OPINI – 17 Agustus menjadi momentum untuk kembali memaknai kemerdekaan secara lebih luas. Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan bangsa memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang adil untuk hidup sehat, produktif, bermartabat, dan sejahtera.
Dalam konteks pembangunan nasional, kesehatan masyarakat merupakan salah satu fondasi utama kemajuan bangsa. Kita tidak mungkin membangun sumber daya manusia yang unggul tanpa masyarakat yang sehat. Indonesia juga tidak dapat disebut maju jika masih terdapat kesenjangan dalam akses, kualitas, dan keberlanjutan pelayanan kesehatan.
Karena itu, momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia hendaknya menjadi pengingat bahwa peningkatan mutu kesehatan masyarakat harus terus menjadi agenda bersama. Mutu kesehatan tidak hanya diukur dari ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga dari sejauh mana pelayanan tersebut mampu menjangkau masyarakat, menjawab kebutuhan, memberikan manfaat, dan meningkatkan kualitas hidup.
Kita perlu terus memperkuat paradigma kesehatan yang tidak hanya berfokus pada kuratif dan rehabilitatif, tetapi juga memberi perhatian lebih besar pada aspek promotif dan preventif. Membangun masyarakat yang sehat berarti membangun kesadaran, menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, memperkuat literasi kesehatan, mencegah penyakit, serta memberdayakan masyarakat agar mampu mengambil keputusan yang tepat bagi kesehatan diri, keluarga, dan lingkungannya.
Di tengah perubahan demografi, perkembangan teknologi, meningkatnya tantangan penyakit tidak menular, persoalan kesehatan lingkungan, serta berbagai masalah sosial yang semakin kompleks, pembangunan kesehatan membutuhkan inovasi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang kuat.
Perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Sebagai bagian dari Universitas Hasanuddin, kita tidak hanya bertanggung jawab mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan, inovasi, dan praktik yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Semangat Merdeka Belajar, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat harus terus diarahkan untuk menjawab persoalan kesehatan yang nyata. Ilmu pengetahuan tidak boleh hanya hadir di ruang kelas dan ruang akademik, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat sebagai solusi, penguat kapasitas, dan pendorong peningkatan kualitas kehidupan.
Kemerdekaan juga mengajarkan pentingnya gotong royong. Peningkatan mutu kesehatan masyarakat tidak dapat dilakukan oleh satu institusi atau kelompok saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, masyarakat, sektor swasta, organisasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan.
Mari menjadikan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum untuk memperkuat komitmen bahwa setiap warga negara berhak memperoleh kehidupan yang sehat dan pelayanan kesehatan yang bermutu.
Sebab, pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa tinggi pertumbuhan ekonominya atau seberapa maju teknologinya, tetapi juga seberapa sehat, sejahtera, dan berdaya masyarakatnya.
Dari Universitas Hasanuddin, mari terus menyalakan semangat pengabdian, memperkuat kolaborasi, menghadirkan inovasi, dan berkontribusi membangun sistem kesehatan yang lebih bermutu, inklusif, tangguh, dan berkeadilan.
Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang masyarakatnya sehat.
Indonesia yang maju adalah Indonesia yang mampu memastikan tidak seorang pun tertinggal dalam memperoleh kehidupan yang sehat dan bermartabat.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia.
Mari terus bergerak bersama untuk Indonesia yang lebih sehat, kuat, dan berkeadilan.
Merdeka!
Penulis:
Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., M.Sc.PH, PhD
(Guru Besar dan Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas)













