BONE — Ketika banyak anak muda memilih meninggalkan desa demi mengejar pekerjaan di kota, Burhanuddin, S.P., justru mengambil jalan sebaliknya. Alumni Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) itu memilih pulang kampung dan menjadi petani di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone.
Pria yang akrab disapa Kak Handy itu menyelesaikan studi di Unhas pada 2021 setelah masuk sebagai mahasiswa Agroteknologi angkatan 2016. Alih-alih mencari pekerjaan di kota, ia kembali ke tanah kelahirannya dan terjun langsung mengelola sektor pertanian. Kini, Burhanuddin dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani Mabbiring sekaligus Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Lamellong.
Bagi Burhanuddin, bertani bukan pilihan karena tidak memiliki pekerjaan lain. Ia justru melihat pertanian sebagai sektor yang memiliki peluang besar sekaligus ruang untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang dan bermakna. “Sektor pertanian sangat menjanjikan dan peluangnya besar. Selain itu, ada panggilan untuk hidup slow living ada pada sektor pertanian, serta perlu adanya regenerasi petani. Kami butuh petani muda,” ujarnya.
Semangat itu kemudian mendorongnya membentuk P4S Lamellong pada 2023. Wadah tersebut dibangun sebagai ruang belajar bagi petani sekaligus tempat pengembangan kapasitas bagi sarjana pertanian. Dua tahun berselang, pada 2025, Burhanuddin dipercaya menggantikan ketua Kelompok Tani Mabbiring yang telah lanjut usia. Ia menjadi petani termuda yang harus memimpin para petani senior.
Tantangan itu justru memperkuat tekadnya. Burhanuddin tidak hanya membawa pengetahuan akademis dari kampus, tetapi juga berupaya memperkenalkan teknologi pertanian kepada kelompok tani. Kesempatan tersebut semakin terbuka ketika Kelompok Tani Mabbiring terlibat dalam Program Mannennungeng: Smart Hydro Loop yang diinisiasi Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas.
Dalam program itu, Burhanuddin berperan sebagai penghubung antara mahasiswa dan masyarakat sekaligus fasilitator penerapan teknologi pertanian cerdas. Petani mendapatkan pendampingan teknis, termasuk penerapan smart farming melalui teknologi AWD IoT. “Selain didampingi secara teknis, terutama smart farming menggunakan AWD IoT, kami juga dihubungkan dengan instansi terkait yang dapat mendukung usaha tani di desa kami. Respons petani sangat antusias, terutama karena ada wawasan baru tentang teknologi berbasis IoT,” jelasnya.
Sebagai Ketua P4S Lamellong, Burhanuddin tidak ingin program tersebut berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan pendampingan. Ia memastikan pengetahuan dan teknologi yang telah diperkenalkan dapat diteruskan kepada petani lainnya. “Tugas kami sebagai P4S adalah memberikan pelatihan kepada petani. Apa yang ditinggalkan tim Mannennungeng akan kami ajarkan juga kepada petani di sekitar, sehingga program ini bisa terus berjalan dan bahkan direplikasi di tingkat nasional,” tegasnya.
Dampaknya mulai dirasakan masyarakat. Kesadaran terhadap pertanian modern dan terintegrasi meningkat, sementara peluang peningkatan kesejahteraan petani ikut terbuka. Sejumlah petani muda juga telah dilatih menjadi teknisi perakitan alat smart AWD IoT. Bagi Burhanuddin, langkah ini penting untuk membuka ruang baru agar generasi muda tidak hanya menjadi pekerja di sektor pertanian, tetapi mampu menjadi inovator.
Ia mengaku keterlibatan mahasiswa Unhas memberi pengalaman lebih dari sekadar transfer teknologi. Mahasiswa ikut turun ke lahan, membantu berbagai kegiatan di luar lahan, hingga bergotong royong bersama masyarakat desa. “Mereka banyak membantu, baik di lahan maupun di luar lahan. Mereka juga sangat membantu saat gotong royong bersama warga desa. Mereka adalah tim yang solid dengan berbagai disiplin ilmu, sehingga banyak pengetahuan baru yang kami peroleh dan kami saling bertukar pikiran,” kenangnya.
Ke depan, Burhanuddin ingin Kelompok Tani Mabbiring tumbuh sebagai kelompok tani yang kuat secara kelembagaan, sementara P4S Lamellong diharapkan menjadi pusat pembelajaran sekaligus inovator pertanian di desa. Baginya, keberlanjutan program tidak bisa hanya bergantung pada satu kelompok atau lembaga. “Keterlibatan seluruh elemen menjadi poin penting dalam keberlanjutan program,” tambahnya.
Pesan Burhanuddin kepada generasi muda pun sederhana tetapi tegas. Ia ingin semakin banyak anak muda melihat sawah bukan sebagai simbol keterbelakangan, melainkan ruang untuk menciptakan masa depan. “Pertanian adalah sektor yang menjadikan kita kuat. Tanpa pangan, kita tidak akan bertahan. Kita butuh regenerasi, karena rata-rata petani kita sudah tua. Sudah saatnya anak muda turun ke sawah dan menjadi bagian dari perubahan,” pungkasnya. (Mp/Ag4ys)
Citizen Reporter: Aydil Fitra Mulya (Ketua UKM KPI Unhas)













