JAKARTA – Masalah banjir belum juga terselesaikan di Ibu Kota Jakarta. Menurut pantauan, banjir di awal Februari ini, cukup merata di seluruh wilayah Jakarta. Genangan air selama berhari-hari tidak hanya menghambat aktivitas warga, Namun juga melumpuhkan perekonomian di Ibu Kota, DKI Jakarta.

Nyatanya, banjir di Ibu Kota tidak hanya disebabkan faktor alam seperti cuaca yang ekstrem. Namun, juga Perilaku manusia turut menjadi andil, banjir tidak dapat terhindar dari warga Jakarta.

Berikut ini 5 faktor penyebab banjir jakarta

1. Curah Hujan Tinggi

Setiap musim penghujan, curah hujan di Jakarta dan sekitarnya cukup tinggi dalam kurun waktu yang lama, hal ini sangat berpotensi terjadi nya banjir terutama daerah yang datarannya lebih rendah.

2. Penduduk Padat, Lahan Serapan Air Menyusut

Sebagai pusat perekonomian, pemerintahan dan pendidikan di Indonesia, Jakarta memiliki kepadatan penduduk sangat tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ada 10.177.924 penduduk di DKI Jakarta.

Akibat kondisi ini, ruang terbuka hijau (RTH) yang dapat menjadi kawasan serapan air pun menyusut. Laman resmi Pemprov DKI Jakarta menyebut, hanya ada 11% wilayah yang masih memiliki RTH. Faktanya, sebagian besar lahan di Ibu Kota dipakai untuk pembangunan kawasan pemukiman warga dan beragam infrastruktur. Banjir tahunan pun tidak terelakkan.

3. 13 Sungai Aliri Jakarta

Ada 13 sungai mengalir di wilayah Jakarta yang berpotensi membuat banjir. Belasan sungai itu adalah Mookervart, Angke, Pesanggrahan, Grogol, Krukut, Kali Baru Barat, Ciliwung, Kali Baru Timur, Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, dan Cakung.

4. Penurunan Muka Tanah

Banyaknya gedung perkantoran di Ibu Kota menjadi beban lingkungan. Salah satunya, karena penggunaan air tanah secara berlebihan, Jakarta mengalami penurunan muka tanah sebanyak 5-12 cm per tahun.

Penurunan muka tanah pun memiliki pengaruh besar pada risiko banjir pada masa depan. Sejumlah area di Jakarta atau sebesar 40 persen kini tenggelam dalam 3-10 tahun akibat pengambilan air tanah yang berlebihan.

Akibat penurunan muka tanah ini bukan hanya banjir, melainkan akses air bersih masyarakat pun berkurang.

5. Waduk Berkurang

Banjir melanda Jakarta juga diakibatkan karena berkurangnya waduk atau danau. Padahal, waduk berperan vital dalam pencegahan banjir selama musim hujan serta menjadi penyimpanan air selama musim kering.

Menurut data dari Urban Poor Consortium, Terdapat sekitar 800 waduk pada zaman Belanda, kini hanya tersisa 200 waduk dan danau

Dari 200 waduk, 80 persennya dalam kondisi rusak, dangkal, atau telah diubah menjadi area perumahan.

6. Perilaku Masyarakat

Di balik semua itu, perilaku masyarakat juga menjadi faktor utama penyebab banjir di Jakarta. Hingga kini, kesadaran hidup bersih dan sehat warga Ibu Kota masih perlu ditingkatkan. Masih banyak warga membuang sampah ke sungai maupun mendirikan bangunan di bantaran kali.

Menurut data dari UPC, Sampah yang dihasilkan di Jakarta sebanyak 7.000 ton per hari.

Pendangkalan sungai yang disebabkan oleh pembuangan sampah sembarangan disungai menyebabkan sungai yang dulunya dalam, kini menjadi dangkal dan berakibat bajir jika curah hujan terus meningkat setiap harinya. [*/4ld]