OPINI—Peningkatan kasus pada Juli 2021 Corona Virus Disease -19 (COVID-19) berada pada angka 2,5 juta. Hal ini diikuti dengan peningkatan harian lebih dari lima puluh ribu kasus perhari dengan mortality dan morbidity yang terus meningkat hingga angka 7,65%.

Angka penambahan COVID-19 yang terus mengalami peningkatan secara siginifikan menyebabkan sistem pelayanan kesehatan dalam kondisi fungtional collapse karena fasilitas dan tenaga kesehatan tidak siap menghadapi pandemi sehingga mengakibatkan banyak masyarakat tidak mendapatkan pelayanan dan harus menjalani isolasi mandiri.

Angka kondisi ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan penanganan COVID-19 terburuk bersama dengan Negara India dan Brazil.

Kondisi sociodemografi didefenisikan sebagai kondisi yang terjadi dalam kelompok usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, agama, suku bangsa, pendapatan, jenis keluarga, status pernikahan, lokasi geografi, dan kelas sosial.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah populasi terbesar keempat di dunia dengan jumlah penduduk sebesar 270,2 juta jiwa berdasarkan sensus penduduk Tahun 2020.

Di Pulau Jawa yang hanya 7% dari seluruh luas daratan Indonesia bermukim kurang lebih 151,6 juta jiwa penduduk. Tingkat kepadatannya sekitar 176,9 jiwa per kilometer persegi. Dibandingkan Sumatera, Kalimantan, Irian atau Maluku yang masing-masing hanya 88,2 dan 8 per kilometer persegi.

Hal ini berperan dalam penyebaran COVID-19 di Indonesia, merujuk pada kenyataan bahwa kawasan perkotaan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi dibandingkan daerah pinggiran akan menyebabkan transmisi penyakit lebih cepat dengan rantai penyebaran yang lebih kompak dan kompleks.

Kondisi lain yang didapatkan pada masyarakat Indonesia adalah tidak patuhnya masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang penyakit tersebut.

Tingkat pendidikan berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19. Tingkat pendidikan turut berpengaruh pada pengetahuan seseorang dan pengetahuan kesehatan akan berpengaruh pada perilaku sebagai hasil jangka menengah (intermediete impact) dari pendidikan kesehatan.

Karena itu akhirnya masyarakat memiliki persepsi yang salah, bahwa COVID-19 bukanlah penyakit yang berbahaya sehingga berpengaruh pada tindakan yang dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit.

Selain itu terdapat pula masyarakat yang menganggap remeh penyebaran COVID-19 serta tidak mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh WHO dan menganggap COVID-19 sebagai sebuah konspirasi dan rekayasa. Kemudian yang menjadi kondisi kontras ialah kondisi kelas sosial di Indonesia.

Kelas sosial menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan strategi medis sebagai upaya penanggulangan COVID-19.

Mengutip dari Max Weber yang telah memberikan landasan kuat atau kerangka analisis yang menarik untuk melihat bencana wabah virus COVID-19 dari aspek ketidakseimbangan struktural (structured inequalities) terkait kelas, status, dan kekuasaan. Ketidakseimbangan ini memberikan dampak pada respon masyarakat dalam menghadapi wabah.

Komunitas melawan covid-19 dengan pendekatan kultural merupakan strategi yang menekankan bicara dari hati, dan kebersamaan. Manifestasi budaya semacam ini tampak dalam aktivitas keseharian seperti ibu-ibu PKK, arian kampung, kelompok tani dan sebagainya.

Kekuatan-kekuatan dalam komunitas dapat digunakan untuk menurunkan penularan covid-19. Dalam komunitaslah, pengambilan keputusan ditempuh dengan kebersamaan. Pada saat yang sama, ada patronase yang menjadi anutan. Orang kunci yang dapat mempengaruhi dan diikuti formasi jaringan sosial dan kohesivitas kelompok menstruktur.

Berdasarkan kondisi sosiodemografi yang diamati ditemukan fakta bahwa penanggulangan COVID-19 memiliki tantangan yakni pendidikan yang rendah mengakibatkan perilaku menjaga kesehatan yang rendah termasuk mengakibatkan pelanggaran protokol kesehatan.

Kemudian kelas sosial mempengaruhi kepatuhan masyarakat dikarenakan ketidakmampuan kelompok pendapatan rendah dihadapkan pada kondisi beban ganda untuk memenuhi kebutuhan pokok dan alat pelindung diri pribadi.

Selain itu akses yang terbatas pada kelompok bawah menjadi penghalang dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Upaya penanggulangan COVID-19 dalam pandangan strategi medis ialah dengan melakukan elaborasi untuk tiap elemen sebab tenaga kesehatan yang jumlahnya terbatas merupakan lini terakhir untuk mengupayakan penyembuhan.

Pendekatan gotong royong dan Gerakan kolektif pada semua lini masyarakat dianggap mampu menjawab kondisi pandemi yang ada di Indonesia.

Selain itu, langkah-langkah preventif yang bisa dilakuakn bersama yakni dengan mematuhi protokol kesehatan berupa 3M, melakukan rangkaian 3T (test, tracing dan treated), membuat regulasi telemedicine dibawah regulasi pemerintah dan berpartisipasi dalam program vaksinasi. (*)

Penulis: drg. Andi Izham

***

Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.