Sejumlah ormas Islam melakukan unjuk rasa di depan kantor Kedutaan India di Jakarta, Jumat (6/3). Mereka menuntut negara itu menghentikan diskriminasi dan pembunuhan terhadap kaum muslim. (Foto: VOA/Fathiyah)

OPINI – Akhir-akhir ini kaum muslimin di India mengalami kekerasan. Hal ini berawal ketika Perdana Menteri Narendra Modi meloloskan Undang-Undang Anti-Muslim atau UU Amandemen Warga Negara atau Citizenship Amandement Bill (CAB). Tak ayal, UU ini menjadi kontroversi di Publik, khususnya warga India (Tirto.id)

Undang-Undang Kewarganegaraan di India menjadi kontroversial karena mengizinkan pemerintah setempat memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan.

Akan tetapi, status kewarganegaraan itu hanya diberikan kepada imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Islam.

Akibat kontroversi tersebut, konflik meletus di pinggir New Delhi karena UU itu dianggap mendistriminasi umat Islam. Tercatat sebanyak 27 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 200 orang terluka (29/02/20202, CCN Indonesia).

Amerika merupakan salah satu pengusung HAM. Pada peristiwa tersebut terjadi, Donald Trump selaku Presiden Amerika sedang berkunjung ke India.

Tetapi, saat beliau berkunjung Donald Trump tidak mengecam tindakan Pemerintah India, tetapi membiarkan kejadian kekerasan yang menimpa umat Islam di India.

Lain pihak, pengurus Besar Nahdlatul Ulama merespon peristiwa tersebut. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU akan menyambangi kedutaan Besar India di Jakarta. Mereka ingin meminta penjelasan kronologi peristiwa sebenarnya.

“Silaturrahim antara PBNU dan Kudubes India untuk mencari tahu duduk soal sampai berkembangan terakhir seperti apa,” kata wakil Sekjen PBNU, Masduki Baidlowi dalam acara talkshow di Jakarta, (Jumat, 28 Februari 2020).

Dia menjelaskan NU akan meminta kebijakan pemerintah India dalam menyikapi tragedy berdarah tersebut. Hal ini karena selama ini RI dan India punya hubungan yang baik.

Namun disisi lain, penting memberikan tekanan kepada pemerintah RI untuk menjamin keamanan kaum muslimin. Selain pengamanan tentu memberikan hak-hak yang sama buat muslim sebagai agama minoritas di India (VivaNews).

Selain itu, Menteri agama Fachrul Razi meminta agar suruh tokoh dan umat beragama di Indonesia untuk menahan diri dan bersikap emosional menyikapi insiden bentrok antar umat Hindu dan muslim di India beberapa hari terakhir.

”Kepada semua tokoh dan umat beragama, baik di India maupun di Indonesia, Menag berpesan untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan tindakan emosional,” kata Fachrul dalam keterangan resminya Jumat (28/2, CCNIndonesia).

Selaku pemimpin negara, Presiden Indonesia tidak mengambil tindakan terhadap kekerasan yang terjadi di India. Padahal Indonesia merupakan negara sahabat dari India.

Demikian yang telah dikatakan oleh pengamat politik dan sosial Muhammad Yunus Hanixs dalam pernyataannya kepada suaranasional, Ahad (1/03/2020). “Jokowi harusnya menunjukkkan rasa solidaritas muslim di India”.

Indonesia merupakan negara berpendudukan muslim terbesar di dunia. Tetapi, pemimpinnya tidak mengambil sikap untuk mengecam tindakan pemerintah india.

Apakah ada kentingan dibalik bungkamnya Pemimpin Indonesia pada peristiwa tersebut? Apa mungkin karena dipengaruhi kepentingan dagang untuk mengenjok ekspor sawit ke India.

Selain itu, Negeri Muslim yang mencekam tindakan India adalah Negara Turki yakni Racep Tayyip Erdogan. Tapi hanya sebuah kecaman saja.

Tidak ada kepedulian yang serius dari sebuah kecaman saja. Saat ini, Umat Islam sangat membutuhkan tindakan untuk menghentikan kekerasan yang mereka rasakan bukan hanya sebuah kecaman saja. Tak hanya menghentikan kekerasan tetapi menghukum pelaku pembantaian dengan hukuman setimpal.

Kasus yang ada di India bukan yang pertama kali terjadi dan korbannya Umat Islam. Tetapi sudah sering terjadi, seperti yang ada di Palestina, Suriah, Uighur, dan Ronghiya.

Pertanyaannya mengapa umat Islam di dunia tidak bisa membantu kaum muslimin lainnya padahal umat Islam seperti buih di lautan tetapi tidak bisa berbuat apapun.

Muslim di India akan terselamatkan apabila adanya Daulah yang bersistemkan Akidah Islam. Sebab Khalifah akan melindungi seluruh Umat Islam yng ada di seluruh Dunia.

Pertanyaannya apakah kaum muslimin di seluruh Dunia bisa di selamatkan tanpa adanya Khilafah? Menurut penulis tidak bisa, sebab sekarang ini adanya sekat-sekat Nasionalisme dan hilangnya makna jihat serta tidak diterapkannya hukum-hukum yang ada di Alquran sebagai sumber kehidupan.

Suatu kisah pada masa khalifah Mu’tashim Billah, seorang Muslimah yang berasal dari Bani Hasyim dilecehkan oleh orang Romawi. Muslimah yang dilecehkan itu pun berteriak dan menjerit ”Waa Mu’tashimaah!”.

Setelah Informasi itu terdengar oleh Kalifah Mu’tashim Billah, khalifah pun menurunkan tentaranya dengan jumlah yang sangat besar, dengan ibarat kepala pasukan telah ada di kota wanita itu (Ammuriah) dan ekornya masih di istanah khalifah (Bagdad). Pertempuran tersebut dikenal dengan penaklukan Kota Ammuriah.

Penulis: Nur Ana Sofirotun (Mahasiswa Pertanian Universitas Hasanuddin)