OPINI—Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat dan menjadi perhatian dunia. Serangan militer yang terjadi di antara kedua negara tersebut menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah masih berada dalam pusaran konflik yang panjang.
Banyak pihak memandang konflik ini hanya sebagai perseteruan geopolitik antara dua negara, tetapi bagi umat Islam, peristiwa ini memiliki dimensi yang lebih luas: berkaitan dengan kezaliman, penjajahan, dan masa depan umat Islam di kawasan tersebut.
Sejak berdirinya Israel pada 1948, konflik di kawasan Timur Tengah hampir tidak pernah berhenti. Israel sering mendapat dukungan kuat dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, baik dalam bentuk bantuan militer, diplomatik, maupun ekonomi. Dukungan tersebut membuat Israel memiliki posisi strategis yang sangat kuat di kawasan.
Sementara itu, banyak negara Muslim justru berada dalam kondisi terpecah, baik secara politik maupun kepentingan.
Dalam konteks konflik Iran dan Israel, sebagian pihak melihat Iran sebagai kekuatan yang berani menantang dominasi Israel di kawasan. Iran selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang secara terbuka menentang keberadaan Israel dan mendukung kelompok-kelompok perlawanan di Palestina maupun Lebanon. Sikap ini membuat Iran sering berada dalam ketegangan dengan Israel serta sekutunya.
Namun demikian, konflik antara Iran dan Israel tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai konflik antara pihak yang sepenuhnya benar dan pihak yang sepenuhnya salah. Di balik konflik tersebut terdapat kepentingan politik, strategi militer, serta perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah.
Oleh karena itu, umat Islam perlu melihat persoalan ini secara lebih jernih dan tidak sekadar terbawa oleh narasi yang berkembang di media.
Bagi umat Islam, isu utama yang tidak boleh dilupakan adalah penjajahan yang masih dialami oleh rakyat Palestina. Selama puluhan tahun, rakyat Palestina hidup di bawah tekanan, pendudukan wilayah, serta berbagai bentuk kekerasan yang terjadi secara berulang. Masalah Palestina seharusnya tetap menjadi perhatian utama umat Islam di seluruh dunia.
Konflik Iran dan Israel seharusnya menjadi pengingat bahwa umat Islam membutuhkan persatuan yang lebih kuat. Perpecahan yang terjadi selama ini justru membuat posisi umat Islam semakin lemah dalam menghadapi berbagai tantangan global. Tanpa persatuan, sulit bagi umat Islam untuk memberikan solusi nyata bagi berbagai persoalan yang dihadapi.
Selain itu, umat Islam juga perlu membangun kekuatan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, ekonomi, teknologi, dan pertahanan. Kekuatan tidak hanya dibangun melalui retorika politik, tetapi melalui kerja nyata yang berkelanjutan. Dengan demikian, umat Islam dapat memiliki posisi yang lebih kuat dan dihormati dalam percaturan dunia.
Pada akhirnya, kemenangan hakiki bukan hanya kemenangan dalam konflik militer, tetapi kemenangan dalam membangun peradaban yang adil dan bermartabat. Umat Islam diharapkan mampu mengambil pelajaran dari berbagai konflik yang terjadi dan menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat persatuan serta meningkatkan kualitas umat secara keseluruhan. (*)

Penulis:
Ifah Rasyidah
(Penulis, Pegiat Literasi Islam)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.













