OPINI – Imbas wabah corona kian terasa oleh masyarakat, mulai bisa dari bidang, ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya. Ribuan bisnis atau perusahaan tak sanggup lagi membayar karyawannya, akibat sepinya penjualan.

Akibatnya mereka pun terpaksa mem-PHK para karyawan tersebut. Akibatnya muncullah masalah baru, para pekerja yang kini menjalani hidup tak menentu akibat dampak dari pandemi COVID-19.

Seperti dilansir dari laman tirto.id, Jono adalah salah satu dari mereka yang kehilangan pekerjaan akibat dampak corona. Lelaki berusia 43 tahun itu bercerita, ia kehilangan pekerjaannya sebagai tukang sapu karena Pasar Tanah Abang ditutup.

Ia kini hidup luntang lantung di jalanan. Dilain tempat, karena kelaparan dan tak miliki penghasilan akibat PHK, bapak 4 anak terpaksa curi tabung gas hingga babak belur dihajar massa.( tempo)

Lain lagi kasus serupa, kena PHK saat Wabah Corona, Buruh Pabrik di Bandung Terpaksa Jadi PSK. Bahkan ada seorang buruh di Jombang, Jawa Timur, mengakhiri hidupnya setelah sebulanan kena PHK dari tempatnya kerja.

Mulyanti, seorang warga Jakarta yang tengah hamil, terpaksa menjadi gelandangan. Ia harus hidup di jalan bersama anak dan suami karena tak mampu membayar uang sewa kontrakan akibat wabah Corona. (cnn.indonesia)

Sementara kehidupan tragis dan miris menyesakkan dada di tengah wabah Virus Corona di Tanah Air, kembali beredar luas di media pemberitaan. Ditemukan dua warga Gelumbang, Muara Enim, Sumatera Selatan, dalam kondisi kurus kering karena kelaparan.

Dan yang tidak kalah mirisnya, menurut Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Rainy Hutabarat, tak menampik kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi salah satu laporan yang paling banyak diterima di tengah pandemi COVID-19 ini.

Pada masa normal saja KDRT merupakan kasus terbanyak dilaporkan ke lembaga pengada layanan, khususnya kekerasan terhadap istri dan anak perempuan dengan pelaku suami, ayah kandung, ayah tiri/angkat dan paman. (IDN Times).

Kondisi ini begitu memilukan dan menyayat hati, berbagai macam cara sudah dilakukan pemerintah bersama rakyat yang mampu untuk saling membahu.

Ada Bansos yang digelontorkan pemerintah, ada gerakan peduli sesama membantu antar warga yang kesusahan seperti membagi sembako, sumbangan berupa uang dan kebutuhan lainnya. Namun, belum juga dapat meringankan beban warga akibat dampak dari wabah pandemi ini.

Sungguh Tragis, krisis sosial ini terjadi di saat masyarakat sedang berjibaku menghadapi wabah Corona. Dan yang lebih memilukan adalah wabah Corona belum juga ada tanda akan berakhir, mengingat jumlah yang positif serta meninggal semakin meningkat.

Dan ini terjadi di negeri yang dianugerahi Allah SWT begitu berlimpah dengan sumber daya alam serta kekayaan alam.

Penting dicatat, adanya kasus seabrek persoalan sosial di negeri ini, bukan saja pada saat wabah Corona ini melanda. Namun, negeri ini memang telah lama mengalami krisis persoalan bangsa yang tidak kunjung usai.

Melemahnya ekonomi, kemiskinan, PHK, pengangguran, kesehatan, pendidikan adalah rentetan persoalan yang terus saja menghantui bangsa ini. Ditambah lagi wabah pandemi Corona yang sudah berbulan-bulan melanda negeri, semakin menambah keterpurukan negeri, penanganan lamban, kasus sosial masyarakat bertambah akibat dampak virus.

Inilah fakta, rezim hari ini gagal menyejahterakan setiap individu masyarakat. Khususnya dalam pemenuhan hajat dasar pangan, kebutuhan dasar masyarakat.

Persoalan bangsa ini sistemik, akibat salah kelola negara karena penerapan sistem aturan kapitalis sekuler yang telah diadopsi hingga mambuat bangsa menghadapi persoalan pelik.

Seperti inilah konsekuensi logis kehadiran rezim sebagai pelaksana hukum aturan sistem kehidupan kapitalis sekuler.

Alih-alih mampu memberikan kesejahteraan pada rakyat, memberikan solusi preventif dalam menanggulangi wabah Corona, yang ada rakyat semakin menderita dan persoalan bangsa kian parah tanpa solusi yang menyentuh sampai akarnya, hingga membuat terpuruk negeri ini kejurang kehancuran.

Penerapan sistem kapitalis sekuler saat ini membuat rezim sangat lamban menyelesaikan masalah termasuk Corona, kebutuhan rakyatpun tidak serta merta di penuhi, akhirnya tindak kriminalitas dan kelaparan memuncak saat wabah melanda negeri.

Maka, untuk menyelamatkan bangsa ini, tidak ada jalan lain selain kembali menengok bagaimana pandangan perspektif Islam dalam memberi solusi bagi setiap persoalan kehidupan.

Inilah bentuk wujud takwa seorang muslim itu, mengambil hukum aturan dari sang pencipta, baik dalam urusan individu, masyarakat hingga negara, sungguh Allah SWT telah mengingatkan dalam Alquran, surat Al-Maidah, ayat 50, yang artinya,

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehenaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meykini (agamanya)?”

Sistem Islam adalah rahmat dan mampu menjawab setiap problem kehidupan, termasuk dalam masalah mensejahterakan dan menanggulangi wabah pandemi menular.

Dalam sistem Islam negara akan menerapkan syariah Islam secara kaaffah, termasuk sistem ekonominya dalam mensejahterkan rakyat. Dalam sistem Islam, memiliki metode untuk menghadapi penyakit menular termasuk wabah Corona.

Kebijakan ekonomi dalam sistem Islam merupakan bagian integral dari kebijakan politik pemerintahan, sehingga tak terpisah dari kebijakan negara di bidang lainnya.

Dalam sistem Islam, kesejahteraan rakyat adalah yang utama menjadi tanggungjawab negara. Lapangan pekerjaan disediakan oleh negara seluas-luasnya, bantuan modal akan diberikan negara kepada rakyat.

Di sisi yang lain, kebutuhan pangan rakyat akan diperhatikan baik soal harga yang murah maupun kualitas pangan tersebut. Pun, dalam sistem Islam pendidikan akan diberikan secara gratis, kesehatan juga murah hingga gratis. Rakyat tidak akan dibiarkan hidup dalam kesusahan apalagi sampai kelaparan.

Jadi ketika terjadi wabah pandemi, negara hanya fokus pada penyelesaian wabah, sebab urusan rakyat sudah terpenuhi. Ketika terjadi masalah penyakit menular dalam sistem Islam, tidak akan menyebabkan masalah sosial bermunculan. Di sinilah slah satu keunggulan dari sistem Islam warisan kanjeng nabi Muhammad.

Solusi sistem Islam dalam menyelesaikan wabah pandemi sudah terbukti mampu mengakhiri wabah. Penyelesaiannya tidak akan meninggalkan masalah lain, bahkan justru akan mencegah masalah lain muncul termasuk krisis sosial kelaparan seperti yang terjadi saat ini.

Dengan kebijakan lockdown, secara efektif akan memutus penyebaran virus dan mengoptimalkan upaya penyembuhan pasien. Sehingga wabah seperti penyakit corona sekarang ini, bisa diatasi sebelum menyebar ke seluruh dunia.

Sejarah juga dengan gemilang telah menggoreskan tintah peradaban emas yang sangat mahsyur bagaimana sistem Islam mampu memakmurkan kehidupan manusia. Ini pernah dicontohkan Rasulullah SAW sebagai kepala negara, dilanjutkan oleh para Khulafaur Raasyidiin, sehingga kesejahteraan hidup benar-benar dirasakan setiap individu masyarakat.

Satu orang saja yang mengalami kelaparan segara diatasi. Seperti tindakan Khalifah Umar bin Khathab yang bersegera memenuhi kebutuhan pangan keluarga miskin dengan stok pangan baitul mal secara memadai.

Puncak kesejahteraan masyarakat dapat disaksikan sepanjang peradaban Islam yang berlangsung selama 13 abad dan meliputi hampir dua per tiga belahan dunia.

Apa kunci kesuksesan para Khalifah tersebut? tidak lain dan tidak bukan karena para Khalifah memimpin dengan ketakwaan, wujudnya dengan pelaksanaan hukum syariah, pelaksana sistem kehidupan Islam yang berasal dari Al Khaaliq pencipta manusia dan alam semesta.

Maka, kehidupan berkah dan mensejahterkan hanya akan kita raih jika kembali pada sistem hukum dari Allah Swt. dengan menerapkan sistem Islam kaaffah dalam kehidupan bernegara. [*]

Penulis: Nelly, MPd (Pegiat Opini Medsos, Pemerhati Kebijakan Publik)