Beranda » News » PLTB Sidrap Terbesar di Dunia, dengan 90 Bilah Baling-Baling
PLTB Sidrap Terbesar di Dunia, dengan 90 Bilah Baling-Baling
News Sidrap

PLTB Sidrap Terbesar di Dunia, dengan 90 Bilah Baling-Baling

MAKASSAR – Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap, yang dibangun oleh PT. UPC Sidrap Bayu Energi, diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2017 ini. PLTB tersebut, ternyata merupakan pembangkit listrik tenaga bayu terbesar di dunia.

Hal itu disampaikan Guru Besar Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Dr. Tahir Kasnawi, Rabu (13/9/2017) di Makassar.

“Teman saya Guru Besar Electro di Unhas bilang, PLTB di Sidrap ini merupakan terbesar di dunia yang letaknya dalam satu unit lokasi. Ini prestasi pemerintah daerah yang membanggakan kita semua,” terang Prof. Tahir.

Lebih lanjut Prof. Tahir menyatakan, semua daerah memiliki angin yang bertiup siang dan malam. Tetapi hanya Sidrap yang kreatif memanfaatkan untuk kepentingan rakyat.

Meski hal itu tidak lepas dari peran investor, namun Prof. Tahir memastikan, bahwa investor tidak akan pernah masuk berinvestasi ke sebuah daerah jika tanpa diundang, tanpa dibantu, tanpa diarahkan. Serta adanya jaminan dari pemerintah setempat.

Untuk diketahui, berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Mediasulsel.com, PLTB Sidrap yang dibangun di Pabbaresseng, Ds. Mattirotasi, Watang Pulu, Sidrap ini, nantinya memiliki 30 turbin setiap towernya setinggi 80 meter, dengan jumlah baling-baling sebanyak masing-masing 3 bilah.

Setiap baling-baling memiliki ukuran panjang, 57,311 meter, lebar 3.607 meter dengan ketebalan mencapai 2.770 meter.

Sedangkan berat masing-masing mencapai 20 ton. Total keseluruhan akan terdapat 90 bilah baling-baling.

Namun hingga saat ini, baru terdapat 24 bilah yang dikirim melalui laut ke pelabuhan Nusantara Parepare, dan 1 buah yang telah terkirim ke lokasi pembangunan.

Bahkan, untuk membawa 1 bilah baling-baling melalui jalur darat dari Pelabuhan Nusantara Parepare ke lokasi Proyek di Pabbaresseng yang kurang lebih hanya berjarak 10 KM tersebut.

Dibutuhkan mobil khusus dengan 80 roda serta membutuhkan waktu tempuh mencapai 5 jam.

Sehingga untuk memuat material yang demikian besar tersebut, pelaksana pekerjaan proyek memilih untuk dilakukan pada tengah malam jelang dini hari.

Agar tidak terlalu mengganggu pengguna jalan yang lain, karena dipastikan saat terjadi pemuatan, arus kendaraan di area tersebut akan mengalami kemacetan.

Meski demikian pada umumnya masyarakat merespon positif kejadian tersebut, bahkan dari sejumlah warga Parepare yang ditemui mediasulsel.com, salah satunya bernama Amiruddin.

Ia mengaku tidak keberatan meskipun perjalanannya sedikit terganggu, karena pada akhirnya itu semua untuk kepentingan masyarakat luas.

“Ini proyek luar biasa, bahkan sepanjang hidup saya, saya baru lihat hal yang seperti ini. Bagaimanapun juga, akhirnya ini kita masyarakat yang menikmati.

Jadi kalo kita harus berkorban sedikit waktu perjalanan kita itu tidak masalah,” ungkap Amiruddin yang diamini sejumlah temannya yang malam saat pengangkutan bilah pertama menonton di dekat rumah jabatan Wali Kota Parepare. (464ys)