Tahun 2002 diselenggarakan KTT Dunia tentang Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. Hasil KTT ini mendeklarasikan Rencana Implementasi mengurangi kemiskinan, mengubah pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, melindungi dan mengelola sumber daya alam, memenuhi tantangan globalisasi, dan melindungi kesehatan manusia.
Tahun 2012 diselenggarakan Rio+20 yang menghasilkan satu tujuan bersama yaitu Future We Want. Pada tahun 2015 MDGs berakhir dan dilanjutkan dengan SDGs yang memiliki target hingga tahun 2030.
Jika dilihat dari sejarah konferensi tingkat tinggi dunia, maka sebuah pertanyaan mendasar kemudian mencuak. Mengapa hingga hari ini pembahasan krisis bidang lingkungan belum juga terselesaikan.
Padahal agenda pembahasan dalam menyelesaikan konflik lingkungan makin ke sini semakin banyak namun dampaknya dalam mengurangi krisis lingkungan justru berkebalikan.
Hal tersebut dapat terlihat dari beberapa penelitian yang mengungkap kondisi lingkungan hari ini.
1) Pembakaran energi fosil menyebabkan 10,2 juta orang mati tiap tahun akibat polusi udara. Khusus di Eropa, sebanyak 23 ribu orang mati tiap tahun akibat polusi batubara (https://phys.org/news/2016-07-coal-year-eu.html).
2) Kerusakan ekosistem pesisir seperti terumbu karang yang mengalami kerusakan total asidifikasi lautan (Guldberg et al. 2007).
3) Pemanasan global yang terjadi dalam kurun waktu belakangan ini dapat mencapai kenaikan temperatur permukaan bumi hingga 3 derajat Celsius dan berdampak pada perubahan iklim yang tidak terkendali (Hansen et al. 2016 dan Tong et al. 2019).
4) Produksi pangan terancam terganggu akibat climate change dan dapat mengancam kualitas kesehatan masyarakat di masa depan (Ray et al. 2019 dan Springmann et al. 2016).













