Beranda » Opini » Pendidik yang Harus Dididik
Pendidik yang Harus Dididik
Opini

Pendidik yang Harus Dididik

OPINI – Pendidikan merupakan salah satu hal yang krusial dalam suatu negara. Dengan pendidikan, kualitas, karakter dan kemampuan sumber daya manusia dibentuk.

23 Oktober 2019, Bapak President RI, Joko Widodo secara resmi mengumumkan menteri yang akan membantunya dalam pemerintahan.

Nadim Makarim menjadi sosok yang dipilih dalam kementrian Pendidikan dan kebudayaan. Pak Jokowi meminta agar mantan CEO gojek tersebut fokus untuk pengembangan SDM yang siap kerja, siap berusaha, yang link and matched antara pendidikan dan industri (Kumparan/02/10/2019).

Siap kerja dan kemandirian ekonomi menjadi fokus dalam kabinet ini. Hal ini juga dapat dilihat dari sosok yang dipilih oleh Pak Jokowi yang berlatar belakang bisnis digital tentu akan menjadi orang yang tepat untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Tetapi yang menjadi pertanyaan besar, apakah pelajar siap kerja merupakan output yang paling dibutuhkan dalam bidang pendidikan di Indonesia?

Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan melihat fakta dunia pendidikan saat ini. Contohnya dilaporakan seorang siswa dipidana karena membunuh gurunya ketika ditegur merokok (NewsDetik/26/10/2011).

Ada pula siswa yang memukul gurunya dengan kursi hanya karena ditegur saat bermain handphone (CNNIndonesia/08/03/2019).

Menurut survei BNN, 2,3 juta pelajar pernah mengonsumsi narkoba (CNN/22/06/2019), dan masih bayak lagi kejadian yang berhubungan dengan moral dan akhlak mulai menggerogoti kaum terpelajar.

Hadirnya berbagai kerusakan dan kemerosotan moral dari pelajar sebenarnya merupakan PR besar untuk pemerintah, terlebih dari bidang pendidikan, yang tentunya berfungsi untuk mendidik, bukan hanya layaknya bidang latihan kerja yang fokus menciptakan pekerja.

Hal ini juga diperparah dengan mahalnya biaya pendidikan yang harus dibayarkan, sehingga para pelajar secara otomatis akan fokus bagaimana memenuhi pembiayaan untuk melanjutkan pendidikannya.

Ketika siap kerja menjadi standar dalam keberhasilan suatu pendidikan, maka peserta didik hanya akan fokus bagaimana mencapai standar tersebut tanpa mengetahui esensi dari pendidikan itu sendiri, tak peduli akan seberapa besar kebermanfaatannya, terlebih akan Ridha-Nya Allah Swt.

Pihak rezim yang diharapkan dapar membantu sayangnya tak menganggapnya menjadi hal yang serius. Rezim sepertinya masih sibuk melayani para kapitalis untuk memenuhi permintaannya dalam bidang pekerja.

Dalam islam sendiri, mempunyai pandangan berbeda mengenai pendidikan. Tujuan dari pendidikan islam adalah untuk menjadi makhluk yang bertaqwa kepada Allah Swt, pendidikan merupakan hal yang diwajibkan untuk semua kaum muslim.

Sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW “Mencari ilmu wajib atas setiap muslim”. Karena betujuan untuk meraih ridhanya Allah, maka mereka tak akan fokus untuk mencari materi saja, tapi bagaimana setiap aktifitasnya sesuai dengan yang diperntahkan oleh Allah.

Pendidikan dalam islam pun dibantu oleh 3 pilar penting, yaitu keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga dan masyarakat sebagai jembatan pertama dalam mendidik suatu generasi.

Menjadikan iman sebagai poin utama, serta Al-Quran dan sunnah sebagai landasan dalam berperilaku, yang dimana akhlak dan moral didalamnya telah diatur dengan rinci dan sesuai dengan fitrah manusia.

Selain itu, negara juga memainkan peran yang sangat penting. Sistem negara islam tak membebani rakyatnya untuk membayar dalam hal pendidikan.

Pendidikan di gratiskan sehingga para pelajar tak lagi memikirkan hal yang berkaitan dengan materi.

Imam Al-Ghazali juga telah mengingatkan dalam kitab Bidayatul Hidayah bahwa: jika seorang mencari ilmu dengan maksud mencari pujian atau untuk mengumpulkan harta benda maka dia telah berjalan untuk menghancurkan agamanya, merusak dirinya dan telah menjual akhirat dengan dunia.

Maka tak heran, dengan di dukung dengan Akidah yang kuat, pilar-pilar yang memberikan jalan untuk menuntut ilmu, maka banyak lahir para ilmuwan saat sistem islam masih dijalankan secara sempurna.

Misalnya Al-Khawarizmi yang menemukan rumus Al-Jabar yang hingga kini masih eksis digunakan, Ibnu Zina yang disebut dengan bapak kedokteran, Mariyam penemu magnet, dan banyak lagi yang hingga kini keilmuwannya masih digunakan.

Para ilmuwan tersebut, tak bertujuan bagaimana materi-materi dapat menjadi miliknya, atau bagaiaman dunia mengenalnya, tetapi bagaimana keilmuannya semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.

Ketika semua pelajar telah mededikasikan dirinya belajar karena Allah, maka kita juga akan memfokuskan diri kita menjadi mahkluk yang diinginkan oleh-Nya, termasuk bagaimana berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain. Wallahu A’lam Bishawab. (*)

Pendidik yang Harus Dididik
Penulis : Alya Amaliah
Mahasiswa Kedokteran Hewan
Universitas Hasanuddin