OPINI—Penghinaan terhadap Rasulullah SAW kini terjadi lagi. Presiden Prancis, Emannuel Macron secara terang-terangan mendukung sikap warga negaranya yang sengaja membuat kartun Muhammad SAW. Peristiwa penghinaan atas dalih kebebasan berekspresi, bukanlah kali pertama dilakukan oleh warga Prancis.

Pemboikotan seakan tak memberi efek jera bagi penghina ajaran Islam dan simbol-simbolnya di hampir semua negara. Terbukti, islamofobia terus saja terjadi tanpa bisa dihentikan.

Kematian Samuel Paty, seorang guru Sejarah Prancis yang mengadakan diskusi tentang karikatur Nabi Muhammad SAW di dalam kelas, memicu kemarahan warga Prancis. Dua pekan setelah peristiwa tersebut, dua orang Muslimah dibunuh di bawah Menara Eiffel. Kebencian negara sekuler tersebut diaminkan oleh kepala negaranya, Emannuel Macron, yang membuat warga Muslim di seluruh dunia berang.

Peristiwa penghinaan ini sangat menyakiti hati umat Islam. Anggota Panitia I DPR RI, Muhammad Iqbal, menegaskan bahwa protes keras wajib dilayangkan karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Selanjutnya, Iqbal mengusulkan pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan kembali berbagai bentuk kerjasama dengan Prancis, termasuk rencana pembelian jet tempur rafale.

Menurutnya evaluasi tersebut patut dilakukan, sampai Macron menyampaikan permintaan maaf kepada umat Islam, terkait pernyataannya dan menghentikan penghinaan simbol Islam seperti pembuatan karikatur Nabi Muhammad (sumsel.tribunnews.com, 27/10/2020).

Senada dengan hal tersebut, Pengamat Internasional, Hikmahanto Juwana, memberikan tanggapannya terkait peristiwa penghinaan tersebut. Hikmahanto dalam wawancara di sebuah TV nasional, mengatakan bahwa sepatutnya sebagai seorang Presiden, Macron tidak membuat pernyataan yang dinilai profokatif dan tendensius. Presiden Jokowi diminta menelepon langsung Presiden Macron untuk memberikan advise, mengingat hubungan antar kedua kepala negara tersebut terjalin baik, lanjutnya.

Standar Ganda Kebebasan

Demokrasi dengan empat pilar kebebasannya, salah satunya adalah kebebasan berpendapat. Kebebasan yang seringkali dijadikan dalih dalam menghina ajaran dan simbol-simbol Islam, terus saja terjadi tanpa batas. Islam kaffah dijadikan musuh bersama, bahkan bagi sebagian umatnya yang sudah terbeli oleh silaunya fitnah dunia.

Sangat disayangkan, sikap pragmatis umat dan penguasa di berbagai negeri Muslim. Pemboikotan produk-produk Prancis dan aksi turun ke jalan mengecam sikap Macron dan warga Prancis adalah bentuk protes dan kemarahan umat Islam.

Namun, semua hal tersebut seakan tak memberi efek jera bagi penganut paham sekuler, paham yang menggaungkan kebebasan berstandar ganda. Lihatlah, penghinaan terhadap umat Islam dalam berbagai bentuknya, tidak pernah surut. Islamofobia tidak pernah padam di negara-negara yang mengadopsi sistem rusak tersebut.

Sangat berbeda jika yang melakukan adalah seorang Muslim. Berbagai narasi manipulatif disematkan agar terkesan dilegalisasi oleh negara. Kesan yang sangat didramatisir.

Misal, berbagai persekusi ulama dan aktivis Islam. Mereka hanya menyuarakan sesuatu yang datang dari ajaran agamanya, tanpa pemaksaan apalagi menyakiti orang lain. Lalu, mengapa mereka seolah lebih jahat dari koruptor atau buronan narkoba? Inilah wajah asli sistem rusak yang sangat berbeda secara diametral dengan sistem yang datang dari Ilahi.

Sistem Terbaik Berasal dari Zat Yang Mahabaik

Secara fitrah, semua manusia menginginkan kebaikan. Standar kebaikan itu bukan menurut akal manusia, sebab manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan terbatas. Oleh karena itu, ketika standar hukum dikembalikan kepada manusia, maka tunggulah kerusakannya.

Berbagai kepentingan akan dikedepankan dengan keterbatasannya sebagai manusia. Pun celah kesalahan menganga lebar, tersebab kelemahan akalnya sebagai seorang hamba. Pandemi ini adalah bukti paling riil atas ketidakberdayaan manusia.

Harusnya kondisi ini, menjadikan mata hati dan pikiran kita terbelalak. Bagaimana tidak, virus yang sangat kecil bisa meluluhlantakkan hampir semua negara. Tak mengenal negara miskin atau kaya, negara maju atau berkembang, semua terdampak dengan dampak yang luar biasa.

Islamofobia yang melanda negeri-negeri, baik dilakukan oleh person ataupun oleh negara adalah bukti kezaliman sistemik. Negara sangat berperan dalam melanggengkan kezaliman tersebut. Jika hanya kebencian individu atau sekelompok orang dan negara tegas memberantasnya, niscaya kejadian penghinaan ini tidak akan terus berulang dengan aksi yang kian beragam.

Ini adalah bentuk kezaliman yang melanggar hak paling asasi dari umat Islam.
Pun, kezaliman yang juga termasuk dosa besar adalah tidak memberlakukan hukum-hukum Allah SWT seraya berkiblat pada hukum-hukum buatan manusia, sebagaimana dalam sistem demokrasi.

Allah SWT berfirman, yang artinya:
“Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang-orang zalim. (TQS. Al-Maidah: 45)

WallahuAlam bish Showab

Penulis: Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T.
(Dosen dan Pemerhati Sosial)