.🏥 Klinik Utama Aktiv Energi Physio kini hadir di Makassar • Konsultasi Dokter Umum & Spesialis Saraf • Fisioterapi • Okupasi Terapi • Terapi Wicara • Private Gym • 📍 Jl. AP Pettarani No. 18F Makassar • 🕘 Senin–Sabtu, 09.00–16.00 WITA • ☎️ Reservasi: 0821-8927-9692.Bansos Masuk Era Digital, Gus Ipul Kerahkan Tetangga Jadi Mata Data PemerintahKecamatan Manggala Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di BatuaAppi Minta Dunia Pendidikan Makassar Tak Gagap Hadapi Era AI, Karakter Tetap Jadi PeganganManna Coffee House, Jejak Riyan Mengembangkan Kopi Toraja dari Hulu hingga KedaiAndi Sudirman Masih Rahasiakan Calon Pj Sekda Sulsel, Tunggu Jufri Rahman Purnabakti312 ASN Pangkep Terima Satyalancana Karya Satya, Pengabdian hingga 30 Tahun
Opini

Palestina dan Matinya Rasa Kemanusiaan, Islam Pemersatu Umat

437
×

Palestina dan Matinya Rasa Kemanusiaan, Islam Pemersatu Umat

Sebarkan artikel ini
Palestina dan Matinya Rasa Kemanusiaan, Islam Pemersatu Umat
Anggun Sunarti, SH (Aktivis Dakwah)

OPINI—Hari raya idul Adha baru saja dirayakan oleh seluruh umat muslimin di seluruh dunia. Hari raya yang disertai pemotongan hewan kurban telah menjadi kebahagian bagi kaum muslimin. Mereka bisa menikmati daging kurban bersama keluarga, kerabat dan karib mereka.

Tetapi kebahagian ini tidak untuk saudara kita yang di Palestina. Jangankan menikmati daging kurban, saat melaksanakan shalat idul Adha saja mereka tidak aman karena serangan tentara zionis.

Menurut data yang dilansir dari media Berita satu, (7/6/25) Pada hari pertama Idul Adha Jumat lalu, serangan udara dan penembakan Israel di berbagai wilayah Gaza menyebabkan 33 warga Palestina kehilangan nyawa.

Di hari kedua perayaan Iduladha, Sedikitnya 17 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia. Hal itu merupakan imbas serangan udara dan tembakan militer Israel di wilayah selatan Jalur Gaza, terutama di daerah Khan Younis dan Rafah.

Di lokasi terpisah, lima warga Palestina lainnya dilaporkan tewas setelah ditembak pasukan Israel di sekitar pusat distribusi bantuan yang terletak di sebelah barat Rafah. Mereka di hari raya masih berebut bantuan makananan sampai menjadikan nyawa mereka melayang karena kekejaman dari Zionis yahudi.

Tidak hanya itu, otoritas militer Israel mengeluarkan larangan bagi warga Palestina di Jalur Gaza untuk mendekati pusat-pusat distribusi bantuan. Larangan itu diberlakukan karena dianggap berada di zona konflik.

Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, dalam pernyataan di platform X, menyampaikan bahwa penutupan pusat distribusi dilakukan untuk keperluan renovasi, reorganisasi, dan peningkatan efisiensi.

Penutupan ini terjadi sehari setelah militer Israel dilaporkan menyerang sekelompok warga Palestina yang tengah menunggu bantuan di bundaran Al-Alam, Rafah, selatan Gaza. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 27 orang. (Berita satu, 4/6/25)

Lantas kalau tempat mereka menerima bantuan ditutup, dimana mereka akan bisa bertahan hidup, dimana mereka akan bisa mendapatkan makanan dan kebutuhan hidup sementara akses mereka sangat sempit dan terbatas.

Kejamnya tindakan militer Israel yang menutup akses bantuan, memperlihatkan hilangnya empati dan nurani kemanusiaan yang seharusnya melindungi sesama manusia. Mereka sudah dipenuhi dengan ambisi dunia yang tak berkesudahan sehingga mematikan rasa kemnusian mereka terhadap sesama.

Melihat fakta yang ada, konflik yang terjadi di Palestina bukan hanya soal geopolitik atau perebutan wilayah, tapi hal ini telah menunjukkan hilangnya empati terhadap negeri yang terjajah dan terpinggirkan di wilayah sendiri.

Hilangnya empati ini tidak hanya ditujukan kepada zionis Yahudi. Tetapi juga ditujukan kepada seluruh penguasa dunia khususnya pemimpin kaum muslimin yang belum memberikan aksi nyata di tengah penderitaan warga Palestina. Dunia seolah bungkam atau gagal bertindak efektif, menandakan matinya rasa kemanusiaan secara global terhadap penderitaan warga Palestina.

Hingga hari ini Palestina masih menjadi sasaran genosida penjajah Zionis Yahudi, bahkan bayi-bayi yang masih merah yang tak memiliki dosa. Bagi Zionis, dosa mereka adalah karena mereka bayi Muslim keturunan Palestina. Zionis juga menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk membunuh secara pelan-pelan generasi Palestina. Bahkan di hari raya serangan pun tak berkurang.

Mirisnya, negara-negara besar dunia diam. Bahkan Penguasa muslim juga hanya sibuk retorika tanpa tindakan nyata dengan mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah. Mereka diam meski rasa kemanusiaan terkoyak. Padahal rasa itu adalah rasa fitrah bagi manusia, untuk menolong sesamanya, apalagi bayi yang lemah tak berdaya

Matinya rasa kemanusiaan sesungguhnya menunjukkan matinya sifat dasar manusia. Dan ini adalah buah kapitalisme yang mengagungkan nilai materi dan rasa superior disertai dengan kebencian atas manusia lainnya. Kekejaman yang begitu rupa tak mengusik nurani para pemimpin muslim.

Paham Nasionalis yang lahir dari Barat pun menghalangi umat muslim khususnya para pemimpin untuk bersikap adil pada muslim palestina. Tak ada seorang penguasa negeri muslim pun yang membebaskannya dengan kekuatan senjata, meski umat sudah menyerukan jihad. Jihad tak mungkin terwujud tanpa adanya seruan dari negara Islam. Dan model negara hari ini tak mungkin menyerukan jihad, apalagi mereka justru bergandengan tangan dengan penjajah Yahudi.

Seruan jihad hanya mungkin dikumandangkan oleh negara Islam. Oleh karena itu, umat harus berjuang menegakkan negara Islam. Tegaknya negara Islam tak mungkin terwujud ketika umat masih hidup dalam naungan kapitalisme sekuklerisme.

Sistem ini telah memisahkan agama dari kehidupan akibatnya menjadikan aturan yang ada tidak lagi berjalan secara fitrawi. Kaum muslimin tidak lagi bersatu, padahal mereka telah dipersaudarakan dengan ikatan aqidah. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya kaum Muslim itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10)

Islam mewajibkan persatuan umat, bukan dalam bentuk konferensi seremonial, tapi melalui satu kepemimpinan global (khilafah) yang menyatukan umat dan mampu mengerahkan kekuatan militer untuk membebaskan tanah-tanah kaum Muslim yang dijajah.

Kepemimpinan itu akan terwujud jika Islam tegak di muka bumi ini. Sudah seharusnya kaum muslimin memberikan pertolongan kepada mereka dengan berusaha memperjuangkan sistem Islam tersebut.

“Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan…” (QS. Al-Anfal: 72)

Upaya menegakkan Islam membutuhkan kepemimpinan jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan tegaknya Islam. Jamaah ini akan membangun kesadaran umat, dan menunjukkan jalan kemuliaan bagi umat. Umat sudah seharusnya menjawab seruan jamaah dakwah ini dan berjunag bersama menjemput kemenangan Islam. Wallahu a’lam bissawab. (*)

 

Penulis: Anggun Sunarti, SH (Aktivis Dakwah)

 

***

 

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.

Polling Mediasulsel

Menurut Anda, masalah yang paling perlu diprioritaskan pemerintah saat ini adalah...

Konten dilindungi © Mediasulsel.com