OPINI – Peringatan hari kanker ovarium sedunia, pada setiap 16 Mei selalu di rayakan namun dimasa pandemi Corona ini adalah tantangan yang berat bagi pasien kanker ovarium dan penyakit non Covid lainnya.

Wakil ketua MPR RI, Lestari Murdijat dalam detik news, meminta kepada pemerintah tetap menjamin ketersediaan obat dan akses untuk berobat tidak terganggu bagi penderita non COVID-19.

Menurut American Cancer Society, diperkirakan sekitar setengah dari populasi wanita berusia di atas 63 tahun di Amerika Serikat didiagnosa kanker ovarium.

Kanker ovarium adalah penyebab kematian nomor lima pada wanita, dan data menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1.79 per 1000 penduduk, naik dari tahun 2013 sebanyak 1.4 per 1000 penduduk.

Berdamai Covid-19: Tantangan Bagi Pasien Kanker Ovarium
Nurlina Subair (Survivor CA dan Ketua Makassar Cancer Care Community)

Apakah itu kanker ovarium?

Kanker ovarium yaitu kanker yang tumbuh dan berkembang pada ovarium atau indung telur, yaitu dua organ yang berada di sisi kanan dan kiri rahim.

Kanker ini bisa terjadi pada wanita berusia menengah maupun wanita yang telah lanjut.

Hingga saat ini, dokter tidak memiliki kesimpulan pasti untuk masalah ini.

Secara umum, kanker biasanya terjadi dikarenakan adan perubahan gen pada tubuh seseorang yang menyebabkan sel-sel normal berkembang menjadi sel-sel kanker.

Kemudian, sel-sel tersebut akan menduplikasi diri dan membuat tumor. Selain itu, sel-sel ini juga menyerang sel-sel sekitarnya dan menyebar ke organ lainnya.

Beberapa gejala yang umumnya dialami oleh pengidap kanker ovarium, meliputi: perut selalu terasa kembung, pembengkakan pada perut, sakit perut.

Perubahan pada kebiasaan buang air besar, misalnya konstipasi (sulit buang air besar), frekuensi buang air kecil yang meningkat, sakit saat berhubungan intim.

Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menegakkan diagnosa, meliputi USG abdomen, pemeriksaan darah CA 125, ataupun biopsi.

Pengobatan kanker ovarium biasa melalui operasi meliputi pengangkatan kedua ovarium, tuba falopi, rahim, dan omentum (jaringan lemak dalam perut).

Operasi ini juga bisa melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening pada panggul dan rongga perut untuk mencegah dan mencari tahu jika ada penyebaran kanker.

Dengan pengangkatan kedua ovarium dan rahim, pengidap tidak lagi dapat memiliki keturunan.

Namun, lain halnya dengan kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium dini. Pengidapnya mungkin hanya akan menjalani operasi pengangkatan salah satu ovarium dan tuba falopi, sehingga kemungkinan untuk memiliki keturunan masih ada.

Kemoterapi dapat dijadwalkan setelah operasi. Ini dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa.

Radioterapi merupakan tindakan lain yang bisa menjadi alternatif. Dalam radioterapi, sel-sel kanker dibunuh menggunakan radiasi dari sinar X.

Oleh karena itu karena untuk kanker ovarium stadium dini menurut, Dr.dr Brahmana Askandar,,Spog (k)) di portal Tempo.co.Jakarta ) dalam masa pandemi masih ada peluang untuk menunda pengobatan.

Selama pandemi dengan langkah menunda pengobatan hanya boleh diambil jika sudah mempertimbangkan berbagai faktor.

Mengapa, sementara itu, kanker ovarium stadium lanjut tidak bisa mengambil opsi menunda pengobatan.

Dia menjelaskan beberapa jenis pengobatan harus dipertimbangkan bagi pasien kanker ovarium, misalnya pemberian kemoterapi neoajuvan. Selain itu, kemoterapi neoajuvan juga dapat diberikan sampai 6 siklus. (*)

Penulis: Nurlina Subair (Survivor CA dan Ketua Makassar Cancer Care Community)