OPINI—Pemerintah Kota Makassar kembali menggelar Maulid Akbar di Dermaga Pelabuhan Paotere, Kecamatan Ujung Tanah, Jumat (28/8/2026) malam. Pemilihan kawasan Pelabuhan Paotere sebagai lokasi pelaksanaan menghadirkan suasana berbeda dalam peringatan Maulid tahun ini.
Kemeriahan Maulid Akbar di tengah ribuan masyarakat semakin terasa dengan pembagian berbagai hadiah doorprize untuk puluhan warga. Hadiah tersebut antara lain perabot rumah tangga, voucher belanja senilai Rp250 ribu yang dapat digunakan di Pasar Terong, hingga hadiah utama berupa dua paket umrah untuk dua pasangan.
Dalam sambutannya, Munafri mengatakan Maulid Akbar Pesisir tidak hanya menjadi kegiatan rutin tahunan. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat sekaligus momentum untuk merefleksikan kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Melalui momentum tersebut, ia mengajak masyarakat menjadikan Rasulullah SAW sebagai sosok utama untuk diteladani dalam menjalani kehidupan. Jumat (makassarkota.go.id, 28/8/2026).
Maulid Nabi Hanya Ritual Semata
Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Rasulullah SAW yang sering disebut sebagai Maulid Nabi. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati kelahiran beliau dengan berbagai kegiatan.
Peringatan tersebut antara lain berupa pengajian, perlombaan, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Sayangnya, peringatan Maulid saat ini masih sebatas rutinitas dan belum menyentuh esensi misi diutusnya Nabi ke muka bumi. Umat belum memahami bahwa Nabi tidak sekadar mengajarkan aspek ruhiyah.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bagaimana mengelola dan memakmurkan bumi dengan misi Ilahi. Mewujudkan kepemimpinan yang menerapkan aturan Allah dan menciptakan rahmat bagi alam merupakan bagian dari keteladanan tersebut.
Di antara keteladanan yang wajib ditiru ialah kepemimpinan Nabi SAW atas umat manusia. Beliau bukan sekadar pemimpin spiritual, tetapi juga kepala negara Islam pertama.
Rasulullah SAW dikenal sebagai pemimpin luar biasa dengan karakter menonjol, yakni amanah, shiddiq, fathanah, dan tabligh. Karakter kepemimpinan seperti ini dinilai langka dimiliki para punggawa negeri ini.
Meski mayoritas penguasa beragama Islam, penulis menilai karakter kepemimpinan mereka masih amat jauh dari karakter kepemimpinan Islami.
Di saat terjadi krisis kepemimpinan seperti hari ini, umat Islam seharusnya kembali menelaah bagaimana kepemimpinan Rasulullah SAW hingga melahirkan peradaban agung.
Hal tersebut sangat kontras dengan kepemimpinan dalam sistem demokrasi hari ini. Para pemimpin di negeri ini dinilai tidak henti-hentinya membebani rakyat dengan berbagai macam pajak.
Di sisi lain, korupsi merajalela. Yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin semakin menderita.
Kekayaan yang berlimpah ruah di negeri ini tidak dapat dinikmati sepenuhnya oleh seluruh rakyat. Kekayaan tersebut justru dinilai hanya dinikmati oleh segelintir kapitalis.
Hal ini, menurut penulis, terjadi karena tata kelola sumber daya alam di negeri ini tidak menggunakan aturan Islam.
Bak jauh panggang dari api. Konsep dan pola kepemimpinan yang dipraktikkan di negeri mayoritas Muslim ini amat jauh dari kepemimpinan ala Nabi SAW.
Bukan kepemimpinan Islami, melainkan kepemimpinan sekularistik liberal.
Kepemimpinan dan kekuasaan pemerintahan jika dipisahkan dari Islam akan membahayakan pemangkunya dan merusak rakyat yang dipimpin.
Penguasa akan terhina karena mengkhianati amanah Allah untuk mengatur kekuasaan dengan Islam. Rakyat pun akan menjadi korban dari penerapan aturan yang merusak.
Untuk mengembalikan kemuliaan umat, satu-satunya cara, yakni menghadirkan kehidupan yang diatur dengan syariat Islam.
Kepemimpinan dalam Islam
Secara fitrah, manusia membutuhkan contoh dalam menjalani kehidupan. Maka, Allah mengutus manusia terbaik sebagai teladan bagi manusia.
Setiap ucapan dan perbuatannya merupakan teladan terbaik yang harus kita ikuti. Bukan sekadar dalam perkara ibadah ritual, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.
Keberhasilan kepemimpinan Rasulullah SAW dapat dilihat dari beberapa hal.
Pertama, asas yang digunakan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah akidah Islam.
Kedua, Rasulullah SAW menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Syariat tersebut mengatur hubungan manusia dengan Rabbnya, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, maupun hubungan manusia dengan sesamanya.
Rasulullah SAW menerapkan aturan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak pernah melenceng sedikit pun dari aturan Allah SWT.
Ketiga, beliau memiliki akhlak yang mulia. Rasulullah SAW memimpin masyarakat dengan adil, bijaksana, amanah, dan penuh kasih sayang terhadap manusia.
Sebagai kepala negara, beliau menunjukkan sikap pemimpin yang mengayomi dan mementingkan rakyatnya. Sehingga, rakyat betul-betul merasakan kesejahteraan.
Oleh karena itu, meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW tidak cukup hanya dilihat dari akhlak beliau. Keteladanan tersebut, menurut penulis, harus dilihat secara keseluruhan dari sistem yang diterapkan pada masa itu.
Beliau menerapkan sistem Islam yang kemudian dilanjutkan oleh para khalifah setelah wafatnya.
Maulid Nabi adalah refleksi tentang sejauh mana kita meneladani kehidupan Rasulullah SAW. Bukan sekadar mengadakan berbagai macam peringatan, tetapi juga menjadikan Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem kehidupan.
Mulai dari membangun tatanan keluarga hingga tatanan negara, semua diarahkan untuk mewujudkan tatanan masyarakat Islam yang diridai Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis:
Cia Ummu Shalihah
(Pemerhati Sosial)
Disclaimer:
Setiap opini, artikel, informasi, maupun berupa teks, gambar, suara, video, dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab masing-masing individu, dan bukan tanggung jawab Mediasulsel.com.










