OPINI – Akhir-akhir ini umat manusia dibuat menjadi tidak berdaya dengan kehadiran organisme kecil yang tak kasat mata, dalam ilmu medis dikenal dengan nama Novel Coronavirus (2019-nCoV), selanjutnya World Health Organization memberi nama virus baru tersebut Severa acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dengan nama penyakitnya disebut Coronavirus disease 2019 (COVID-19).

Sampai tulisan ini ditulis tercatatat kasus positf di indonesia sudah mencapai 28,818 kasus dan sebanyak 1721 meninggal dunia sedangkan untuk skala global angka kematian akibat pandemi Covid-19 ni mencapai 391.179 dengan kasus positif menyentuh angka 6,635.004.

Inilah yang pemicu membuat masyarakat dalam skala global dan khususya Indonesia mengalami kecemasan berlebihan sampai dengan mengalami gejala psikomatik. Kondisi ketika pikiran mempengaruhi tubuh hingga memicu munculnya keluhan fisik tanpa adannya penyakit.

Tulisan ini akan membahas bahwa ada hal yang sebenarnya lebih berbahaya dibanding Covid-19 dan sebagai akar permasalahan dari yang dihadapi masyarakat saat ini diantaranya kemiskinan, ketimpangan, dan eksploitasi tenaga kerja.

Tetapi anehnya respon masyarakat terkesan tak peduli bahkan melanggengkannya. Yang saya maksud yaitu sistem ekonomi politik kapitalisme atau suatu sistem mode produksi dimana ada kelas yang memiliki kepemilikan sepenuhnya akan sarana produksi yang disebut dengan kelas borjuis.

Dan memiliki kepentingan berbeda bahkan bertentangan dengan kelas yang lain yaitu kelas proletariat dimaknai sebagai kelas yang tidak memiliki apa-apa selain dari tenaga kerjanya sendiri atau Marx menyebutnya sebagai kapital variabel.

Penulis bisa berkesimpulan seperti itu selain karena dengan melihat akar historisnya dan dampak yang ditimbulkannya bersifat struktural.

Dalam historinys tercatat sistem dengan mode produksi kapitalisme industri dominan sudah ada sejak akhir abad ke-17 di Inggris, Spanyol, Portugal, Belanda, dan Prancis.

Khusus di Inggris mode produksi ini dipadukan secara sistem dengan agenda-agenda lain yaitu didalam sistem kolonial, sistem hutang negara, sistem perpajakan, dan sistem proteksi.

Penting juga diketahui bahwa itu dilakukan dengan mempergunakan kekuasaan Negara. Selain itu sistem dengan mode produksi ini sebagai tujuan utamanya adalah keuntungan, juga erat kaitannya dengan pemisahan antara pemilik tanahnya dan objek tanah itu sendiri atau yang disebut dengan akumulasi primitif.

Inilah salah satu asal usul perubahan sistem feodalistik ke corak produksi kapitalisme, dan Indonesia-pun mengalaminya yang mayoritas terjadi di desa-desa dalam konteks saat ini.

Penting diingat bahwa adanya Imperialisme juga berhubungan erat dengan sistem produksi kapitalistik yang ingin mengekspansi wilayah geografis dengan mengambil hasil-hasil sumber daya alam dan juga untuk agar hasil komoditas industri bisa dijual di negara-negara yang diambil sumber daya alam neraga tersebut.

Hal yang sama juga pernah terjadi di Indonesia dan bertahan sampai saat ini dalam wajah barunya neoliberalisme.

Secara historikal berarti mode produksi ini sudah bertahan lebih dari 300 tahun dengan menyebabkan segala konsekuensinya dampak paling terlihat di permukaan yaitu, kemiskinan yang membuat banyaknya kasus-kasus bunuh diri terjadi.

Sebagai akibatnya dari banyaknya pengangguran, karena sulitnya mencari pekerjaan atau terkena pemutusan hubungan kerja ditambah masifnya pengembangan teknologi dan sialnya teknologi itu dimiliki oleh kapitalis atau pemilik sarana produksi.

Bayangkan saja sudah berapa banyak kasus kematian, pengangguran, dan Tanah yang diambil yang terjadi akibat corak produksi kapitalistik ini, belum lagi baru-baru ini kasus penangkapan aktivis Fitro, Alvian, dan Saka oleh Polres Malang Kota, bahkan polisi menyebut bahwa ketiganya memiliki kekecawaan terhadap sistem kapitalis dan membuat coretan “Tegalrejo Melawan”.

Diketahui salah satu korban Fitron adalah jurnalis pers mahasiswa yang sering meliput perjuangan warga menolak tambang emas di Gunung Tumpang Pitu dan Salakan juga kampanya Save Lakardowo karena pembuangan limbah berbahaya oleh PT. PRIA di Mojokerto.

Atas gagasan itulah menurut saya masyarakat umum hari-hari ini menganggap bahwa sistem kapitalisme dengan corak produksi berbasis pada relasi upahan dan juga dampak-dampak yang sudah disebutkan diatas adalah sesuatu hal yang baik-baik saja dalam penilaian mayoritas mayarakat.

Dengan argumentasi khas pemuka agama bahwa dampak-dampak yang terjadi saat ini yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme seperti perburuhan, kemiskinan, perubahan iklim yang tidak menentu dan kesenjangan sosial lainnya adalah murni pemberian Tuhan atau takdir Tuhan atau argumentasi lainnya bahwa dampak itu terjadi karena kesalahan pada individu-nya yang malas bekerja.

Seakan-seakan permasalahan ini bukan permasalahan struktural yang sebagai sebab utamanya adalah sistem kapitalisme yang dinillai menjadi dasar dari segala permasalahan, termasuk wabah pandemi Covid-19 ini.

Menurut peneliti mikrobiologi dari LIPI, Sugiyono Saputra, PhD, mengatakan bahwa sebagaian besar penyakit timbul karena masalah lingkungan.

Kemudian, 60 persen penyakit infeksi merupakan penyakit zoonosis atau berasal dari hewan dan lebih dari dua per tiga verasala dari satwa liar dan terkait Covid-19 untuk sementara waktu masih dikatakan terjadi karena disebabkan dari kelelawar dan atau trenggiling, yang merupakan salah satu komoditas yang diperjualbelikan secara ilegal dan menjadi obat sehingga berkontribusi pada tumpahnya virus ke populasi manusia.

Selaras dengan yang dikatakan Matt Huber yang mengafirmasi pendapat Rob Wallace bahwa penularan virus berakal dari ulah manusia menebang habis hutan liar dan menjadi reservoir virus itu sendiri, lalu menggantikannya dengan ekologi perkebunan homogen seperti minyak sawit dan operasi ternak dari hewan yang berkerumunan bersama.

Atas dasar pembahasan diatas, sangat anomali sepatutnya ketika masyarakat mengalami ketakutan berlebihan akan Covid-19 atau gelaja psikomatik, tetapi disisi yang lain terus melakukan kegiatan-kegiatan yang melanggengkan sistem kapitalisme. (*)

Penulis: Muhammad Ifan Fadillah (Himpunan Mahasiswa Islam dan Penulis aktif di Komunal Nokturnal)
*Artikel juga diterbitkan pada laman idenera.com