Antisipasi Rasional
Saat ini negara-negara Barat menjatuhkan sanksi keras terhadap Rusia. Implikasinya sangat besar. Banyak perusahaan asing dan internasional langsung menarik bisnis mereka dari Rusia.
Sekarang ini nilai mata uang rubel Rusia telah jatuh sebesar 28 persen tahun ini akibat modal yang ditarik dan dialihkan keluar negara itu. Indeks saham Rusia rontok 90 persen pada pasar luar negeri.
Kekacauan membayangi perekonomian Rusia yang nilainya mencapai 1,6 triliun dollar AS. Putin melancarkan balasan setiap saat, mulai menghentikan aliran gas negaranya ke Eropa hingga yang paling ekstrem menggunakan senjata nuklir.
Merespons tindakan di Moskwa, Barat juga menyiapkan aksi balasan berikutnya. Semangat kedua pihak saling merespons dengan tindakan yang bisa jadi lebih merusak dan tidak rasional. Implikasi jangka panjang dari situasi ini akan semakin menakutkan.
Semakin banyak aksi balas serang berlanjut, maka akan semakin banyak negara dunia yang berusaha menghindari ketergantungan pada keuangan Barat. Situasi ini diproyeksikan akan membuat masifnya ancaman pengucilan bagi negara negara yang berseberangan ekonomi politiknya dengan negara besar, seperti yang dilakukan terhadap Rusia saat ini.
Hal seperti ini jelas merupakan fragmentasi ekonomi dunia yang sangat berbahaya. Harga minyak terus naik karena ketegangan geopolitik yang terus tumbuh dan berkembang secara tajam dan berkelanjutan sehingga hanya membebani prospek ekonomi makro Asia sekaligus merusak daya dukung stabilitas keuangan nasional dan kepentingan mitra ekonomi global.
Pada posisi ini, negara negara di luar kepentingan Rusia dan Ukraina diharapkan dapat lebih fokus pada resiko penurunan pertumbuhan dan pemulihan ekonomi pasca Covid-19.












