JAKARTA—Peringatan Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1948 dimaknai sebagai momentum refleksi untuk menata kembali kehidupan, baik secara pribadi maupun dalam konteks kebangsaan yang majemuk.
Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), John N. Palinggi, menilai Nyepi sebagai ruang keheningan yang memberi kesempatan bagi setiap individu untuk merenung, membersihkan pikiran, serta memperbaiki sikap menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam keterangannya, Jumat (20/3/2026), John menegaskan bahwa nilai-nilai Nyepi bersifat universal dan tidak terbatas hanya bagi umat Hindu.
“Nyepi mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, bukan untuk menjauh, tetapi untuk kembali dengan kesadaran yang lebih utuh sebagai bagian dari bangsa yang majemuk,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses perenungan dalam Nyepi menjadi sarana membersihkan diri, baik dari sisi pikiran maupun perilaku, agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih bijak dan penuh kesadaran.
John juga menyoroti kekhasan praktik keagamaan Hindu di Bali yang sarat dengan nilai budaya lokal. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari kekayaan keberagaman Indonesia yang harus dipahami dan dihormati bersama.
Nilai-nilai seperti pengendalian diri, toleransi, dan keseimbangan hidup yang terkandung dalam Nyepi, lanjutnya, sangat relevan dalam menjaga harmoni di tengah perbedaan.
Ia turut mengaitkan pandangan tersebut dengan pengalaman interaksi sosial yang selama ini dibangun bersama masyarakat Bali. Pada 2006, John bersama Megawati Soekarnoputri menerima penghargaan dari umat Hindu Bali dalam prosesi sakral sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi dalam membangun harmoni sosial.
Kemudian pada 2008, ia kembali menghadiri kegiatan di Puri Agung Denpasar bersama Wiranto dan menerima penghargaan dari Raja Denpasar.
Selain itu, hubungan dengan tokoh masyarakat Bali seperti Gusti Arya Wedakarna di Puri Agung Singaraja disebut menjadi bagian dari upaya menjaga persaudaraan dan saling menghormati.
Menurut John, rangkaian pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Nyepi tidak hanya berhenti pada refleksi, tetapi juga tercermin dalam kehidupan nyata melalui interaksi sosial yang terbuka dan saling menghargai.
Momentum Tahun Baru Saka 1948 ini, kata dia, diharapkan menjadi titik awal membangun kesadaran bersama bahwa harmoni dalam keberagaman hanya dapat terwujud melalui toleransi, saling menghormati, dan komitmen untuk hidup berdampingan secara damai.
(4nny)










