OPINI – Pernah pada suatu masa, Islam berdiri sebagai sebuah peradaban yang sangat menyaingi imperium Persia dan Romawi. Memberikan kontribusi yang tak terhingga. Baik dalam sains dan teknologi, apatahlagi yang berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan manusia.

Bahkan, tercatat dalam sejarah dunia, Islam menjadi inspirasi selama tiga belas abad lamanya. Menorehkan tinta emas pada lembaran kehidupan manusia. Mencetak generasi-generasi yang menjadi inspirasi bagi setiap peradaban.

Namun pada saat ini jauh berbeda, kebanyakan manusia tidak lagi mengingat Islam sebagai sebuah peradaban yang menginspirasi umatnya sebagai umat terbaik. Mirisnya, kaum muslimin kini dikenal sebagai umat yang mundur dalam berbagai bidang kehidupan.

Bagaimana tidak, Islam kini dipandang dengan kacamata Barat yang menyebabkan kaum muslimin menanggalkan identitas kemuliaan dan melupakan jati diri mereka.
Sebagaimana diwartakan banyak media, Kepala Dinas Pendidikan Bangka Belitung Muhammad Soleh membatalkan surat edaran yang mewajibkan peserta didik SMA/SMK sederajat untuk membaca dan membuat rangkuman buku “Muhammad Al Fatih 1453” tersebut.

Awalnya, alasan pihaknya mewajibkan para siswa membaca buku tersebut semata untuk meningkatkan minat literasi pada anak. Pengambilan buku yang memuat biografi tokoh Muhammad Al Fatih (MAF) pun semata karena sosoknya yang seorang pejuang. Penaklukan Konstantinopel di bawah tangannya adalah sejarah perjuangan yang patut diteladani.

“Kita inginkan memberi semangat literasi, memberi mereka pengetahuan sejarah sambil mengingatkan. Dan kita kemarin meminta siswa membaca buku Muhammad Al Fatih karena perjuangan menaklukkan Konstantinopel adalah sejarah perjuangan yang luar biasa,” sebutnya (Bangkapos, 3/10/2020).

Namun sungguh sayang, beberapa pihak keberatan hingga Dinas Pendidikan Babel menganulir hal tersebut dan mengganti dengan buku lainnya.

Muhammad al-Fatih: Tak Hanya Imajinasi

Adalah Muhammad al-Fatih, sejak baligh tidak pernah meninggalkan kewajibannya, senantiasa memperbanyak amalan sunnah, bahkan tidak semalam pun berlalu tanpa mendirikan sholat malam, dan mengingat Allah.

Sejak ia berusia delapan tahun, ia telah menghafal Alquran dan menguasai tujuh bahasa berbeda, yaitu Arab, Latin , Yunani, Serbia, Turki, Parsi dan Ibrani.
Tokoh yang begitu fenomenal dengan kisah heroiknya menaklukkan Konstantinopel, karena Ia sadar bahwa Nabi tidak akan pernah bercanda dalam urusan janji Allah, setelah Rasulullah melontarkan bisyarahnya.

Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya. (HR. Ahmad)

Demikianlah sepenggal sabda Rasulullah SAW yang disampaikan kepada para sahabatnya. Para sahabat pun benar-benar sadar dengan visi yang telah Rasulullah berikan pada mereka.

Bahkan hadis ini menjadi pendorong Muhammad Al Fatih untuk menaklukkan Konstantinopel. Pada Jumadil Awal 857 H bertepatan dengan 29 Mei 1453, Al Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel melewati perbukitan Galata membawa kapal-kapalnya. Bersama ribuan tentara menarik kapal-kapal melalui darat.

Pemuda yang juga dikenal sebagai Sultan Muhammad II, hidup demi Islam dan mati dalam rangka menegakkan kalimat Allah. Penaklukan Konstantinopel merupakan hasil akumulatif dari kerja sama para ulama, fukaha, pemimpin, dan tentara di sepanjang masa. Kebangkitan Kekhilafahan Utsmaniyah pada masa Muhammad Al Fatih mencakup seluruh bidang, ilmiah, politik, ekonomi, informasi, dan militer.

Kejayaan itulah yang wajib diketahui generasi muslim bahwa mereka adalah pewaris dari penakluk Konstantinopel yang tangguh. Muhammad Al Fatih mencerminkan seorang pemimpin yang visioner, amanah, lagi bertakwa. Kejayaan Islam tak mungkin terulang jika pemimpin-pemimpin kaum muslim saat ini lebih suka berkompromi dengan demokrasi dan korporasi.

Pendek kata, kisah heroik Muhammad al-Fatih bukanlah fiksi, bahkan usahanya melampaui imajinasi. Benteng pertahanan Konstantinopel yang sulit ditembus, akhirnya takluk di tangan pemuda 21 tahun. Pertanyaannya, tidakkah kita ingin menginginkan generasi seperti ini?

Khilafah: Pencetak Inspirasi Generasi

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menyadari pentingnya melahirkan generasi cemerlang berkualitas pemimpin. Ada ungkapan dalam bahasa Arab, “Syubanu al-yaum rijalu al-ghaddi”, pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang.
Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini.

Di masa lalu, banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat. Karena itu, khilafah memberikan perhatian besar pada generasi muda ini.
Islam melalui Khilafah mampu mencetak generasi tangguh yang akan melanjutkan peradaban Islam dengan ber-syakshiyah Islamiyah, yakni mereka yang menghiasi dirinya dengan kepribadian Islam.

Ketika berpikir, mereka menjadikan Islam sebagai patokan sehingga memutuskan hukum segala sesuatu halal atau haram semata berdasarkan penilaian Islam. Ketika memenuhi tuntutan naluri serta kebutuhan jasmaninya, mereka pun menstandarkannya dengan syariat Islam. Akan tampak dalam perilakunya yang senantiasa menyesuaikan tuntunan syariat.

Ini sejalan dengan tujuan pendidikan dalam Islam yakni untuk mencetak generasi bertakwa. Bukan hanya banyak menguasai ilmu dan pintar berteori, namun pengetahuan yang dimilikinya akan membangun pemahaman yang tercermin dalam amalnya serta keimanan menjadi fondasi perbuatannya.

Tentu itu tidak bisa lahir begitu saja, apalagi dalam kehidupan yang didominasi ideologi yang tidak bersenyawa dengan Islam.
Terlaksananya pendidikan yang baik dan berkualitas ini membutuhkan kehadiran negara sebagai penanggung jawab. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR al-Bukhari).

Semuanya ini memang membutuhkan negara dengan sistemnya yang luar biasa. Sejarah keemasan yang melahirkan generasi unggul seperti ini pun hanya pernah terjadi dalam sistem Islam melalui institusi Khilafah, bukan Kapitalisme apalagi Komunisme. Wallaahu’alam bi ash-shawab. (*)

Penulis: Kiki Nurmala Maha Putri. S.Si. (Aktivis Muslimah)