Rumahtangga Produktif Solusi Ekonomi Negatif
Darma Endrawati

OPINI – Para ekonom memperkirakan pertumbuhan negatif pada tiwulan II/2020 akan berlanjut di triwulan III dan IV. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia akan memasuki masa resesi. Kondisi yang cukup berat akan dialami oleh rumahtangga. Penurunan daya beli, peningkatan pengangguran dan kemiskinan adalah mimpi buruk bagi rumahtangga.

Di lain pihak rumahtangga sangat berperan dalam perputaran ekonomi. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumahtangga mampu berkontribusi terhadap perekonomian di atas 55 persen. Hal inilah yang mendorong pemerintah melakukan berbagai kebijakan yang bertujuan mempertahankan daya beli masyarakat.

Sementara dari sisi produksi, rumahtangga sebagian besar berkecimpung di usaha mikro kecil (UMK) yang mampu menyerap 75 persen dari total tenaga kerja non pertanian.

Rumahtangga bisa diposisikan sebagai rumahtangga konsumen maupun rumahtangga produsen yang jika keduanya mampu meningkatkan produktivitasnya berdampingan dengan aneka kebijakan pemerintah, niscaya pemulihan ekonomi akan berjalan mulus. Rumahtangga harus tetap produktif dengan melakukan berbagai upaya bersama keluar dari situasi sulit ini.

Jangan Panik

Jangan panik adalah kunci sukses mengatasi persoalan. Kepanikan ekonomi dalam skala rumahtangga bisa berbentuk pembelian bahan pokok besar-besaran (panic buying) dan penarikan simpanan besar-besaran (rush money). Diperlukan peningkatan komunikasi efektif pemerintah agar masyarakat dapat memahami dan percaya akan kebijakan yang diambil.

Kejujuran dunia usaha untuk tidak mengambil keuntungan dari pandemi yang ada harus menjadi kesadaran kolektif. Lonjakan harga yang tidak wajar pada beberapa komoditi di periode awal pandemi bisa menjadi pelajaran.

Dibutuhkan ketegasan aparat jika ditemui adanya pelanggaran. Tetap produktifnya rumahtangga dalam kehidupan sosial ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada akan berdampak pada membaiknya iklim perekonomian.

Bijak dalam Mengelola Keuangan

Berlarutnya pandemi covid-19 menuntut rumahtangga bijak mengatur keuangannya. Survei Sosial Demografi Dampak Covid yang dilaksanakan BPS bulan April silam, menyebutkan bahwa 41 persen responden mengaku mengalami penurunan pendapatan.

Paradoks dengan hal ini, 56 persen responden mengaku mengalami kenaikan pengeluaran. Masyarakat miskin, rentan miskin dan yang bekerja di sektor informal mengalami dampak terbesar. Karena berlarutnya pandemi bisa jadi dampak yang dirasakan rumahtangga menjadi lebih luas.

Pandemi adalah saat yang tepat mengedukasi rumahtangga akan pengelolaan keuangan yang benar dan aman. Data OJK menyebutkan bahwa aksesbilitas masyarakat terhadap lembaga keuangan tidak diikuti peningkatan pemahaman keuangan masyarakat.

Pada tahun 2019 indeks inklusi keuangan mencapai 76 persen namun indeks literasi keuangan baru 38 persen. Literasi terkait kemampuan rumahtangga dalam memilah antara kebutuhan dan keinginan sangat diperlukan. Berbagai bantuan/subsidi pemerintah kiranya mampu dimanfaatkan untuk keperluan yang urgen dan mendesak.

Untuk kalangan middle class income dibutuhkan kepiawaian dalam membagi pendapatan untuk keperluan konsumsi, investasi, dana darurat, dana berbagi dan gaya hidup.

Rumahtangga produsen pelaku UMK harus menata kembali manajemen keuangan mereka. Sebagian besar UMK masih dikelola dengan sederhana yang dicirikan tidak berbadan hukum dan tidak memiliki laporan keuangan.

Data Sensus Ekonomi 2016 mengungkap kurang dari 10 persen UMK non pertanian memiliki badan hukum dan baru 7 persen diantaranya yang memiliki laporan keuangan. Edukasi tentang pentingnya menilai perkembangan usaha dari laporan keuangan perlu ditingkatkan.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan selama berkegiatan ekonomi baik konsumsi maupun produksi. Perbaikan sektor kesehatan dan ekonomi harus seiring sejalan.

Inovasi Tiada Henti

Inovasi tidak harus dikaitkan dengan institusi besar. Dalam skala rumahtanggapun diperlukan inovasi supaya mampu bertahan. Rumahtangga yang selama ini hanya sebagai konsumen bisa berinovasi menjadi pelaku usaha.

Kemampuan melihat setiap peluang adalah syarat utama. Sektor e-commerce yang mengalami lonjakan di era covid-19 bisa menjadi pilihan. Transaksi e-commerce selama pandemi naik 26 persen.

Begitu juga dengan rumahtangga yang selama ini telah berkecimpung di dunia usaha harus pandai-pandai mensiasati kondisi. Hasil Survei Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Usaha menunjukkan pada skala usaha UMK, sekitar 62 pesen mengaku menghadapi kendala keuangan terkait pegawai dan operasional.

Pemanfaatan internet di kalangan UMK masih di bawah 10 persen. Kenormalan baru dan pemanfaatan teknologi informasi dalam berusaha harus diterapkan.

Berbagi Saat Pandemi

Benang kusut perekonomian dampak pandemi sejatinya bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Semua pihak bisa berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.

Di level inilah, rumahtangga bisa berperan melalui gerakan berbagi. Gerakan berbagi berawal dari lingkungan terdekat merupakan bentuk jaring pengaman sosial yang efektif. Berbagi dengan paltform digital juga semakin marak belakangan ini. Berbagi tidak hanya sebagai kebutuhan hidup tapi beralih menjadi gaya hidup. (*)

Penulis: Darma Endrawati (Fungsional Statistisi BPS Provinsi Sulsel)