Ketegangan geopolitik global yang terus menerus berlanjut sejatinya hanya akan menghasilkan dorongan stagflasi bagi ekonomi Asia, dimana permintaan melemah, tapi harga-harga komoditas jauh lebih tinggi.
Harga minyak yang lebih tinggi akan menghambat pertumbuhan konsumsi semua sektor ekonomi. Sebagai dampaknya, korporasi menghadapi permintaan yang lebih lemah, kondisi keuangan yang lebih ketat dengan biaya pendanaan lebih tinggi akan terjadi erosi margin keuntungan perusahaan.
Untuk itulah negara Indonesia perlu berancang-ancang dalam mengantisipasi situasi tersebut. Mengantisipasi segala macam prospek pertumbuhan ekonomi yang melemah akibat krisis geopolitik Ukraina dan Rusia.
Sebagai solusi rasionalnya, Bank sentral nasional hendaknya dapat memangkas nilai suku bunga. Dalam situasi ini, arah ekonomi nasional perlu hati-hati untuk menahan inflasi setiap harga komoditas supaya tak memikul beban berat kebutuhan.
Disisi lain, ditengah krisis geopolitik dan perang seperti sekarang keamanan pasokan migas menjadi isu utama yang tidak dapat diabaikan. ketika suplai gas dari Rusia terhambat, negara-negara Eropa mulai berpikir untuk tidak selalu bergantung pada komoditas energi.
Indonesia bisa melakukan transisi energi. Hanya saja, tantangan Indonesia adalah menarik investasi energi baru terbarukan ke dalam negeri yang sampai sekarang sektor bisnis ranah ini masih minim dilihat sebagai urgensi ketahanan stabilitas ekonomi global.
Semoga saja ditengah ketidakstabilan ekonomi global akibat krisis Ukraina dan Rusia, Indonesia mampu netral menghadapi tekanan blok blok ekonomi dunia karena menjaga kestabilan ekonomi dalam negeri merupakan hal utama yang harus selalu diprioritaskan. (*)
Penulis: Haris Zaky Mubarak, MA (Eksekutif Peneliti Jaringan Studi Indonesia)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.












