OPINI—“Kasih ibu, kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya, menyinari dunia”. Itulah lirik lagu tentang ibu yang sarat makna. Sehingga untuk mengenang jasa-jasanya, maka tiap tanggal 22 Desember biasa diperingati sebagai Hari Ibu dan tentunya menyisakan banyak cerita, baik suka maupun duka.
Hari ibu pun dirayakan oleh hampir seluruh dunia dengan makna untuk menghargai peran seorang ibu. Walaupun di beberapa negara berbeda-beda dalam menentukan tanggal perayaannya.
Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928.
Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu (Wikipedia.org).
Menilik Peran Ibu yang Termarginalkan
Menghargai peran seorang ibu sejatinya dapat dilakukan kapanpun. Mengingat pengorbanan mereka yang luar biasa. Sebagaimana dalam sebuah pribahasa “kasih sayang ibu sepanjang masa”.
Tentu pribahasa itu sudah tak asing lagi bagi kita, yang mana pribahasa tersebut memiliki makna bahwasanya kasih sayang seorang ibu yang diberikan kepada anaknya itu selamanya seumur hidup.
Sayangnya tak sedikit para ibu saat ini telah jauh dari peran utamanya, yakni mendidik anak-anaknya. Alasannya pun beragam, di antaranya:
Pertama, ibu bekerja. Tak dapat dipungkiri peran perempuan saat ini yang terjun dalam dunia kerja tak sedikit. Baik itu diposisi strategis ataupun tidak. Terlebih jika pekerjaan tersebut menyita banyak waktu. Sehingga tidak menutup kemungkinan kesempatan dalam mendidik anak-anaknya pun bisa jadi berkurang atau malah terbengkalai.
Kedua, ibu yang menyerahkan pengasuhan anaknya kepada baby sitter. Meskipun banyak pertimbangan seorang ibu menjadikan baby sitter untuk mengasuh anak-anaknya dan pasti ada plus minusnya. Dampak negatif dari hal itu di antaranya dapat menjauhkan kedekatan ibu pada buah hatinya. Terlebih jika dalam waktu yang lama dan sering.
Ketiga, ibu yang minim pemahaman akan pendidikan anak. Hal ini terlihat bagaimana orang tua khususnya seorang ibu yang merasa cukup menyerahkan pendidikan anak-anaknya di sekolah atau di tempat les privat. Sehingga proses edukasi anak di rumah tak terlalu lagi diperhatikan. Karena beranggapan di sekolah dan di tempat-tempat yang menunjang akademik anaknya telah cukup sebagai bekal bagi pendidikan si buah hatinya.
Selain itu, tentu masih banyak lagi yang menambah beban berat ibu dalam menjalankan peran utamanya dalam mendidik buah hatinya. Hal tersebut diantaranya, yaitu lingkungan masyarakat. Karena sesungguhnya pendidikan yang diperoleh anak dalam lingkungan keluarga sejatinya tak cukup, jika peran masyarakat tak mendukung tumbuh kembang anak ke arah yang positif dalam memperoleh pendidikan yang lebih baik. Dalam hal ini seperti minimnya tugas saling nasehat-menasehati dalam hal kebaikan.
Di sisi lain, peran di lingkungan sekolah pun tak kalah penting dalam menumbuhkan pendidikan anak, baik kognitif maupun afektif. Apalagi di sekolah terdapat banyak anak yang akan dijumpai dengan berbagai macam karakter yang berbeda-beda. Sehingga tak menutup kemungkinan anak bisa saja terpengaruh dengan sikap teman-temannya yang kurang baik.
Lebih dari itu, peran negara juga sangat besar dalam membantu ibu menciptakan kondisi yang baik untuk pendidikan anak. Misalnya meniadakan tayangan-tanyangan atau media yang minim nilai edukasi, apalagi yang dapat merusak moral anak bangsa.
Maka dari itu, sangat penting adanya kerja sama antara peran orang tua/keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah dan negara guna menciptakan kondisi yang dapat membantu anak untuk tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik.












