Kesultanan Aceh Adalah Kesatria Pembela Islam
Aceh begitu istimewa secara geopolitik dan geoekonomi. Selat Malaka adalah gerbang memasuki Aceh yang sejak dulu tersohor bagi pasokan energi dunia.
Perang besar antara Aceh dan Belanda terjadi selama 40 tahun. Hal ini tak lain karena warga Aceh menolak untuk tunduk pada penjajahan Belanda. Sultan Mahmud Syah Penguasa Kesultanan Aceh mengkonsolidasikan kekuatan rakyat dan andalan utama konsolidasi itu adalah kekuatan para ulama.
Memobilisasi kekuatan ulama sangat penting karena mereka berada pada posisi dominan dalam masyarakat. Para ulama ini bukan saja dianggap masyarakat sebagai orang saleh yang berilmu tinggi, tetapi juga sekaligus sebagai pemimpin perang.
Teuku Umar, Teungku Chik Tiro, Teuku Tapa dan Cut Nya’ Dhien adalah simbol abadi perjuangan warga Aceh yang semangatnya terus hidup hingga detik ini. Perang Aceh bukanlah semata perang untuk mengusir penjajah dan merebut kembali tanah Aceh, tapi lebih dari itu, ini adalah Perang Sabil atau Perang di Jalan Allah.
Aroma Jihad semakin pekat ketika Khilafah Utsmaniyah turut andil dalam memobilisasi bantuan militer. Bahkan dalam surat kenegaraan antara Sultan Aceh dan Khalifah Selim II pada abad ke 16 silam.
Lalu, dimana letak hubungan muslim Aceh dengan muslim Rohingya (Myanmar)?
Jika melihat sejarah dimana batas negara-bangsa digantikan dengan batasan ethno-religious, maka akan terbentuk sebuah busur panjang homogen yang menandakan identitas muslim di Asia Tenggara yang terbentang dari Myanmar Barat Laut, Thailand Selatan, melalui semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, area pantai Kalimantan, sampai kepulauan Sulu dan sebagian Mindanao di Filipina Selatan.
Yang semuanya tunduk pada pemerintahan yang satu, Daulah Islam yang menjadikan mereka semuanya bersaudara karena Akidah Islam.
Maka, sudah selayaknya warga Aceh menerima muslim Rohingya, bukan menolak dan membiarkan mereka menjadi sasaran Kebencian dunia. Wallahu a’lam. (*)
Penulis: Juniwati Lafuku, S. Farm (Pemerhati Sosial)
***
Disclaimer: Setiap opini/artikel/informasi/ maupun berupa teks, gambar, suara, video dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Mediasulsel.com.













