OPINI—Generasi Z seringkali disebut sebagai generasi paling cemas. Berbagai survei menunjukkan bahwa Generasi Z merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami kecemasan dan gangguan kesehatan mental.
Bahkan survei Jakpat yang dipublikasikan GoodStats mencatat sekitar 60% Gen Z Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Sementara itu, laporan Kompas juga menggambarkan Indonesia sedang berada di ambang krisis kesehatan mental remaja.
Penyebab kecemasan dan gangguan kesehatan mentalnya pun beragam. Tekanan ekonomi, ketidakpastian karier, tingginya angka pengangguran, pengaruh media sosial, tuntutan untuk selalu terlihat sukses, hingga tekanan sosial yang datang dari lingkungan membuat banyak anak muda merasa terjebak dalam kecemasan berkepanjangan.
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, Gen Z juga kerap mendapat stigma sebagai generasi yang rapuh, manja, dan kurang tahan menghadapi tantangan.
Namun, di balik kecemasan itu juga, mulai muncul gejala baru. Banyak anak muda semakin kritis terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, hingga politik. Mereka mulai mempertanyakan sistem yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat dan berani menyuarakan perubahan.
Hal ini menjadi sebuah gelombang resistensi yang diprediksi mampu mampu menjadi titik balik bagi generasi ini. Dan ini menunjukkan bahwa kecemasan tidak selalu berakhir pada keputusasaan. Sebaliknya, ia dapat menjadi titik awal lahirnya kesadaran untuk memperjuangkan kondisi yang lebih baik.
Krisis Sistem Melahirkan Generasi yang Cemas
Kecemasan yang dialami Gen Z sesungguhnya bukan sekadar persoalan individu. Akar masalahnya jauh lebih dalam, yakni krisis multidimensi yang sedang melanda dunia hari ini. Ketidakstabilan ekonomi, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, biaya pendidikan yang tinggi, krisis keluarga, hingga derasnya arus informasi tanpa filter menjadi beban yang harus dipikul generasi muda.
Dalam peradaban hari ini yang sekuler kapitalistik, ukuran keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh materi dan pencapaian duniawi. Kemudian media sosial memperkuat budaya perbandingan, sementara kehidupan yang serba kompetitif membuat banyak anak muda merasa selalu tertinggal. Akibatnya, mereka kehilangan ketenangan batin dan arah hidup.
Di sisi lain, potensi besar yang dimiliki generasi muda justru sering dilemahkan. Alih-alih dibimbing menjadi agen perubahan, mereka malah dipapar dengan budaya konsumtif, hiburan tanpa batas, serta berbagai tren yang perlahan mengikis jati diri. Lalu berujung energi, kreativitas, dan idealisme mereka lebih banyak diarahkan pada hal-hal yang tidak produktif.
Negara pun belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung generasi. Berbagai persoalan mendasar seperti lapangan kerja, pendidikan yang berkualitas, hingga perlindungan kesehatan mental belum tertangani secara menyeluruh. Bahkan, tidak sedikit generasi muda bukannya dirangkul, justru seringkali menerima stigma negatif dari generasi sebelumnya. Padahal, mereka lebih membutuhkan pendampingan daripada sekadar penilaian.
Meski demikian, sikap kritis yang mulai tumbuh di kalangan Gen Z merupakan modal besar. Kecemasan yang mereka rasakan dapat berubah menjadi energi perubahan apabila diarahkan pada solusi yang benar. Resistensi terhadap berbagai ketidakadilan adalah pertanda bahwa masih ada harapan untuk memperbaiki masa depan.
Membangun Generasi Tangguh dengan Islam
Islam menawarkan solusi yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar tambal sulam. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki tujuan hidup yang jelas, yaitu beribadah kepada Allah.
Ketika kehidupan dibangun di atas akidah Islam, manusia akan memiliki ketenangan, arah hidup, dan standar kebahagiaan yang tidak semata-mata diukur oleh materi. Inilah makna Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yang menghadirkan ketenteraman dan keselamatan bagi seluruh manusia.
Sejarah juga membuktikan bahwa generasi muda pada masa kejayaan Islam memiliki karakter yang sangat kuat. Mereka berkepribadian Islam, memiliki akhlak yang mulia, serta menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dan dari tangan para pemuda lahir ilmuwan, panglima, ulama, hingga pemimpin yang memberi manfaat besar bagi peradaban.
Di sisi lain, negara dalam Islam berfungsi sebagai pelindung dan pelayan umat. Negara bertanggung jawab menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat, menyediakan pendidikan yang berkualitas, membuka lapangan pekerjaan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi yang sehat secara fisik maupun mental.
Dengan demikian, generasi muda dapat berkembang secara optimal tanpa dibebani oleh ketidakpastian hidup yang terus-menerus.
Karena itu, kebangkitan Gen Z tidak cukup hanya dengan membangun mental yang lebih kuat. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran untuk mengemban Islam sebagai ideologi dan memiliki kepedulian terhadap persoalan umat.
Ketika generasi muda memahami bahwa mereka adalah bagian dari pembawa perubahan, kecemasan akan berubah menjadi harapan, dan resistensi akan menjadi kekuatan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Generasi emas tidak lahir dari sistem yang membiarkan anak mudanya kehilangan arah. Ia lahir dari peradaban yang membentuk kepribadian, menjaga martabat manusia, dan menghadirkan keadilan. Dengan Islam sebagai pedoman hidup, masa depan yang lebih baik bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan cita-cita yang layak diperjuangkan. (*)
Wallahu’alam bishawab.
Penulis:
Ria Mufira Hamzah
(Aktivis Muslimah)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.













