OPINI—Maraknya penculikan anak membuat keresahan baru bagi semua orang tua. Sejak ditemukan mayat bernama Muh Fadli Sadewa (12 tahun) yang sebelumnya dilaporkan hilang di Kota Makassar, pembicaraan seputar kriminalitas terus menggelinding. Tak ayal membuat ketakutan makin bertambah di benak semua orang.
Dilansir dari sulsel.suara.com (10/1/2023), Selasa 10 Januari 2022 sekitar pukul 03.00 Wita bertempat di Jalan Batua Raya 7 Kota Makassar, Unit Reskrim Polsek Panakkukang menangkap pelaku bernama Adrian (17 tahun). Selanjutnya satu tersangka bernama Faisal (14 tahun) diamankan di Kompleks Kodam lama Lorong 7.
Diduga motif pembunuhan kedua remaja tersebut adalah tergiur uang milyaran rupiah dengan menjual organ manusia. Via pencarian di Google, mereka mendapatkan info jika harga organ tubuh manusia bisa dihargai hingga 1,2 Milyar rupiah. Inilah yang akhirnya membuat mereka nekat melakukan pembunuhan dengan bekal yang sangat minim. Hanya info sekadarnya, lalu segera bertindak gegabah.
Naluri Kemanusiaan Sudah Mati
Kejadian di atas adalah kejadian berulang yang terus terjadi di negeri ini. Maraknya kriminalitas termasuk pembunuhan menjadi hal lumrah di dalam sistem yang menegasikan aturan Ilahi. Beragam model dilakukan hingga naluri kemanusiaan seakan sudah mati rasa. Bahkan melebihi binatang sekalipun, naudzubillah!
Banyaknya kasus penculikan anak yang berakhir dengan tragis, seyogianya membuat semua pihak berpikir cerdas. Mengapa moral anak bangsa sudah sedemikian akut? Kerusakan di hampir semua lini kehidupan hampir tak bisa dinalar akal sehat lagi. Berbagai regulasi yang dibuat seolah tak berefek. Bahkan dari hari ke hari makin bertambah parah.
Patut menjadi perhatian bersama bahwa support system yang ada saat ini, begitu semrawut hingga melahirkan generasi gabut. Berbagai solusi pragmatis, seolah tidak balance dengan derasnya informasi tanpa filter. Diperparah dengan kompleksnya problem hidup akibat tata kelola yang keliru. Sempurnalah kekisruhan akibat penerapan sistem sekuler kapitalistik.
Jika ditelisik akar masalah dari kejadian penculikan anak ini, disebabkan banyak faktor. Pertama, pondasi akidah dari dalam rumah kian minim. Problem hidup yang sangat majemuk, menyebabkan keluarga menjadi rapuh. Salah satunya bisa disebabkan masalah kebutuhan pokok yang tidak tercukupi akibat tidak berimbangnya pemasukan dan pengeluaran.
Tren kenaikan harga sembako secara kontinu dan kebutuhan pokok lainnya, merembes kemana-mana. Akhirnya orang tua tidak maksimal membersamai anak dalam memahamkan pondasi akidah yang kokoh. Tersebab sibuk dengan urusan perut dan segala tetek bengeknya.
Kedua, kehidupan masyarakat yang kian hari kian individualis. Kondisi ini tercipta secara alami, disadari atau tidak. Hal ini dikarenakan kungkungan kehidupan materialistik yang diciptakan sistem saat ini. Sehingga, setiap individu harus berjuang sendiri untuk sekadar mengisi lambung tengah agar tetap bisa melanjutkan hidup.
Pun, saling menasihati sesama tetangga seakan sudah tidak cukup waktu. Hari-hari disibukkan dengan rutinitas bekerja tanpa dibarengi pemahaman agama yang benar. Hal ini bisa menjadi jalan munculnya berbagai macam kriminalitas.
Ketiga, negara seolah abai dalam mengayomi rakyatnya. Padahal, hal paling urgen dalam menciptakan kesejahteraan rakyat adalah hadirnya negara. Tak dimungkiri, sistem sekuler kapitalis menciptakan derita berkepanjangan akibat asas yang memang sudah rusak dari akarnya.












